Gravitasi lewat kreasi: Kamera smartphone bukan cuma buat selfie!

Oleh Joseph Reinaldo Lolong

Isaac Newton, seorang fisikawan besar dunia,  pernah mengatakan bahwa setiap benda yang memiliki massa di jagad raya ini, pasti memiliki gaya untuk menarik partikel lainnya. Inilah yang kemudian hari dikenal sebagai Hukum Gravitasi Newton; sebuah dalil fisika yang telah membantu manusia memahami dunia dan alam semesta secara lebih mendalam.

Sewaktu SMA, saya menganggap hukum ini sebagai rumus semata tanpa relevansi dengan kehidupan sehari-hari. Tetapi sewaktu saya berkuliah di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Yohanes Surya yang waktu itu menjabat rektor kami, berujar: Hukum Gravitasi juga berlaku dalam diri kita masing-masing. Manusia adalah "benda bermassa" sehingga punya gaya untuk menarik "benda-benda lainnya."  Bagi saya, ini berarti kita punya potensi untuk menarik hal-hal positif yang dimiliki hidup ini. Laksana matahari yang gravitasinya menjaga Bumi dan ketujuh planet lainnya tetap dalam harmoni tata surya, kita pun bisa menjadi matahari-matahari kecil bagi sesama.

Berangkat dari pemahaman itu, saya tertantang untuk memanfaatkan benih gravitasi saya untuk menginspirasi orang-orang di sekitar. Banyak teman-teman yang banting stir selepas wisuda karena menganggap menjadi videografer kurang menjanjikan secara finansial. Tapi saya bergeming, saya yakin bidang kreatif sama menjanjikan layaknya bidang lain. Gravitasi dalam diri saya bekerja luar biasa pada saat itu. Pada usia 21 tahun, saya menjadi videografer untuk layar LED raksasa Mall Taman Anggrek Jakarta, yang telah disertifikasi Guinness World Record sebagai the largest LED illuminating fa├žade.

"Galaxy", salah satu motion graphic video saya
yang ditampilkan di LED raksasa Mall Taman Anggrek.
LED ini juga punya gravitasinya sendiri: ukurannya yang super besar
menjadi magnet bagi siapapun yang melihatnya, terutama di malam hari.


Melipatgandakan gravitasi: menjangkau lebih luas
Dua tahun lamanya diberi kesempatan untuk memajang karya-karya yang bisa dilihat Jakarta membuat saya tertantang untuk menjangkau lebih luas. Pada akhir 2014, saya memberanikan diri keluar dari pekerjaan saya dan kembali ke Tomohon, kampung halaman saya di Sulawesi Utara, dengan satu visi besar: saya ingin mengembangkan bakat-bakat seni para pemuda di daerah saya. Para pemuda usia belasan tahun ini punya energi dan rasa ingin tahu yang besar, tetapi tidak dapat difasilitasi dengan baik sehingga memunculkan masalah seperti hamil di luar nikah.

Hal itu tak terlepas dari gravitasi smartphone terhadap para milenials ini. Smartphone menjadi aspek ultra-krusial dalam hidup remaja saat ini - nyaris mustahil melarang seorang remaja putri tidak mengakses Instagram selama 24 jam. Sayangnya, banyak dari mereka yang belum cerdas menggunakan smartphone  dan sosial media. Keduanya menawarkan interaksi yang tanpa batas dan vulgar sehingga banyak remaja yang tidak hati-hati terjerat tanpa daya oleh pikat rayu sisi gelap perkembangan teknologi ini. Padahal, ada banyak hal positif lain yang bisa dilakukan lewat smartphone dan media sosial, misalnya membuat film pendek dan dipajang di Youtube.

Bersama Jerio sahabat saya sejak SMA, kami meluncurkan program workshop pembuatan film menggunakan smartphone. Dengan mengusung jargon: "Filmmaking is easy", kami menargetkan para pelajar SMP - SMA di Tomohon dan Manado. Kami mengunjungi 9 sekolah dan 4 sekolah menerima ide ini dengan baik.

Jumlah sekolah yang kami kunjungi dalam Creative Roadshow gratis
bertajuk "Filmmaking is Easy".


Workshop sehari tersebut menjadi daya picu yang sukses mengekspansi horizon para sobat muda ini akan smartphone; benda ini bukan hanya untuk eksis di sosmed dan selfie-selfie semata. Mereka paham bahwa resolusi kamera smartphone milik mereka sudah mumpuni untuk merekam video yang dapat mereka rajut menjadi film pendek atau liputan jurnalistik yang kualitasnya baik. Ditambah lagi dengan dukungan aplikasi editing gratis yang melimpah mereka bisa mengeditnya langsung melalui smartphone hingga siap dipublikasikan.

Antusiasme kami akhirnya menjadi gaya gravitasi yang menarik hal yang jauh lebih besar: dua sekolah menjadikan workshop kami sebagai kegiatan ekstra kurikuler. Ada sekitar dua belas siswa-siswi SMP dan SMA yang bergabung. Berbekal ilmu yang kami dapat di bangku kuliah dan tutorial dari Youtube, saya dan Jerio mengajarkan para siswa ini teknik mengambil gambar, teknik pencahayaan, dan teknik editing.

Gravitasi adalah sebuah gaya (force) yang akan menyebabkan perubahan,
jika didukung penuh.


Menjadi gravitasi: mengatalisis perubahan
Sebagai gaya (force), gravitasi yang bekerja tanpa hambatan niscaya akan membuahkan perubahan. Daya tarik positif yang saya gaungkan mulai membuahkan riak yang lebih besar dari ekspektasi kami sebelumnya: kami diundang untuk memberikan pelatihan fotografi dan videografi bagi organisasi pemuda (OMK) di gereja-gereja di Tomohon. Kami juga menjajal kamera DSLR dan kamera video profesional. Para pemuda yang sebelumnya awam diajarkan teknik-teknik dasar pengoperasian kamera untuk dokumentasi. Puncaknya saat mereka turun tangan langsung dalam pendokumentasian Pertemuan Berkala OMK yang dihadiri lebih dari 5.000 peserta dari Sangihe hingga Palu.

Foto-foto workshop dan pelatihan gratis yang saya dan Jerio lakukan
sejak tahun 2015 untuk membangkitkan kreativitas para pemuda
di Sulawesi Utara agar berani unjuk gigi dalam berkarya


Bangga adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya menyaksikan perubahan ini. Saya percaya telah mengubah jiwa-jiwa muda di daerah saya menjadi matahari-matahari kecil yang akan konstan berekspansi, yang memancarkan gravitasi mereka untuk menarik legiun daya untuk mengatalis perubahan.

Luna Smartphone: Pioner Gravitasi dalam Teknologi
Pertanyaan yang sering ditanyakan kepada saya saat memberikan workshop adalah: smartphone apa yang idealnya dipakai untuk membuat film dan liputan? Apakah smartphone dengan resolusi piksel yang besar saja sudah cukup?

Luna smartphonesmartphone
yang menggiurkan.
Sumber gambar: luna.id
Filmmaking dan dokumentasi pada kenyataannya adalah proses yang dinamis, cepat dan "kasar". Diperlukan kamera yang mampu menangkap gambar dengan cepat, jelas serta kualitasnya baik. Untunglah Luna Indonesia sudah memboyong smartphone miliknya yang sangat menggoda. Kameranya memiliki sensor Sony 13 MP-nya adalah salah satu pilihan yang tepat. Bukaan aperture 2.0 membuat kamera Luna smartphone punya gravitasi untuk menangkap cahaya lebih banyak, sehingga menghasilkan foto-foto yang lebih baik. Smartphone Luna ini juga cocok digunakan untuk vlogging karena resolusi kamera depannya yang sudah 8 MP. Selanjutnya, hasil jepretan kamera Luna bisa dinikmati lewat layar lega berukuran 5,5 inci dan sudah dilindungi Gorilla Glass.


Untuk editing foto pun bisa dilakukan dengan mulus karena smartphone Luna didukung prosesor Snapdragon 801 empat-inti dan RAM 3 GB. Ditambah bodi metalnya yang tangguh dan kapasitas baterai 3.000 MAh yang sudah mendukung pengisian cepat, saya tak ragu lagi bahwa smartphone ini sejatinya adalah sebuah ponsel ideal. Luna Smartphone adalah pilihan yang tepat bukan hanya bagi para pecinta fotografi, tapi juga bagi mereka yang mencari kesempurnaan dari pengalaman menggunakan sebuah ponsel pintar.