Self-reflection: Hidup bergerak maju atau stuck di tempat?

Setelah hampir dua tahun melepas pekerjaan sebagai pegawai swasta dan beralih menjadi full-time self-employed dan freelancer, gue sering merasa galau soal karir gue. Pertanyaan yang sering menghantui gue dan bikin gue galau adalah: apakah gue bertumbuh? The English is "to progress" yang gue terjemahin sebagai "bertumbuh" (terjemahannya ga enak memang, I know :P)

Sewaktu bekerja sebagai pegawai kantoran, gampang banget menilai apakah diri gue membuat kemajuan dalam karier. Indikasinya jelas: kenaikan gaji, promosi jabatan atau dua-duanya. Dua tahun bekerja sebagai pegawai kantoran, jabatan gue masih sama: multimedia designer. Tapi gaji gue mengalami penaikan signifikan tiap tahunnya. Ada juga hal-hal yang agak susah untuk diukur, misalnya kemajuan skill desain dan social skill gue. So yes, I did progress quite a lot that time.

Nah, sebagai freelancer, gue nggak punya jenjang karier dan pendapatan yang pasti. Jadi bagaimana gue bisa mengukur progress gue? Apa indikatornya? Stuck di zona nyaman adalah salah satu hal yang paling gue takutin. I'm still 26 years old, for Godsake, so it's too early for retirement. I'm committed to reach my fullest potential before I reach 30 and I need to know exactly whether I progress in life or not and how far I've gone J

Jadi apa yang gue lakuin? Setelah uring-uringan selama 2 minggu, gue akhirnya punya beberapa trik yang bisa dijadikan indikator.

1. Numbers don't lie
Ya benar. Jadi bukan cuma pinggul Shakira aja yang nggak bohong (her hips don't lie) tapi juga angka-angka pendapatan gue. Sejak mulai freelancing, gue membuat pembukuan setiap pemasukan dan pengeluaran yang gue punya (just because you're freelancing doesn't mean you should ignore accounting). Setiap tiga bulan, gue me-review pembukuan gue, begitu juga di akhir tahun. Dari situ, gue bisa membandingkan angka pendapatan gue dari tahun ke tahun dan that's how I realized that I'm progressing because the numbers are improving. Sedikit demi sedikit, pendapatan gue meningkat dan ini membuat gue senang sekali.

Accounting is important! Bukan berarti lo harus ngambil kursus
Akunting, tapi bikin pencatatan untuk income dan outcome
bakal berguna buat mendeteksi peningkatan penghasilan
Image: Pixabay


Jadi, jangan sekali-kali meremehkan yang namanya pembukuan. Coba bikin pembukuan yang baik dan sering-seringlah review isinya, lo bakal surprise menemukan angka-angkanya di akhir tahun!

2. Makin banyak nomor asing yang mengontak gue
Gue menggunakan Instagram, Facebook dan Tumblr sebagai online portfolio, dimana gue memajang projects yang udah tuntas dari klien-klien gue. Di setiap foto ada template nama, nomor hp dan alamat email.

Peek-a-boo! Ini isi Instagram gue. Forgive me for that selfie,
you'll rarely find my face on that timeline! :)

Awalnya gue nggak menerima respon sama sekali. Tapi lama kelamaan gue mulai menerima pesan WA dari nomor-nomor yang nggak dikenal, menanyakan jasa desain. Nggak semuanya pakai jasa desain gue, sebagian besar baru nanya-nanya, but it's okay. Bagi gue ini salah satu indikator bahwa gue bertumbuh. Karya-karya gue makin dikenal and it does make me happy!

3. I have time to do things I can't do before
Tahun 2016 lalu, gue tiga kali bolak-balik ke Jakarta, bahkan sempat stay 1 bulan disana. Ongkosnya lumayan dan cukup bikin gue "terkapar", but eventually I did it and still able to eat decent food afterwards. Sewaktu kerja sebagai pegawai kantoran, gue cuma dikasih jatah 12 hari untuk liburan yang jujur aja, bagi gue nggak cukup dan nggak worth, considering gue udah kerja setahun penuh.

Punya waktu lebih untuk melakukan hal-hal yang gue suka membuat gue senang - it gives me a good sense of myself. Secara nggak langsung, gue merasa mampu untuk lebih "menghidupi" hidup.  I believe there are 2 things we can't fight in this life: time and change. Waktu itu adalah aspek yang berharga dalam hidup, jadi punya "lebih banyak waktu" membuat gue merasa "lebih kaya". Indikator ini jelas nggak bisa diukur, tapi gue tahu ini suatu poin penting dalam hidup jadi gu3 mengkategorikan ini sebagai salah satu ciri-ciri progress J

4. Tackle new challenges
Tahun 2016 lalu gue memutuskan ambil test IELTS, melamar ke University of Edinburgh, apply beasiswa LPDP. Guess what: score IELTS gue lebih dari memuaskan, gue diterima di salah satu universitas terbaik di dunia itu (meski akhirnya gue nggak ke sana. Baca cerita lengkapnya disini) dan aplikasi beasiswa gue diterima. Setelah 25 tahun gue menunda-nunda untuk ambil tes IELTS / TOEFL karena gue merasa  (English gue udah oke) nggak butuh-butuh amat, gue akhirnya memberanikan diri: for once in my life I need to see my English ability to be certified, legally. And I did.

Same case dengan apply ke University of Edinburgh. Dulu gue selalu merasa terintimidasi, am I good enough to be admitted di universitas ini? Tapi gue memberanikan diri: dengan model essay yang apa adanya dan IELTS score itu, gue apply dan diterima. Just like that!

LOA Unconditional dari University of Edinburgh. Bagi sebagian besar orang,
mungkin dapat LOA kayak begini bukan sesuatu yang penting. Gue yakin
banyak yang sanggup tembus ke Harvard or Cambridge. But this is a special winning
for me because I never thought I could get into this university before!

 
Lalu ketika business partner gue hengkang di Oktober 2016 lalu. I felt so lost back then. Gue merasa nggak sanggup lanjutin usaha studio foto gue. Depresi benar-benar nggak terelakan. Gue ketakutan buat terima project. Tapi gue sadar bahwa kalau gue terus-terusan drowned in depression, usaha gue bisa tamat. So I get up and live on. Surprisingly, I have survived too! Sekarang gue masih sering sedikit gugup kalo ngambil project solo, tapi gue selalu memberitahu diri sendiri: I can do it.

Masih banyak lagi tantangan yang gue hadapi 2 tahun ini: nyokap yang ternyata sakit jantung, pindah rumah 2x, renovasi rumah, adik gue yang sempat menganggur, dan lain-lain. I also encouraged myself to dating for the first time in 26 years! The first one bikin gue baper akut, yang kedua masih steady strong. Thank God I'm survived. (#nowplaying "Survivor" by Destiny's Child).

Ini mengingatkan gue tentang lagu Kelly Clarkson: "What doesn't kill you makes you stronger". And to be stronger means you're progressing. Naturally, challenges will scare you, tapi lo punya 2 opsi: to fight back and be stronger or to sit still and stay the same.

Oh ya, satu hal yang pasti, gue nggak bisa melewati semua tantangan itu hanya mengandalkan diri gue sendiri. Meski kedengarannya cliché, pray DOES help. When life tries to pinch you down, you'll certainly need help from the higher ground J

5. Hal-hal yang gue kasih buat orang lain
Sharing makes you feel more content about yourself. Sewaktu jadi pegawai kantor, sangat mudah bagi gue menjadi egois dan self-centered. Apalagi ketika gue tinggal di Jakarta; setiap orang kayaknya sangat individualis. So it was all about me. Dulu, sebelum gue ngelakuin sesuatu, yang jadi pemikiran gue adalah: what's gonna happen to me? What's the risk?

Bersama teman-teman Liaison Officers dalam Tomohon International Flowers Festival

Dua tahun belakangan gue merasa lebih generous; nggak terlalu neko-neko. Berbagi menjadi lebih mudah dan menyenangkan buat gue. Gue ngasih seminar dan workshop filmmaking gratis, bantuin salah satu NGO di daerah gue, nge-desain media buat organisasi pemuda Katolik di kampung gue, volunteering buat acara di kota gue, bagi-bagi freebies, kerjain project buat LPDP for free - intinya, ngelakuin hal-hal yang dulu gue rasa beraaaat banget karena gue nggak punya waktu, terlalu capek, too demanding, dan sejenisnya. Ternyata, gue masih baik-baik saja, safe and sound, nggak kekurangan sesuatu apapun. Gue malah merasa sangat puas setelah ngelakuin semua itu, man, you have no idea. It's certainly one of the best feeling in the world.

Logo dan desain kaos yang gue bikin buat OMK Wailan :)



Jadi, bagi gue, indikator utama bahwa gue mengalami progress adalah: I feel better about myself. Ada yang bilang kalau ciri-ciri bahwa lo udah keluar dari comfort zone adalah: you feel uncomfortable at all - almost all the time. Dan itu yang gue rasakan DULU,  now I feel comfortable being uncomfortable. Gue tau ini kedengarannya terlalu dramatis buat kalian, tapi benar-benar merupakan life-changing experience buat gue. Dan setelah menaklukan semuanya itu, yakinlah gue bahwa YES I MAKE PROGRESS. I'm going to be in the higher stage.  Inget, kalau lo mau ke puncak, lo harus selalu mendaki tangga, dan itu jauh lebih berat dibanding berdiri diam di tempat lo sekarang.