#KapalApiPunyaCerita: Dari Nusantara hingga Australia - Tetap Yang Paling Enak!

Sesuai jargonnya, kopi Kapal Api memang “Jelas Lebih Enak”. Bahkan tak berlebihan jika saya menyebutnya yang paling enak. Keluarga kami sudah tiga generasi berhubungan mesra dengan kopi Kapal Api, dan semua itu dimulai dari nenek saya (Oma). Sebagai wanita yang bekerja keras sejak muda, Oma gemar minum kopi, selain sebagai mood booster, Oma juga sering menikmati kopi sebagai teman di waktu senggang. Kebiasaan itu terus menurun ke ibu saya dan kakak-adiknya, lalu saya dan para sepupu. Karena Oma, kami hanya setia dengan satu merek kopi selama beberapa dekade: Kapal Api.

Bukannya kami tak pernah iseng mencicipi merek kopi lain. Sewaktu tinggal di rumah Om saya yang suka berpetualang di Jakarta, beliau sering membawa pulang jenis kopi lain untuk dicoba. Salah satunya adalah kopi khas daerah yang kental dengan nuansa etnik-nya, mulai dari kemasan pembungkusnya yang didesain minimalis ala zaman now sampai teks di belakang kemasan yang pakai beberapa bahasa asing sekaligus. Om saya sempat membeli beberapa bungkus, namun akhirnya malah menghadiahi kopi-kopi tersebut buat koleganya karena alasan “kurang menggigit”.

“Aroma-nya beda, Do...” kata Om saya. “Kalau kopi Kapal Api, begitu diseduh aromanya langsung menguar nikmat kemana-mana. Wangi kopinya enak, terasa seperti kopi beneran... Rasanya juga pas, kopi banget...” Kopi Kapal Api sudah terbukti jelas lebih enak dan pas bagi keluarga kami.

Saya setuju dengan beliau. Aroma nikmat kopi Kapal Api yang diseduh dengan air panas di pagi hari seolah sudah menjadi alarm di rumah keluarga kami, menandakan bahwa kami sudah siap beraktivitas. Rasanya ada yang hilang jika tidak mencium aroma kopi Kapal Api di pagi hari.


Kopi Kapal Api adalah produk wajib
yang tak pernah absen di meja makan keluarga kami.
Saking cintanya kami pada Kapal Api, kami tak pernah
membeli secara eceran, selalu lusinan :)


Di rumah kami di Manado, ibu saya (Mami) juga punya cerita serupa. Beberapa waktu lalu, Mami sempat keranjingan mencoba kopi sachet yang sudah ada gula dan krim-nya dan kopi lain yang digadang-gadang aman untuk perut. Iseng coba-coba, kata Mami. Yang terjadi kemudian, Mami malah beberapa kali bolak-balik ke kamar kecil karena perutnya bergejolak akibat minum si kopi sachet. Ditambah sendawa terus-menerus dan sensasi megah (kembung) diperutnya, Mami akhirnya kapok pindah ke lain hati. “Padahal di iklannya digembar-gembor nggak bikin kembung,” protes Mami agak sebal. “Perselingkuhan” Mami dengan si kopi sachet-pun berakhir, beliau kembali ke kopi Kapal Api yang sudah terbukti cocok dengan perutnya. Sekali lagi, kopi Kapal Api tak hanya menjadi kopi yang jelas lebih enak bagi keluarga kami, tapi paling bersahabat dengan perut.

Pagi-pagi ngopi Kapal Api bareng si Mami
#2GenerasiCintaKapalApi


Kebiasaan minum kopi Kapal Api ini juga menurun pada saya, padahal sebetulnya saya tidak pernah minum kopi. Dulu, saya memilih teh meski setiap hari menyaksikan anggota keluarga minum kopi. Namun saat mengikuti program penurunan berat badan, saya memutuskan untuk mengonsumsi kopi sebagai pengganti suplemen fat burner yang berbahan kimia dan lumayan mahal itu. Back to nature, begitu pikir saya. Pilihan saya sudah jelas: Kopi Kapal Api! Meski bagi sebagian besar orang terasa aneh, saya memilih minum kopi Kapal Api polos, tanpa campuran gula, krim atau susu. Awalnya terasa janggal di lidah, namun lama-kelamaan saya jadi menikmati rasa pahitnya. Terasa kopi banget, seperti kata Om saya.

Setelah mencapai berat ideal, saya malah ketagihan! Saya jadi paham mengapa keluarga saya begitu cinta dengan kopi Kapal Api – ini betul-betul kopi sejati. Sama seperti yang dirasakan Oma bertahun-tahun silam, kopi Kapal Api sukses menjadi penyemangat pagi saya. Selain itu, harganya juga terjangkau dan mudah ditemukan dimana-mana (jarang langka di pasaran), membuat saya dan keluarga makin lengket dengan kopi Kapal Api

Masalah muncul saat saya mendapat beasiswa untuk studi Master di Melbourne bulan Juli lalu. Saya kebingungan, bagaimana jika tak ada kopi yang senikmat kopi Kapal Api di Melbourne? Tak terbayang rasanya menjalani hari-hari berat perkuliahan tanpa menyesap secangkir Kapal Api si semangat pagi. Ditambah lagi cerita seorang rekan mahasiswa yang sampai mengalami heart palpitation (semacam peningkatan detak jantung abnormal) gara-gara mengonsumsi secangkir kopi lokal Melbourne, saya jadi tambah ngeri. Sebagai jaga-jaga, saya membawa empat bungkus kopi Kapal Api sekaligus saat berangkat ke Melbourne.


Minum kopi menjadi salah satu budaya yang lekat dengan
masyarakat Melbourne.


Sebagai salah satu kota gaul di Australia, Melbourne juga dikenal dengan budaya minum kopi. Banyak kafe bertebaran di setiap sudut Melbourne, menyajikan rupa-rupa jenis kopi. Di pagi hari, adalah pemandangan yang lumrah jika mendapati orang-orang wara-wiri sambil menenteng satu cup kopi. Di kampus saya, tempat sampah biasanya penuh dengan gelas-gelas kertas bekas kopi.

Saya tiba di Melbourne di saat yang menantang: musim dingin. Berpindah dari daerah tropis dengan kehangatan sinar matahari yang melimpah ke sebuah kota bersuhu mendekati titik beku untuk belajar bukanlah transisi yang mudah. Untungnya, kopi Kapal Api yang saya bawa dari Indonesia setia menghangatkan setiap pagi saya di musim dingin kala itu. Meski suhunya dingin menusuk kulit dan ingin rasanya bergelung seharian di bawah selimut tebal, secangkir kopi Kapal Api bisa menjadi mood booster saya untuk menjalani hari.

Setelah sebulan di Melbourne, saya pernah ditawari untuk pindah ke teh oleh beberapa teman. Kebiasaan minum teh ala Inggris memang lumayan mendarah daging bagi masyarakat Melbourne. Sama seperti kopi, ada banyak jenis teh di Melbourne mulai dari yang sudah saya kenal hingga teh-teh unik lainnya yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Upaya menjadi ke-“Inggris-inggris”-an ini juga akhirnya gagal karena teh yang dicampur susu malah membuat perut saya kembung. Ndeso, gurau seorang sahabat ibu yang sudah lama di Melbourne melihat saya yang tak henti bersendawa. Saya pun kembali ke selera “ndeso” saya, kopi.

Di Melbourne, saya tergoda untuk icip-icip kopi. Apalagi dengan banyaknya jenis-jenis kopi yang ada di ibukota provinsi Victoria itu, rasanya kurang afdol jika tinggal di Melbourne tanpa menjajal kopi-kopinya. Namun misi itu langsung gagal saat saya menyadari harga secangkir kopi di Melbourne yang tidak bersahabat buat kantong saya. Satu cup kecil latte bisa dibanderol seharga 8 dollar Australia (AUD)! Sebagai perbandingan, harga seporsi nasi dan dua lauk di sebuah restoran Indonesia di Melbourne harganya 10 AUD saja. Sebagai mahasiswa “kere” bermodal beasiswa, tentu saya lebih memilih menghabiskan uang tersebut untuk membeli makanan berat, hehehe...

Bukannya tak ada opsi kopi ekonomis lainnya. Di minimarket seperti 7-Eleven, dijual kopi seharga 1 AUD per porsi. Saya pernah sekali membeli kopi ini karena terpaksa dan langsung merasa tidak cocok dengan rasanya yang nyaris hambar dan kadar kafeinnya yang terlalu kuat.


Kopi seharga 1 AUD (Rp10.000) di 7-Eleven.
Harganya lumayan terjangkau, namun terasa asing di lidah.

Banyak vending machine di Melbourne
yang menjual kopi dalam kaleng. Harga sekaleng
sekitar 5 AUD dan rasanya terlalu manis bagi saya
yang gemar kopi pahit. 

Ketika stok kopi Kapal Api yang saya bawa dari Indonesia hampir habis, saya kebingungan. Ditambah lagi waktu itu mendekati minggu ujian dan saya harus sering terjaga sampai lewat tengah malam untuk menyelesaikan tugas. Saya butuh kopi! Maka saya mulai mencari-cari alternatif merek kopi lokal sebagai pengganti. Selain harganya yang betul-betul tidak bersahabat (bisa mencapai 18 AUD per bungkus – sekitar Rp180.000,-), pengalaman dengan si kopi satu dolar juga membuat saya pikir-pikir lagi. Sampai suatu ketika saya mengunjungi sebuah supermarket khusus produk-produk Asia (Asian store) dan menemukan kopi Kapal Api di rak khusus produk-produk Indonesia. Harganya sangat terjangkau, 3.99 AUD saja! Ooooh, rasanya seperti menemukan harta karun!


Si "harta karun". Kopi Kapal Api kemasan besar yang saya temukan
di rak sebuah Asian Store di Clayton, Melbourne.


Saking senangnya bertemu kopi Kapal Api di Melbourne, saya sampai memotretnya dan memberitahu keluarga di Indonesia. “Mi, aku ketemu kopi Kapal Api!” kata saya lewat telepon WhatsApp pada Mami. Meski jika dikonversikan ke Rupiah, harganya nyaris tiga kali lipat dengan harga di Indonesia, saya tetap memboyong pulang dua bungkus kopi favorit keluarga kami ini. Harganya memang tergolong ekonomis dibandingkan dengan harga kopi di Melbourne, namun kenikmatan Kapal Api sebagai produk kopi nasional Indonesia tetap tak terkalahkan. 

Melihat kebiasaan saya menikmati secangkir kopi Kapal Api polos setiap pagi, rekan serumah (housemate) saya sampai berkomentar: “You have an old soul, drinking black coffee like that!” (Kamu punya jiwa seperti orang tua, minum kopi hitam polos seperti itu!) Tak ayal, aroma harum kopi Kapal Api yang memenuhi rumah kos kami setiap pagi pun menjadi pertanda bahwa Joe is up (Joe sudah bangun), sama seperti rumah keluarga saya di Indonesia. Untuk kesekian kalinya, Kapal Api menjadi kopi yang jelas paling enak, paling nyaman untuk perut, paling harum dan paling terjangkau untuk saya :)

Inilah kisah saya dan keluarga dengan kopi Kapal Api. Kopi ini telah menjadi budaya pagi hari keluarga kami selama bertahun-tahun, suatu bagian yang tak terpisahkan, terus menghubungkan keluarga kami dari generasi ke generasi. Meski saat terpisah jarak ribuan kilometer jauhnya dari keluarga, setiap menikmati secangkir kopi Kapal Api di pagi hari, saya teringat keluarga saya di Indonesia yang juga sedang menikmati secangkir kopi pagi mereka dan merasa terhubung dengan mereka. Terima kasih kopi Kapal Api telah menyemangati kami dan ribuan keluarga Indonesia lainnya, bukan hanya di tanah air, tapi di negara-negara lain. Kopi Kapal Api – jelas lebih enak!


Kopi Kapal Api - Secangkir Semangat Pagi bagi keluarga kami!


Catatan: Saat ini saya sedang berada di Indonesia, untuk liburan musim panas. 

Postingan populer dari blog ini

SOSIAL MEDIA: Twitter Hashtags dan Artinya

Oh, jadi kamu orang Manado? (Dan makna di balik pertanyaan itu...)

Alasan kenapa gue memilih melanjutkan kuliah ke Australia…