Potensi Manado sebagai Smart City Berbasis Pariwisata Pertama di Indonesia

Oleh Joseph Reinaldo L.

Saya pertama kali berkunjung ke Bali pada tahun 2013, saat mengantar adik saya menjalani magang di sebuah hotel di kawasan Nusa Dua. Selama tiga hari di Bali, saya menyempatkan diri mengunjungi sejumlah ikon wisata alam Bali seperti Pantai Kuta dan Pantai Nusa Dua. Lucunya, ketika orang lain terkagum-kagum akan keindahan alam Bali, saya merasa biasa-biasa saja. Alasannya mungkin cukup sentimental: Manado, kampung halaman saya, punya keindahan alam yang lebih hebat.


Tidak hanya dikenal karna gadis-gadisnya yang jelita, Manado juga punya keindahan alam yang mempesona.
Salah satunya Pantai Pulisan, salah satu pantai di daerah Manado, Sulawesi Utara
Sumber gambar: manado.tribunnews.com


Artikel kali ini tidak akan membahas perbedaan pariwisata Bali dan Manado. Dibanding Bali yang sudah mendunia, Manado memang masih kalah pamor, padahal kekayaan alam dan khasanah budayanya bisa diadu. Saya punya keyakinan besar Manado berpotensi menjadi ikon pariwisata Indonesia layaknya Bali jika diolah dengan benar. Sejumlah terobosan sudah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara, pemerintah kota Manado dan kota / kabupaten sekitarnya, antara lain dengan mencanangkan Manado sebagai Kota Tujuan Pariwisata Dunia (2010), menyelenggarakan rupa-rupa festival bertaraf internasional seperti Festival Pesona Bunaken, Festival Selat Lembeh, Tomohon International Flower Festival (TIFF) hingga mengadakan megakonser Natal dengan mengundang para musisi kaliber dunia.

Hasilnya cukup memuaskan. Dari hasil pengamatan pribadi, saya menyaksikan peningkatan volume wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang mengunjungi Sulawesi Utara. Tetapi saya merasa potensi pariwisata di daerah saya belum dimaksimalkan.

Salah satu hal utama yang masih menghambat perkembangan pariwisata Manado adalah minimnya informasi yang tersedia. Saya sering menjumpai para wisatawan yang masih kebingungan misalnya tentang obyek-obyek wisata apa saja yang ada di Manado, bagaimana cara pergi ke sana, dimana harus menginap, kapan waktu yang tepat untuk mengunjunginya, dan sejenisnya. Bukannya pemerintah tidak menyediakan informasi yang memadai. Informasi yang ada rata-rata sulit diakses karena hanya tersedia lewat media konvensional seperti pamflet atau brosur. Kalaupun disajikan dalam bentuk digital seperti website, informasinya kebanyakan kurang update, simpang siur hingga tidak jelas.

Saya melihat teknologi informasi sebagai solusi dari masalah ini. Saya membayangkan adanya sebuah aplikasi digital yang berperan sebagai "one-stop tourism guide of North Sulawesi".

Contoh aplikasi digital yang bisa digunakan untuk mendukung pariwisata
kota Manado sebagai smart city

Aplikasi ini mengintegrasikan layanan esensial untuk pariwisata seperti akomodasi, transportasi, digital tour guide, pengaturan jadwal, mencari teman perjalanan, hingga toko oleh-oleh digital. Melalui aplikasi ini, seorang wisatawan dapat membeli tiket menuju Manado, mengatur hotel, mendapat saran obyek-obyek wisata apa yang harus dikunjungi, menyusun jadwal kapan mengujunginya, tahu sarana transportasi apa yang harus diambil, bisa mendapatkan teman yang ingin pergi ke obyek wisata yang sama serta tidak kesulitan membeli buah tangan khas Manado. Bayangkan penggabungan fungsionalitas dari Traveloka, Agoda, Wikipedia, Go-Jek, Facebook dan Tokopedia dalam satu platform untuk pariwisata yang bisa diunduh dengan gratis melalui smartphone. Dengan dukungan ini, seorang wisatawan tak perlu risau bepergian seorang diri. Bahkan lebih jauhnya, aplikasi ini bisa mendukung transaksi menggunakan uang digital seperti bitcoin, sehingga wisatawan tak perlu risau menukar mata uang dan hanya perlu menyetor saldo sesuai dengan dan segalanya akan dipotong secara otomatis.

Ide ini memang besar, tapi bukannya tak mungkin. Dengan dukungan mumpuni dari pemerintah dan pihak-pihak terkait saya yakin aplikasi ini bisa dibuat. Ini akan menjadi langkah besar dalam mewujudkan Manado sebagai smart city berbasis pariwisata.


Pengintegrasian teknologi informasi digital di kota Manado
dapat menjadikannya sebagai pelopor smart city berbasis pariwisata.
Sumber gambar: manado.tribunnews.com

Bagi saya, konsep smart city sifatnya holistik. Bukan hanya menggunakan fasilitas dan teknologi yang smart, tapi juga smart dalam memilih metode yang paling tepat dan sanggup mengedukasi penduduknya (terutama yang masih buta teknologi) agar jadi smart. Edukasi menjadi bagian vital dalam konsep smart city karena tak peduli seberapa canggih dan terintegrasinya fitur-fitur yang disematkan pada kota itu, semuanya sia-sia jika penduduknya masih belum memaksimalkan, atau lebih parahnya lagi, belum mampu menggunakan teknologi. Contohnya, kita bisa melihat banyak anak-anak sekarang ini yang sudah menenteng iPad kemana-mana karena memakainya media hiburan. Padahal, fungsi iPad tidak hanya sebatas sebagai "televisi instan". Di luar negeri, iPad digunakan para profesional sebagai komputer pribadi. Bahkan ada digital artist yang memakai iPad sebagai kanvas pengganti kertas.

Ke depannya, saya berharap ide saya itu dapat diaplikasikan bukan hanya untuk menunjang pariwisata di Manado, tetapi juga di kota-kota lainnya sehingga membentuk gugus smart city Indonesia yang bisa saling terkoneksi, saling mendukung dan pada akhirnya, memajukan sektor pariwisata Indonesia secara keseluruhan. Kita semua tahu betapa menakjubkan keindahan alam yang dianugerahkan Tuhan pada tanah air ini. Perkembangan teknologi informasi sudah selayaknya dipakai untuk memaksimalkan potensi mahadahsyat negeri ini, bukan hanya berdiri sebagai konsep abstrak tak praktis yang tidak bisa dirasakan manfaatnya untuk semua orang.