Persiapan Keberangkatan (PK) Beasiswa LPDP: How bad do you want it?

Hello! Jojo is back!

Been a while ya sejak artikel terakhir tentang Rainy-Days Song itu. Dalam artikel kali ini gue akan membahas kelanjutan beasiswa LPDP yang gue terima beberapa waktu lalu.

Logo Persiapan Angkatan 104 Panji Candravasi

Setelah resmi dinyatakan sebagai awardee pada Desember 2016 lalu, gue menunggu cukup lama untuk stage berikutnya: yaitu Persiapan Keberangkatan (PK). Gue sendiri menerima email informasi tentang PK akhir Februari 2017 lalu, jadi gue menunggu sekitar dua bulan sampai dapat update itu.

Selama 2 bulan itu gue nggak tinggal diam. Gue ngirim 3 email ke PIC PK, Pak Kamil dan menanyakan perihal kejelasan jadwal PK. Alasannya yaitu kuliah gue yang bakal mulai Juli 2017 nanti, jadi gue nggak bisa di-"gantung" lama-lama, karena masih harus ngurus visa, nyari kos, dan berbagai PR lainnya yang butuh waktu, tenaga, kesabaran dan pastinya duit.

Siap-siap bangun jam 4 pagi pas PK!

Salah satu yang keren dari ikutan PK adalah kita bisa ketemu tokoh-tokoh
inspiratif contohnya para penulis ini, ada Anwar Fuadi (atas, penulis Negeri 5 Menara)
dan Butet Manurung (bawah, pendiri dan penulis Sokola Rimba)


Dalam email itu disebutkan kalau gue bakal diikutsertakan dalam PK angkatan keseratus empat (PK-104). Berbagai persiapan mulai dilakuin oleh teman-temang seangkatan gue, dan itu dimulai dari pembentukan grup WA. Daaan ketika lo menerima invitation untuk join di grup itu, pastikan lo siap secara mental. Kenapa? Karena:
  1.  Hp lo nggak bakal berhenti bunyi sejak lo join.  Lo bisa aja matiin notifikasi-nya, tapi lo bakal ketinggalan berita.
  2. It won't be just a single group. There will be more. Iya, apalagi setelah kepengurusan PK terbentuk, bakal muncul grup Divisi, grup Kelompok, dan rupa-rupa grup lainnya, dan lo nggak berdaya buat ngebendung invite dari chat-chat ini (WhatsApp, please enable a feature to reject automatic group invitation!) Anggota PK dalam angkatan berkisar antara 120-an orang, jadi bayangkan betapa heboh-nya grup-grup ini (I'm talking about 500 chats in a night). Apalagi kalo hp lo suka lowbatt atau lo tipe orang yang cuek, selamat, lo bisa bener-bener berasa so lost I'm faded within these group. *PS: I tried to escape from these group and guess what, they INVITED ME AGAIN. Mungkin satu-satunya solusi adalah ganti nomor, hahahaha *ketawa miris*
  3. There's Telegram too. Dan milis Google. Tergantung seberapa kekinian-nya anggota PK lo, kemungkinan bakal ada grup-grup lainnya setelah WA, semisal LINE, Instagram sampai Facebook. Yes, it was overwhelming. Gue sendiri cuma gabung di WA aja, karena to be honest, gue kewalahan buat keep up sama peredaran informasi disitu.


Gue pengen ngebuang hp gue pas awal-awal join di kehebohan ini, tapi nggak tega (baper). Nah, apa yang bisa lo lakuin buat keep up dengan info di grup-grup ini?
  1. Screenshot semua informasi penting. Ya, info yang ada di group bisa berseliweran ngalor-ngidul dan kejelasannya dipertanyakan. Tiba-tiba bisa ada awardee yang nyeletuk kalo tunjangan ini itu dicabut lah, anggaran LPDP kena pemangkasan APBN lah, sampai prediksi tanggal pelaksanaan PK yang keliatan ah-so-convincing dan ternyata nggak benar. Gue rugi tiket pesawat 400 ribu karena kemakan isu tanggal PK yang ternyata salah besar! Nah, screenshot bisa ngebantu lo buat nginget sekaligus update info-info penting ini. 
  2. Jangan percaya isu apapun yang diucapkan di grup oleh awardee lain selain Perwakilan (Ketua Angkatan atau Wakil Ketua). Gue nggak ngajarin suudzon ya. Tiba-tiba aja bisa ada yang copy paste info entah dari group mana dan mengatasnamakan PIC PK atau pengurus LPDP lainnya.
  3. Niatnya mungkin baik, buat berbagi, tapi validitas info-nya seringkali dipertanyakan. Waktu angkatan gue, isu yang paling besar yaitu tanggal pelaksanaan PK (yang ternyata di undur 2 bulan sampai April!) dan penghilangan tunjangan-tunjangan dari LPDP yang sebelumnya ada seperti Family Allowance untuk awardee Master dan uang wisuda.
  4. Sejak rugi 400 ribu itu, gue belajar buat nggak percaya info apapun yang beredar di group. LPDP bakal ngirim lo email soal pelaksanaan PK, so wait for that damn email! Pak Kamil juga bakal kasih official announcement menyangkut PK. Yes, the waiting feels like forever, but believe me, that's the only answers you can trust. Soal kebijakan-kebijakan LPDP, the best thing to do adalah mengontak CSO LPDP, bisa via email atau via telepon. Atau kalo lo tinggal di Jabodetabek, samperin aja sekalian kantor LPDP di Lapangan Banteng. Berasa PR banget memang, tapi jawaban-jawaban ini lebih bisa dijadiin pedoman, ketimbang info-info di group.
  5. Info lainnya menyangkut PK seperti dress code dan sejenisnya, disarankan mengontak langsung Perwakilan, seperti Ketua Angkatan atau Wakilnya (Perwakilan). It is their jobs to give you the right information so don't feel hesitate to contact them.


Foto Divisi Desain PK-104 Panji Candravasi.
Ketua Divisi katanya harus di tengah, hahaha.
From left to right (1st row): Azril, Aan, Vidia, Me, Mas Indra, Kusbandono, Ari
(2nd row) Raisya, Cindy, Eka, Wahyu, Nina


Oke, jadi singkat cerita gue ditunjuk sebagai PIC Desain, yang isinya ngurusin tetek-bengek yang bakal dipakai pas PK seperti logo, maskot, nama angkatan, booklet Selayang Pandang, backdrop panggung, papan absen, name tag, papan nama meja, kaos angkatan dan Buku Angkatan (semacam yearbook tentang angkatan PK kita). Beberapa pelajaran yang gue saat menjabat sebagai ketua Divisi adalah:

  1. Step up. If you have the talent, you have the responsibility to step up. Di angkatan gue, hanya ada 2 orang yang secara resmi berprofesi sebagai desainer. Perwakilan bakal ngebagi kita semua dalam beberapa divisi dan setiap divisi akan menentukan PIC-nya masing-masing secara internal. Waktu itu gue nggak punya pilihan. Desainer yang satunya terkesan pasif, so I took the bullet. Inget kata-kata Uncle Ben ke Peter Parker: With great power comes great responsibility. Buat ngurusin divisi aja kita udah enggan, gimana nanti kita diharapkan buat ngurusin Indonesia? It was a tough decision for me tapi akhirnya gue iyain juga karena (a) It was either me or the other designer; (b) We didn't have too much time.
  2. Stick to the essentials. Gue dapat masukan ini dari Pak Indra, rekan satu kelompok dan satu divisi gue. Tugas resmi sebelum PK yang diberikan LPDP adalah Buku Angkatan, segala media tetek bengek lainnya hanyalah opsional yang berfungsi untuk "menyemarakkan" PK alias opsional. Gue nggak ngajari buat malas, tapi itu bukanlah esensi PK. Tanpa backdrop panggung atau name tag peserta, PK akan tetap jalan. Angkatan PK sebelum gue yaitu PK-103 sama sekali nggak pakai segala macam ini itu. Mereka fokus di logo, kaos dan Buku Angkatan. Dan PK mereka tetap jalan kok. Perwakilan angkatan lo harus berani step up and make the decision, which ones are the essentials and which ones that can be skipped. Speak up. PK harusnya dinikmati, bukannya dijadikan beban!
  3. You're not the only one. Kita semua adalah satu tim. Belajar kerja sama dengan sesama anggota divisi karena kita semua disini statusnya sama-sama awardee. If you're elected as PIC, learn how to delegate. Ini penting banget karena lo bukan Superman. PIkirkan bagaimana caranya supaya setiap anggota kelompok dapat pekerjaan yang sesuai, merata dan adil. Peer-pressure juga bisa dipake buat memicu anggota kelompok yang kurang aktif, misalnya menugaskan 3 orang untuk satu tugas besar, sehingga mereka bisa saling mendukung dan monitor kinerja satu sama lain.But the dark side is, meski status-nya semua adalah the mighty awardee of LPDP scholarship, tetap bakal ketemu awardee yang apatis dan sama sekali nggak mau tahu. Contohnya di angkatan gue, ada awardee yang baru gabung di group pas H-3 PK. Bayangkan, tiga hari sebelum PK si mbak ini tiba-tiba nongol entah dari antah berantah mana sambil nge-joke, ketawa-tawa di group. Ngenes kan lo? Terhadap rekan-rekan yang kayak gini nggak usah dibawa baper. Cukup didoain aja semoga kembali ke jalan yang benar hehehe. Kalo lo PIC / Ketua Kelompok, siap-siap untuk "berkorban", mengambil alih tugas-tugas yang terbengkalai akibat anggota tim yang tidak bekerja maksimal.
  4.  Be a team player but also independent. Nggak perlu terlalu bergantung sama awardee yang lain. Waktu persiapan PK itu sangat terbatas, umumnya hanya sekitar 2 minggu. PK-104 gue mungkin one of the kind karena di-delay sampai 2 bulan tapi ini juga masih nggak cukup, karena anggota kita berubah terus, banyak yang dicabut pasang bak lego. Ini ada hubungannya sama to step up yang udah gue bahas sebelumnya. Kita semua adalah satu tim besar, jadi saling dukung itu penting banget. Bukan berarti lo harus ngambil alih kerjaan semua temen-temen lo (kayak yang gue lakuin) tapi kalo lo bisa dan nggak punya opsi lain, nggak ada salahnya juga dilakuin.
  5.  Work hard. Pray hard.  Gue agak kurang ngeh sebenarnya soal Persiapan Keberangkatan ini. Is it intentionally designed like this, to test our persistance and physical capabilities?  I have no idea. Gue nggak mau spoiler, tapi selama PK kita benar-benar diuji secara fisik dan mental. Are you going to survive? Is this worthy enough for you? Kalo buat lo pribadi jawabannya adalah, no, thank you - I want to enjoy my life, then LPDP is not for you. Gue berani menyebut beasiswa ini sebagai salah satu yang the most challenging scholarship application process karena proses seleksinya yang multilayer. You survived one round? Congratulations, but harder things are coming. Nggak seperti beasiswa dari negara lain yang proses seleksinya nggak neko-neko, di LPDP gue merasa nggak cuma diuji secara knowledge, tetapi juga niat dan soft skills seperti leardership, team-work, tolerance.


No matter how challeging it seems, always see the bright side.

This is us! Can you spot me in this picture?


Setelah selesai PK, tugas masih belum berakhir. Sekarang ini gue masih ngurusin buku angkatan yang oh-so-njelimet terutama dari segi biodata pesertanya. But I see the light; we're getting closer to the end. Gue pribadi berharap buku angkatan ini bisa tuntas sebelum gue berangkat ke Australia nanti.

Sampai titik ini harus gue akui bahwa LPDP telah mengubah gue menjadi lebih positif. Contohnya, gue yang sebelumnya sangat impatience. I used to hate waiting, tapi sekarang udah bisa lebih sabar (believe me you need a lot of PATIENCE for this scholarship). Gue jadi lebih rela berkorban, lebih tangguh dan lebih bersungguh-sungguh. So, buat kalian yang merasa tertantang untuk mengambil kesempatan ini, I highly encourage you to at least TRY. Benar, ada banyak opsi beasiswa lain di luar sana, tapi setidaknya cobalah untuk apply beasiswa LPDP. You'll be surprised to see how much it is going to change you if you got accepted.

Cheers,

Joe.