Kuliah di Australia: Nggak Seindah Postingan Instagram!


Halo, halo! I’m back! Hahaha... Udah lama banget ya sejak gue posting artikel di blog ini. Sejak pindah ke Melbourne 6 bulan lalu, waktu luang menjadi sebuah kemewahan buat gue. Dengan tuntutan berstandar tinggi dari LPDP dan perkuliahan yang menggugah jiwa, meremukkan raga dan menguras segala tenaga (ciyus no lebay), gue kesulitan untuk rutin posting artikel di blog ini.

Syahdan, seminggu lalu gue dapat email reminder dari IDWebhost, provider hosting gue, yang mengingatkan gue bahwa domain LandofFab.com ini udah mendekati masa expire. Whaaattt? Udah setahun aja? Memang benar, setahun itu ternyata cepat banget loh gengs. Namun apa mau dikata, LandofFab udah lumayan established di per-Google-an, jadilah gue extend domain ini untuk satu tahun lagi, disertai tekad bulat untuk rajin-rajin update. Ray juga sibuk dengan ujian profesi dokter gigi-nya – we wish him the best for his future – jadi fix vakum buat ngisi artikel sampai jangka waktu yang entah kapan!

Oke, kali ini gue bakal update lanjutan kisah gue di Melbourne, Australia. By the way, in case kalian wonder, saat ini gue lagi di Indonesia buat menikmati liburan bareng keluarga, sekaligus kabur dari terik musim panas Melbourne yang panasnya uhlala badai. Saking panasnya, cucian bisa kering dalam 10 menit only digantung di luar sodarah-sodarah... kebayang kan gimana? Hehehe...

Ada beberapa hal yang udah gue expect soal kuliah di Melbourne, salah satunya adalah soal sistem belajar-mengajarnya. Salah satu keuntungan utama kuliah desain adalah, jurusan ini punya komposisi praktek yang besar, malah bisa dibilang, 80% konten kelas-nya adalah praktek. Dari 3 mata kuliah yang gue ambil semester 1 ini, hanya ada 1 yang teori, dan itupun ujung-ujungnya diminta bikin prototype buat tugas akhir – praktek juga.

Hal-hal di luar ekspektasi gue adalah cuacanya yang bener-bener menguji stamina dan environment-nya yang bikin gue berpikir, “Eh, kok gini yah?” Biar lebih enak bacanya, gue bahas semuanya dalam poin-poin aja yaa...

1.       Apa yang Anda pikirkan, ketika melihat foto ini?
Pasti langsung kebayang suasana kota metropolitan ala-ala Western yang sering kita liat di Instagram. Memang keren sih kalo bisa foto-foto disini. Level eksis pasti bakal meningkat di sosmed, disusul komentar-komentar pujian (dan celaan juga) macam, “Wah keren ya kak di Aussie!” atau “Pengen deh kapan-kapan ke Aussie!”

Melbourne: Riverbank

Tram adalah salah satu transportasi umum di Melbourne

Sungai Yarra yang membelah bagian City di Melbourne
State Library of Victoria, salah satu tempat
must-visit kalo mampir ke Melbourne

Sorry to break this vision, guys... Karena seperti motto Chitato, life is never flat, so is Melbourne (loh? LOL). Iya bener, penampakan keren seperti ini cuma bisa dijumpai di pusat kota Melbourne, yang dikenal dengan sebutan City. Banyak gedung-gedung keren Instagrammable disini, dan lo bisa ngira ini di New York or London (secara mirip). Tapiii... unless lo adalah mahasiswa University of Melbourne atau RMIT yang kampusnya bener-bener di pusat kota, ini bukanlah pemandangan yang lo jumpai setiap hari. Kalau lo anak Monash, kampus-kampusnya terletak di daerah pinggir (suburb) seperti Clayton, Caulfield (kampus gue), Parkville dan Berwick (yang in the middle of padang rumput somewhere over the rainbow...) Monash juga punya satu kampus di daerah City, di Alfred Hospital, khusus buat jurusan Public Health. Dari daerah-daerah ini, perjalanan ke City lumayan jauh, bisa 20 menit – 1 jam, dan buat gue pribadi, ga ada waktu buat sering-sering main ke City.

Lah, emangnya daerah suburb ini nggak keren? Bayangin suatu kompleks perumahan – kalo lo di daerah Jabodetabek, macam Alam Sutera atau Kelapa Gading, minus mall-mallnya. Ditambah lagi, rumah-rumahnya banyak yang dari bata merah dan kelihatan tua... Nah seperti itulah kondisi suburb. Keren? Biasa aja.


2. Mau memperlancar English? Lebih gampang ngobrol sama burung!
Yes, ini salah satu keanehan Melbourne yang sampai sekarang gue masih suka geli sendiri. Di Clayton tempat gue tinggal, lebih gampang ketemu burung dan satwa liar lainnya dibanding orang-orang! Daerah disini sepiiiiiiiiiii banget, dalam sehari bisa nggak ada satu orang pun yang lewat di depan rumah lo! Dan kesepian ini (baper) berlangsung berhari-hari, dari pagi sampai malam sampai pagi lagi.
Melbourne sangat asri untuk ukuran kota metropolitan, terutama
di bagian suburb-nya. Kamu bakal sering ketemu satwa liar kayak
berjenis-jenis burung, tupai, dan serangga.

Trotoar yang lumayan sepi

Terus orang-orangnya kemana? Yang pasti bukannya mereka bisa ber-Apparate (so Harry Potter-ish). Kebanyakan kerja di City dan suburbs tetangga, atau kuliah, pulang udah menjelang malam dan, ditambah kultur orang Melbourne yang minding their own business, lo bakal jarang ngeliat orang-orang di jalan-jalan kayak di Indonesia. Sebagian besar langsung pulang ke rumah masing-masing atau makan ke luar.

3.       Yang hobi nge-mall, you’re gonna love this!
Chadstone
Di Indonesia, mall adalah sesuatu yang common banget sekaligus hits – mall itu ibarat embun sejuk ditengah kering kerontang-nya summer Melbourne (halah! Hahaha). Buat kalian yang masih di Indonesia, bersyukurlah karena ada banyak mall di Indonesia. Apalagi yang di Jakarta, kayaknya nggak pernah kehabisan mall untuk dipilih.

Beda dengan Melbourne. Mall cuma ada segelintir aja, bahkan dari perhitungan gue, kurang dari 5! Mungkin karena Melbournians lebih doyan ngopi-ngopi syanthiek di cafe-cafe instead of nge-mall. Ada banyak toko retail macam Kmart atau Coles (semacam Hypermart atau Transmart gitu), tapi mall bener-bener jarang. Ada satu mall paling hits di Melbourne yang kayaknya sangat dibangga-banggain sama Melbournians karena digadang-gadang sebagai mall tergede di belahan bumi Selatan: Chadstone The Fashion Capital (atau biasa disingkat Chadstone aja or Chaddie) – tapi setelah gue jabanin, rasanya BIASA AJA! Mall ini cuma tiga level termasuk basement, gue bahkan merasa Grand Indonesia yang bertingkat-tingkat itu atau Mall Kelapa Gading yang berseri itu jauuuuhh lebih gede.

Oh ya, satu lagi nih... Mall di Melbourne tutup jam 5 sore. Yes, JAM LIMA SORE, pas orang-orang baru keluar kantor dan pengen nge-mall. Di hari Kamis, Jumat sama apa gitu, mall ini buka sampai jam 9, sisanya, sampe jam 5 aja.

4.       Tenang, lo nggak nyasar di Hongkong!
Ini adalah hal pertama yang gue rasakan ketika mendarat di Melbourne. Gue nggak nyasar di Hongkong kan?

Bukannya gue rasis dan bukan juga gue pernah ke Hongkong, tapi di Melbourne ada banyak banget orang Asia, salah satunya dari Tiongkok. Bahkan mayoritas mahasiswa di Monash adalah mahasiswa Tiongkok, disusul mahasiswa dari India. Lo bakal lebih sering dengar bahasa Mandarin ketimbang English. Bahkan ada satu suburb, Springvale, yang disebut Asian CIty karena mayoritas penghuninya adalah orang Asia. Terus dimana bule-nya? Dari pengamatan gue, mereka kebanyakan bermukim di City.

Sisi baiknya, kita nggak berasa roaming banget disini. Misalnya soal masakan, bumbu-bumbu dan makanan ala Indonesia gampang dicari (tapi dengan harga dalam Australian dollar). Terus, kita juga bisa belajar Mandarin! Karena 90% teman-teman kelas gue adalah mahasiswa Tiongkok, gue mulai catch-up beberapa kalimat dan kosa kata yang sering mereka pakai, macam tu shu guan (perpustakaan), ni yao qu na li? (lo mau kemana), wo yao hui jia (gua mo balik rumah), wo mei you (gue ga mau), shen me? (kenapa?), lao shi (guru), zuo ye hao duo (banyak PR nih), dst... Hahaha. Jadi pas balik dari Melbourne, kita bisa 2 bahasa internasional sekaligus: English dan Mandarin. Keren kan?

(Dari kiri ke kanan) Jia, me, Arline dan Yang. Jia dan Yang termasuk yang rajin
kasih gue les privat Mandarin :)

Me, Mbak Elfri (sesama anak LPDP),
 Thanh Thanh & Kevin, dua-duanya dari Vietnam.

5.      
Tertohok oleh perbedaan tiga nol
Kayaknya nggak afdol kalo ngebahas kuliah di luar negeri kalo nggak nyinggung soal kurs. Seperti yang kita tahu, 1 Australian Dollar (AUD) itu sekitar 10.000 – 10.500 rupiah (IDR). Nah, perbedaan tiga nol ini sangat besaaarrr dampaknya, sodara-sodara. Nggak percaya? Coba lo tukerin 20 juta rupiah ke AUD: dari dua gepok rupiah cuma jadi beberapa lembar dollar aja (pengalaman pribadi). Ngenes kan?

Australia dikenal sebagai negara mahal – tapi sebenarnya, harganya tergolong wajar-wajar aja, untuk standar Australia (pun intended. LOL). Sebagian barang disini harganya dua kali lipat harga di Indonesia. Everything here is costly! Ada yang bilang kalo mau hidup damai di Australia, nggak perlu ngebanding-bandingin harga dengan di Indonesia, tapi jujur perilaku ini tak terhindarkan bagi gue. Setiap kali belanja, gue mau nggak mau teringat harga barang yang sama di Indonesia, dan keluarlah kere mode-on gue ngelihat price-tag nya. “Gileee mahal bener! This is robbery!” Di artikel berikutnya, gue tertarik untuk bahas “Tips dan trik berhemat di Australia!” Kalau tertarik komen di bawah yaaa... :)
Urusan gizi, Australia jagonya.
Susu asli harganya cuma 1 AUD / liter (Rp10.000,-)
Roti, daging sapi dan ayam juga termasuk murah disini.

Seporsi "Nasi Kuning" + Ayam Lalapan + Es Teh Lipton ini harganya 14 AUD di Nando's.
Mau yang lebih murah? Masak sendiri jawabannya.


Sisi positifnya, kalau kita bisa nabung di Australia, kita bisa punya simpanan yang lumayan pas balik ke Indonesia tadi. Kok bisa? Ya itu, karena perbedaan tiga nol tadi :)


6.       Keren deh bisa tinggal di negara empat musim! (Think again!)
Karena letak Australia yang menyendiri di belahan Bumi Selatan, tetanggaan sama Kutub Selatan, negara-benua ini punya 4 musim. “Waahhh keren dong kak? Bisa liat daun-daun jatuh berguguran pas musim gugur, atau bunga-bunga bermekaran pas musim semi? Ada saljunya dong?”

Oke, first thing first, winter in Australia is not snowy. Ga ada salju pas winter disini, kecuali kalau kita main ke Mount Buller, salah satu puncak tertinggi di Melbourne. So, buat kalian yang ke Australia buat nyari salju, mending cek negeri sebelah, hehehe... Kedua, empat musim itu NGGAK ENAK, apalagi buat kita yang biasa tinggal di negara tropis.

Winter di Melbourne nggak pake salju-saljuan.
Tapi cukup bikin menggigil. Suhu rata-rata 6-11 derajat Celcius.

Cherry Tree alias Pohon Sakura
yang mulai berbunga lagi pas musim semi.
Gue pertama kali mendarat di Australia pas Juli 2017 kemarin, di tengah-tengah musim dingin, dan pas lagi paling dingin-dinginnya (oke, berantakan banget frasa-nya LOL, tapi intinya adalah IT WAS REALLY COLD). Banyak yang harus dipersiapkan, misalnya long john, jaket tebal, kupluk, syal, selimut pemanas, pemanas ruangan (heater), sepatu bot, sarung tangan, sampai pelembab. Ah, gitu aja kok repot... Kan tinggal beli? Memang, semua peralatan ini bisa dibeli, tapi kalau dananya terbatas karena kita anak beasiswa, mau nggak mau harus cerdas memilih mana yang wajib beli baru / seken atau mengemis minta lungsuran dari sesama anak beasiswa yang udah mau BFG (bukan Big Foot Giant, tapi Back For Good aka Pulang Kampung!).

Terus ke Spring, musim semi. Banyak bunga-bunga cantik bermekaran. Lo berasa kayak Alice di Wonderland. Woowww, so emejing! Kalau lo bunga, mungkin ini adalah the best time of the year for you, tapi kalau lo orang, pasti lo bakal kebingungan – mau pakai apa hari ini? Apalagi Melbourne yang terkenal dengan 4 musim dalam sehari, lo bisa aja berangkat pakai sweter dan long john tebal tapi tiba-tiba cuacanya panas banget dan lo malah kepanasan. Triknya adalah layering, pakai busana berapa lapis, jadi kalau cuacanya tiba-tiba menghangat, kita bisa lepas pakaian itu layer demi layer... (apaan coba, hahaha).
Kalo "mood"-nya lagi oke, Melbourne
sebenarnya asik banget. Kayak New York ya?

Terus masuk musim panas. Ini nggak usah dibahas lah ya. Intinya sangat panas. Dan bukan panas lembab macam Jakarta, tapi panas kering. Dampaknya kulit jadi rusak – pengalaman pribadi, kulit gue berguguran bak tentara kalah perang di karpet kamar dan jadi bersisik, pokoknya sedih banget deh (makanya gue kabur ke Indonesia sekarang, hahaha). Soal musim gugur, gue belum bisa bahas, karena belum merasakan, tapi kata orang-orang it’s the best season, so we’ll see next year :)

Meski tergolong suka moody, cuaca di Melbourne masih terbilang oke buat orang Indonesia karena nggak ekstrim banget sampai bersalju tebal atau badai.



7.       Butuh sesuatu pas tengah malam? Ke Indomart aja! (You wish!)
Kita nggak pernah merasakan makna sesuatu sampai kehilangan mereka. Gue nggak lagi ngomongin mantan yang bikin baper, tapi Indomart dan Alfamart dan mart-mart lainnya yang menjamur di Indonesia.

Meski kadang posisi Indomart dan Alfamart yang bikin dahi berkerut (sebelah-sebelahan, hadep-hadepan, atas-bawah, diagonal, triangular...), tapi harus kita akui bahwa keberadaan mereka sangat membantu banget kalau kita butuh sesuatu macam pengen beli minum, isi pulsa atau narik ATM dan lagi berhalangan ke supermarket. Sayangnya, franchise mereka belum masuk ke Melbourne, hehe... Akibatnya, kita nggak bisa beli “kecil-kecilan”, semua harus dibeli sekaligus ke supermarket macam Coles, Aldi atau Woolsworth yang letaknya di Shopping Center – sebuah daerah yang jadi pusat pertokoan yang ada di setiap suburb. Yang bikin nggak enak lagi, letak Shopping Center ini suka jauh dari tempat tinggal kita, dan harus naik bus. Transportasi publik di Melbourne lumayan nyaman, tapi bukan itu masalahnya. Kebayang nggak kelaperan malam-malam waktu winter, stok makanan kosong dan harus pergi keluar buat makan pas suhunya empat derajat Celcius?
Masak itu adalah surviving skill yang bakal kepake banget di Melbourne.
Kalo kamu mau hidup sehat, banyak bahan makanan organik yang nggak
bisa ditemuin di Indonesia disini, dan harganya terjangkau :)

Nyetok makanan itu wajib, karena nggak ada abang nasi goreng tek-tek
yang suka lewat di depan rumah, hehehe. Nggak perlu khawatir,
Indomie ada kok di Melbourne :)

Satu hal lagi yang nggak ada di Melbourne yaitu jasa delivery makanan seperti Go-Food. Uber Eats sendiri baru booming di Melbourne akhir-akhir ini dan harga delivery-nya lumayan, yang mana jadi mubazir kalo kita mau pesan makanan yang harganya nggak seberapa. Beberapa restoran seperti Domino’s Pizza punya opsi delivery, tapi ya itu, kadang ongkosnya bisa lebih mahal dari harga makanannya :)



Woohoo, cukup panjang ya buat comeback article! Mudah-mudahan artikel ini bisa bermanfaat buat kalian yang berencana lanjut kuliah, kerja atau pindah permanen ke Melbourne. Kota ini bisa dijuluki kota pelajar, karena banyak banget mahasiswa internasional yang kuliah disini. Kalau tujuan kita kemari untuk belajar, Melbourne adalah pilihan yang tepat.

Setelah tinggal setengah tahun di Melbourne, gue jadi sadar betapa ENAKNYA Indonesia ini. Serius. Cuacanya menyenangkan karena cuma punya 2 musim, dan nggak ekstrim, sangat nyaman buat tubuh. Barang-barang disini harganya terjangkau sekaliii... Nggak nemu barang yang murah? Tenang, kan ada Shopee, Tokopedia, Lazada, Blibli, Bukalapak, OLX dkk (eh, kok jadi promo hahaha), yang menyediakan semua kebutuhan kita dengan harga bersaing dan siap nganterin sampai di depan rumah.

Kalau laper, banyak abang-abang jualan yang suka lewat di depan rumah, mulai dari nasi goreng tek-tek, ketoprak, kupat sayur, bakpao, kembang tahu, batagor, siomay, es buah, macem-macem. Ada juga Go-Food yang bisa delivery makanan favorit kita, dan harganya terjangkau. Nggak cuma makanan, orang-orang Indonesia pun relatif lebih sosial dan less individualist dibanding Melbourne, bikin orang-orang yang hobi gaul macam gue merasa sangat nyaman. Unless kamu memang tipe loner yang suka menyendiri, Melbourne layak dicoba. Bagaimanapun, kota ini menyabet predikat "The Most Livable City in The World" (Kota Paling Layak Huni di Dunia) selama beberapa tahun berturut-turut lho!

Mau nge-mall? Pilihan banyak, satu mall penuh, kita bisa pindah ke mall lain, tinggal naik ojek online, hahaha. Dan nggak perlu takut mall tutup, karena semua mall di Indonesia tutup jam sepuluh malam. Perlu apa lagi coba?

Australia is good, but INDONESIA IS STILL THE BEST for me.




Postingan populer dari blog ini

SOSIAL MEDIA: Twitter Hashtags dan Artinya

Oh, jadi kamu orang Manado? (Dan makna di balik pertanyaan itu...)

Alasan kenapa gue memilih melanjutkan kuliah ke Australia…