Alasan kenapa gue memilih melanjutkan kuliah ke Australia…

Australia. Desain gambar ini keren ya?
Source image: render.fineartamerica.com

Halooo, lama tak nggak update! Tahun 2016 ini merupakan tahun yang cukup sibuk buat Ray dan gue - ada banyak drama yang terjadi di dalam hidup kita berdua (bah!) khususnya Ray yang masih vakum menulis. Nggak apa-apa yaaa… Berhubung gue udah extend lagi domain ini buat satu tahun mendatang, jadi gue memutuskan untuk memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Cerita terbaru yang ingin gue bagi yaitu soal pengalaman gue berburu beasiswa demi melanjutkan S2 sampai akhirnya diterima di Monash University Australia dan berhasil mendapatkan beasiswa LPDP (applause, anyone?)

Australia. Oke, jujur sebelumnya gue nggak menganggap negara (atau benua?) ini ada. Sejak mulai serius mempersiapkan diri buat kuliah lagi di 2013 (iya, selama itu!) gue selalu nge-skip Australia sebagai negara tujuan. Gue nggak memilih Amerika karena S2 disana sebagian besar mensyaratkan GRE and God knows I was already depressed enough trying to reach the ideal IELTS score! Waktu itu kiblat gue adalah Eropa dan negara-negara berbahasa cantik nan eksotik macam Prancis, Belanda, dan Jerman (well maybe Deutsch is not so "cantik"). Seiring bertambahnya usia dan meningkatnya level kemalasan untuk belajar lagi, barulah gue sadar pilihan gue kurang realistis.

Jurusan yang ingin gue ambil adalah Interaction Design, atau dalam beberapa kampus dikenal dengan Human Computer Interaction. Jurusan ini termasuk baru dan langka, sehingga nggak tersedia di semua kampus. Menurut hasil Googling, hanya ada kurang dari 80 kampus di seluruh dunia yang membuka program ini. Bahkan di update terbaru, University of Sussex menutup program ini untuk 2017 karena kurang peminat (yang berdampak pada ditolaknya aplikasi gue). Singkat cerita, pilihan gue sangat terbatas. Opsi ini semakin dipersempit dengan fakta bahwa gue harus menyocokan pilihan gue dengan list universitas tujuan yang di-approve oleh LPDP.

Pilihan pertama gue waktu itu adalah Prancis, dan gue udah ngebela-belain kursus Francais di IFI Salemba selama 1 tahun. Meski jujur Francais itu sangat indah, tapi level Francais gue harus betul-betul ahli untuk kuliah S2 dan ini bikin gue jiper. Alhasil Bahasa Prancis gue cuma dipake buat pamer doang hahaha… (At least kalo ada quote-quote ngga jelas pake Francais gue ngerti lah artinya, merci beaucoup). Gue beralih ke Jerman, karena katanya kuliahnya pakai Bahasa Inggris. Setelah kursus satu setengah tahun di Goethe Institut, barulah gue sadar bahwa TERNYATA jurusan gue itu TIDAK diajar dalam English, melainkan Deutsch. Dan menurut cerita teman-teman gue yang udah berangkat ke kedua negara ini, Francais dan Deutsch yang kita pelajari di Indonesia masih mentah banget di kehidupan kampus! Temen gue yang level Deutsch-nya udah sampe C1 (level tertinggi yaitu C2)  sewaktu di Indonesia masih nggak ngeh waktu mulai ikut kuliah sampai dia harus ambil kursus lagi. Dialek, kecepatan berbicara, bahasa slang dan banyaknya istilah akademis di lingkungan kampus membuat bekal bahasa kita masih perlu dipoles lagi, dan ini nggak bisa dilakukan di Indonesia, tetapi harus di negaranya LANGSUNG.

PE-ER banget kan?

Sadar akan umur gue yang udah nggak muda lagi (25 coooy… bentar lagi pensiun), gue nggak mau menghabiskan waktu hanya untuk mempelajari bahasa. Bukannya gue bilang belajar bahasa itu nggak penting. Gue cuma nggak mau energi gue udah habis kepake ngafalin struktur grammar, vocab, dll  sebelum kuliah. Intinya, gue mau kuliah S2 gue berjalan selancar, semudah, dan seindah mungkin. Kalo bisa kayak nggak berasa kuliah lah gitu tapi jalan-jalan gratis di luar negeri.

Oke, sampe sini mungkin lo bertanya-tanya, apa hubungannya sama AUSTRALIA?

Mengingat tuition dan living cost di luar negeri yang mahal dan gue nggak mau menyusahkan orangtua, gue sadar bahwa nggak bakal mungkin berangkat ke luar negeri tanpa beasiswa (well, bisa aja sih kalo gue nabung seluruh gaji gue selama empat tahun non-stop). Nah, dari pengamatan gue, persyaratan yang PASTI ada di setiap beasiswa, mau itu dari pemerintah Indonesia, Belanda, Swedia, Australia atau Antariksa sekalipun, lo WAJIB lolos standar IELTS atau TOEFL yang mereka tentukan.

Selain Beasiswa LPDP, gue juga applied Beasiswa Chevening dari Pemerintah UK.
Kedua beasiswa ini mensyaratkan nilai IELTS minimal 7 kalau gue nggak salah.
Source image: 1.bp.blogspot.com

 
Kesimpulannya?

Kalau gue mau kuliah ke Jerman atau Prancis, gue perlu lulus DUA ujian bahasa, yaitu Francais / Deutsch untuk perkuliahan dan survival SEKALIGUS Bahasa Inggris (TOEFL / IELTS) untuk lulus seleksi beasiswa.

TAMBAH BANYAK KAN PE-ER NYAAA?

Sebagian orang yang membaca tulisan gue ini mungkin berpikir gue orang yang nggak mau repot. Kan tinggal kursus? Tapi sekali lagi, gue termasuk orang yang berpendapat, kalau bisa ringkas kenapa harus repot?

Disini gue mengakui bahwa gue salah strategi. Jika elo termasuk scholarship hunter macam gue, yang paling penting adalah securing the scholarship first. Inget, lo nggak bakal bisa ke kampus idaman lo KALAU nggak ada yang mau ngebayarin segala biayanya. Pemberi beasiswa biasanya memberi tenggat waktu buat kita apply ke universitas dan believe me, it was much easier to be admitted at a foreign university once you have appropriate TOEFL / IELTS score!

Sejak pencerahan itu, barulah gue fokus ngursin Bahasa Inggris gue. Pilihan gue jatuh pada IELTS karena menurut gue lebih fleksibel dan humanis. Begitu tahu biaya test IELTS yang lumayan mahal yaitu sekitar Rp2.700.000,-, gue kembali berpikir, kalau gue ngambil sertifikasi bahasa lain seperti Deutsch, berarti gue harus BAYAR lagi. Double dong! Ketidaksudian gue menghabiskan sekitar Rp5.000.000,- cuma buat sertifikasi bahasa inilah yang membuat gue memutar kemudi ke negara-negara yang memang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar kuliah dan kehidupan sehari-hari.

Negara-negara apa sajakah itu? Inggris, Swedia, dan… (drum rolls please) AUSTRALIA. Dan betapa senangnya gue ketika tahu jurusan gue tersedia di kampus-kampus di negara-negara ini. Bahkan bukan cuma satu atau dua kampus, TAPI BANYAK!

Umea University di Swedia, termasuk salah satu
yang gue pertimbangkan menjadi kampus tujuan.
Source image: fscho.com

(Oh ya, soal Swedia, dari yang gue baca-baca di internet, penduduk mereka sangat fleksibel menggunakan English. Jadi kalo lo nggak bisa Svenska, mereka akan dengan senang hati switch to English. Tapi bukan berarti nggak perlu belajar Svenska juga ya…)

Sampai saat itu, gue menyadari betapa gue sudah membuang-buang waktu dan uang. Seharusnya IELTS-lah yang pertama gue kuasai, baru bahasa yang lain.

Yang gue lakuin selanjutnya yaitu ngambil kursus persiapan IELTS di ELC Manado dari April sampai Juni 2016. Biayanya cukup terjangkau dan gue banyak  ketemu teman baru disana, sebagian besar lulusan Australia (ini ada hubungannya sama pilihan gue buat negeri Kangguru ini). Bulan Agustus 2016 gue berangkat ke Jakarta buat ngambil hasil IELTS-nya. Setelah dua minggu yang menegangkan akhirnya hasil IELTS gue keluar dan hasilnya lebih dari cukup.

Mulailah gue mendaftar ke universitas di Inggris dan Australia, karena gue ngejar pendaftaran LPDP periode terakhir tahun 2016 ini, yaitu bulan Oktober. Gue belum bisa mendaftar ke Swedia karena pendaftaran ke kampus-kampus mereka baru dibuka serentak pada tanggal 1 Desember.
Gue mendaftar ke enam kampus:
1. City University London - London, UK
2. University of Edinburgh - Edinburgh, Scotland, UK
3. University of Sussex - Sussex, UK
4.  University of New South Wales (UNSW) - Sydney, Australia
5. University of Queensland - Brisbane, Australia

Nah, soal yang ke-enam ini agak unik. Jadi gue sempet cerita soal perjuangan gue apply beasiswa ke tutor gue di ELC Manado, namanya Lia. Saat itu dia ngasih tahu gue bahwa ELC bisa membantu aplikasi gue ke universitas GRATIS tanpa biaya.

TOO GOOD TO BE TRUE?

Awalnya gue nggak percaya dong, secara mereka kan konsultan pendidikan alias agent. Hari ini mana ada yang gratis? Tapi Lia menjelaskan kalau aplikasi gue diterima, kampus akan memberikan kompensasi buat para agent ini dan itulah "ongkos jasa" mereka sehingga gue nggak perlu bayar ke mereka. Gue hanya perlu diterima aja di kampus tersebut. Dan kalau persyaratan gue seperti IELTS dan dokumen-dokumen pendukung lengkap, hampir bisa dipastikan gue diterima.

 Sekedar info, beberapa universitas memberlakukan admission fee sekitar 150 dollar untuk satu aplikasi. Lima kampus di atas termasuk yang NGGAK PAKAI admission fee. Karena gue ingin memperbesar chance gue diterima, gue ambil tawaran itu. Sebagai alumni Monash, Lia merekomendasikan kampus dia dan untungnya juga jurusan gue ada di kampus itu. So I gave it a shot. Nothing to lose!

Selama menunggu itu gue tetap berpikir positif. Gue sampai di titik dimana gue memasrahkan diri pada penyelenggaraan Ilahi. Ini serius, nggak pakai lebay. Kalau mau dihitung-hitung gue udah 3 tahun mempersiapkan diri dan gue sempat berpikir capek juga kalau harus menunggu setahun lagi.

Kabar dari Monash muncul satu setengah bulan kemudian. Sambil menunggu, UNSW memberikan jawaban yaitu menerima aplikasi gue dengan menerbitkan Letter of Acceptance (LOA). Sejauh ini, merekalah yang paling cepat merespon, yakni hanya sekitar 2 minggu sejak aplikasi gue masuk. Lalu LOA dari Monash, disusul University of Queensland (UQ). Yang terakhir ini merespon sekitar 2 bulan kemudian. Seluruh aplikasi gue ke Australia DITERIMA!
               
Seluruh proses aplikasi ini berjalan dengan luar biasa lancar sampai gue merasa surreal. Is this really happening? Lalu pada 9 Desember 2016, gue menerima email yang menyatakan gue diterima beasiswa LPDP. Cerita tentang proses lamaran beasiswa ini bakal gue ceritain di posting terpisah.

Yes, it's happened. Just like that!

Tak ada satupun universitas dari Inggris yang merespon aplikasi gue. Yang gue terima hanyalah email otomatis yang bilang kalau aplikasi gue lagi diproses (itu sih gue udah tahu! Gue butuh hasilnya! LOA-nya mana braaayyy???) Setelah riset singkat tentang Monash dan Melbourne, gue akhirnya menjatuhkan pilihan pada kampus ini.

Setelah wara-wiri "keliling dunia" akhirnya gue memutuskan
akan kuliah desain di Monash University, Australia
Source image: scholarshipforafricans.com

Alasan gue memilih Monash dan Australia:
  1. Jurusan gue tersedia disini.
  2. Waktu kuliah-nya 2 tahun. Gue merasa bisa mempelajari jurusan gue dengan lebih mendalam dan tentunya nggak terburu-buru karena punya cukup waktu.
  3. Banyak mata kuliah Studio, dengan SKS (credit) yang besar. Studio itu kelas praktik, dan buat desainer seperti gue yang nggak melulu belajar teori, ini krusial banget.
  4. Ranking-wise, Monash University konsisten masuk dalam 100 Top Universities Worldwide dari berbagai versi, biasanya di peringkat 60-an. Ranking ini jauh di atas University of Sussex dan City University London, sedikit lebih bagus dari UNSW dan nggak beda jauh dari UQ. Meski banyak orang yang menganggap ranking ini nggak penting, tapi tetap masuk consideration gue.
  5. Lokasinya di Melbourne. The most livable city in the world! Gue baru tahu fakta soal Melbourne ini setelah Googling. Banyak temen gue yang udah nyaman tinggal di Melbourne dan selama ini gue berpikir itu cuma fanatisme mereka doang. Ternyata enggak.
  6. Country-wise, Australia cukup aman. Apalagi setelah mendengar berita bom Prancis yang sampai 2 kali itu, gue jadi serem juga. Lokasinya juga nggak terlalu jauh dari Indonesia. Nyokap nggak harus naik pesawat 18 jam pas wisuda gue nanti, tapi cukup 7 jam aja, itupun bisa direct flight dari Jakarta.
  7. Weather-wise, still bearable. Karena gue mencari kenyamanan dalam kuliah gue nanti, gue nggak mau mati kedinginan cuma gara-gara nyari salju. Winter di Melbourne cukup dingin tapi nggak sampai bersalju. Salju ADA di Melbourne, tapi di daerah pegunungannya kalo nggak salah. Oh ya, gue alergi dingin, so this is a HUGE DEAL. Hidung gue bisa copot kalo gue bersin terus nanti.
  8. Gaji kerja paruh waktu yang cukup tinggi. Ini berdasarkan pengalaman teman-teman gue yang memang bolak-balik ke Australia. Kata salah satu teman gue Aurel, pendapatan dia sebulan di Australia bisa setara gaji dia setahun di Indonesia. (WTF?) Meski gue nggak dibolehin kerja full time sama LPDP, gue masih bisa kerja paruh waktu di kampus. Memang gue nggak bakal berharap jadi milyader begitu balik dari Melbourne, tapi kedengaran cukup menjanjikan bukan? Hahaha…


Kuliah di Monash Australia juga punya kekurangannya sih. Ini beberapa kekurangan kuliah di Australia menurut pendapat gue.
  1. EXPENSIVE ALIAS MAHAL. Temen-temen gue yang udah 7 tahun kuliah dan bekerja di Australia masih menyebut negara itu mahal! (Atau mungkin mereka emang pelit?) Tapiiii…. gue kan dapat beasiswa, so I don't really have to worry about the money *evil laugh*. Gue hanya perlu berhemat, that's it! Udah biasa makan nasi pakai garam, piece of cake lah. Paling beras seliter cukup untuk seminggu, tiap hari gue makan dua sendok aja… (sisanya ngemil McD LOL)
  2. Dekat dari Indonesia, tapi jauh dari mana-mana. Coba deh kalian liat peta dunia. Letak Australia itu di bawaaaah banget, hampir dekat Kutub (oke lebay). Nggak seperti negara Eropa yang dempet-dempetan bak rusun, di Australia praktis gue nggak bisa travelling kemana-mana. Palingan ke New Zealand sama Tasmania doang (eh, Tasmania masih masuk Australia deh). Still, no big deal. Gue bisa ngumpulin duit selama di Australia dan begitu lulus bakal backpacking ke Eropa selama sebulan! Problem solved!
  3. Mau lo student, tourist, atau penduduk kek, nggak ada yang namanya diskon untuk masalah transportasi. Nggak kayak di Eropa dimana lo bisa dapat potongan sebagai mahasiswa, denger-denger di Melbourne nggak ada. Dan ongkos-nya lumayan juga lhooo… Solusinya? Carilah kamar deket-deket kampus. Bahkan kalo bisa gue berniat mondok aja di perpustakaan atau di janitor room, hitung-hitung berhemat.

Bulan Juni 2016 nanti gue akan berangkat ke Melbourne untuk melanjutkan kuliah gue di Monash. Setelah ditimbang-timbang, gue merasa akhirnya menemukan pilihan yang tepat. Puji Tuhan, seluruh proses aplikasi gue semuanya berjalan dengan sangat lancar dan gue banyak dibantu. Selanjutnya gue bakal posting soal beasiswa LPDP. Stay tune ya!

Kalau ngomongin Melbourne, kayaknya rumah-rumahan di pantai ini
pasti selalu ada, Kayaknya ikonik banget ya? Si Lia pernah ngasih tau
nama pantai ini tapi gue lupa LOL. Gue bakal mampir kesana
pas udah di Melbourne nanti!
Source image: venuemob.com.au


*PS: Gue nggak dibayar sepeserpun sama ELC Manado. Apa yang gue tulis disini tentang mereka berdasarkan pengalaman pribadi. Bagi gue layanan mereka sangat baik. Buat lo yang berada di daerah Manado dan sekitarnya dan pengen kuliah ke luar negeri, gue sangat merekomendasikan tempat ini. Lo bisa tanya-tanya dulu dan who knows mereka bisa membantu? Update terakhir, pembuatan visa gue juga bakal diurus oleh mereka, satu lagi plus point karena gue nggak usah ke Jakarta.


*PPS: Salah satu faktor utama gue menjatuhkan pilihan pada Australia yaitu ketersediaan jurusan yang akan gue ambil. Meski overall kualitas kampus di Australia memang bagus, tetapi silakan mempertimbangkan negara lain sesuai dengan jurusan (atau ego) lo. Misalnya kalau lo mau belajar teknik mesin, gue pasti akan lebih merekomendasikan Jerman dibanding Australia. Jangan dipukul rata yaaa….