Oh, jadi kamu orang Manado? (Dan makna di balik pertanyaan itu...)

Tahun 2008 lalu gue akhirnya kembali lagi ke Jakarta setelah menghabiskan 10 tahun di Manado. Setelah kuliah, gue lanjut kerja selama kurang lebih 3 tahun. Awalnya, gue memang harus banyak menyesuaikan diri. Meski sebelumnya gue rutin berkunjung ke Jakarta setahun sekali, itu nggak cukup karena "tinggal di Jakarta" (dan akhirnya jadi penduduk Jakarta) dengan "berlibur di Jakarta" itu beda.

Salah satu hal paling mencolok yang gue rasakan adalah masalah latar belakang gue yang berasal dari Manado, Sulawesi Utara. Gue sebetulnya tidak menyadari perbedaan ini sampai ada yang terang-terangan memberitahu gue. Yang paling sering misalnya: "Eh, lo kok putih banget? Pake Frutablend ya?" Dan bingunglah gue menjawab pertanyaan itu karena gue nggak merasa putih-putih amat, apalagi pakai Frutablend.

Akibatnya, banyak teman gue yang sama-sama berasal dari Manado juga yang disangka keturunan Tionghoa tak lain tak bukan karena kulit kami yang cenderung lebih terang. Teman-teman cewek gue yang berasal dari Manado juga banyak yang naksir. Gue sering banget ditanya pertanyaan ini: "Emang cewek-cewek Manado cantik-cantik ya?"

Bagi gue pribadi, cantik dan ganteng itu relatif, nggak ada hubungannya sama ras. Biasanya gue hanya tersenyum jika mendengar pertanyaan semacam itu dan menolak untuk membahasnya lebih jauh.

suami idaman orang manado
Suami Idaman itu Orang Manado. Apa betul?


Kulitnya putih, cantik dan ganteng. Mendengar ini rasanya enak banget ya jadi orang Manado? Tapi oh tapi, itu bukanlah satu-satunya pandangan orang lain terhadap kami, orang Manado.

Gue pernah satu kerja kelompok dengan seorang teman yang berasal dari Jogja. Ibu si anak ini, sebut saja Tante X (bukan tante XXX ya :P) waktu itu kebetulan turut membantu karena beliau seorang desainer tas dan proyek kita adalah membuat semacam dompet dari kain.  Waktu itu gue sedikit kesulitan karena itu adalah pertama kalinya gue mencoba membuat dompet. Si Tante X mengobrol dengan gue, tanya-tanya soal kuliah gue dan akhirnya, muncullah pertanyaan soal latar belakang gue. Ketika gue bilang gue dari Manado, Tante X mengangguk seolah paham mengapa gue kesulitan, mencibir lalu nyeletuk tanpa di-filter. "Orang Manado cakep doang, tapi nggak bisa kerja."

Waktu itu gue sangat tersinggung dengan komentar Tante X yang bagi gue sangat kasar. Rupanya pengalaman semacam itu juga dialami adik gue yang bertamu ke rumah cowoknya untuk pertama kalinya. Orangtua cowoknya ini berasal dari Toraja. Ceritanya sama seperti pengalaman gue. Awalnya semua berjalan lancar, adik gue diterima dengan baik. Setelah berbasa-basi, dia mulai diinterogasi soal latar belakang keluarga. Dan ketika adik gue menjawab dia orang Manado, bak pasca-serangan negara Api, semuanya berubah.

Nyokap si cowo adik gue, sebut aja Tante T, langsung menyuruh anaknya naik ke lantai dua. Lalu, setelah adik gue tinggal sendirian di ruang tamu, dia terang-terangan bilang ke adik gue supaya jangan pacaran lagi dengan anaknya. Adik gue yang kebingungan cuma bisa bertanya "Kenapa tante?" dan dijawab dengan ketus, "Karena situ orang Manado. Cewek Manado nggak bener semua." Dan sejak saat itu, Tante T nggak pernah lagi memanggil adik gue dengan namanya seperti sebelumnya, tetapi dipanggil "Situ."

Itu bukan satu-satunya pengalaman nggak enak yang gue alami. Gue pernah propose proyek desain ke salah satu calon klien potensial. Setelah saling ngobrol lewat email, si klien ini tampaknya udah 80% pasti bakal pakai jasa gue. Kita udah ngomongin fee dan tinggal kirim beberapa materi dasar aja sebelum proyek dimulai. Sampai kemudian si klien menelepon gue dan bertanya soal tempat tinggal gue. Waktu itu gue nggak ada pikiran negatif apapun, dan dengan jujur gue jawab, gue tinggal di Manado. Si klien bertanya lagi, cuma tinggal di Manado, atau ada keluarga disana? Dan gue jawab, gue mix; nyokap orang Jakarta, bokap 100% Manado dan sekarang tinggal di Manado. Calon klien itu cuma menjawab, "Oh, begitu," dan langsung menutup telepon. Singkat cerita gue nggak mendengar kabar apa-apa lagi dari si klien sampai hari ini. Alasannya? Entahlah, gue nggak mau sesumbar tapi melihat kenyataan dia langsung mutusin kontak ketika gue menyebut latar belakang gue, mau nggak mau gue berpikir itulah alasannya.

Setelah gue teliti lagi, memang citra orang Manado di Jakarta itu nggak sepenuhnya baik. Di Jakarta, rupanya banyak orang Manado yang di-cap "cakep doang tapi nggak bisa kerja." Lebih parahnya lagi, mungkin seperti pengalaman adik gue: "Cewek Manado nggak bener semua."

Gue pribadi nggak membantah bahwa memang ada orang Manado yang seperti itu, modal tampang doang tapi nggak punya skill. Jangankan di Jakarta, di Manado-nya sendiri saja banyak kok yang seperti itu! Belum lagi citra "cewek Manado nggak benar / brengsek." Gue yakin pasti ada cewek-cewek dari Manado yang berprofesi tidak halal. Bukan hanya ada, bisa jadi banyak.

Kezia Roslin Putri Indonesia 2016 Manado Sulawesi Utara
Kezia Roslin, Putri Indonesia 2016 yang "kebetulan (?)" berasal
dari Manado. Nah, apa betul "semua" cewek-cewek Manado itu nggak bener?

Tetapi yang sangat gue sayangkan adalah generalisasi yang kemudian muncul. Apakah betul semua orang Manado itu "cakep tapi nggak guna", "nggak bisa kerja" dan "PSK"? Rasanya tidak seperti itu. Bagi gue pribadi ini bukan masalah ras-nya, tetapi balik lagi ke pribadinya masing-masing. Apakah ada orang dari ras lain yang menyerupai stigma itu? Gue yakin pasti ada. Masalah cakep atau kurang cakep juga bagi gue bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Toh nggak ada satupun dari kita yang bisa "request" bagaimana tampang kita nanti sebelum kita dilahirkan. We are born this way. Dan sekali lagi, cakep itu relatif. Apakah ini berarti orang "cakep" hanya berasal dari Manado? Gue rasa nggak seperti itu.


Gue memahami bahwa stigma seperti itu muncul dari sikap dan perilaku orang Manado juga. Hanya saja, mohon jangan di-generalisasi. Siapa yang harus mengubah stigma ini? Yang pasti, orang Manado sendiri harus turut serta mengubah pandangan ini; caranya yaitu dengan menunjukan bahwa kami nggak cuma cakep, tapi juga bisa kerja - dan kerjanya halal. Apakah kemudian dengan begitu pandangan masyarakat akan berubah? Bisa ya, bisa tidak. Gue pribadi juga nggak tahu. Kita lihat aja.