Jadi freelancer, oke nggak sih?

Freelance. Sebuah istilah yang punya sejuta makna. Kalo gue nyebut kata itu, apa yang muncul di pikiran lo? Duduk-duduk seharian terus ditimpuk duit segepok? Meski nista nian pemikiran macam itu tapi nggak bisa dipungkiri kalau banyak orang yang masih berpikir menjadi freelancer adalah solusi mudah untuk mendapatkan duit selain jadi karyawan / kerja kantoran.

Freelance. Kedengarannya indah. Tapi....
Freelance. Kedengarannya indah. Tapi....

Sejak awal 2015 lalu, status gue beralih dari yang sebelumnya pegawai swasta nan cetar membahana dari sebuah mall papan atas di bilangan Jakarta Barat dengan pendapatan tetap kena pajak (oke cukup lebainya) jadi freelancer. Kenapa gue jadi freelancer, nah itu bakal kita bahas di sesi lainnya, soalnya ceritanya cukup panjang dan mengiris hati. Well, nggak 100% nge-freelance sih karena gue juga punya usaha fotografi & videografi DojoCreative.

Setelah menjalani kehidupan sebagai freelancer selama kurang lebih 1,5 tahun, gue merasa udah cukup mendapatkan gambaran gimana sih sejatinya kerja sebagai seorang freelancer itu. Meski gue tau ini topik udah basi banget, tapi izinkan gue berbagi pengalaman gue sebagai seorang freelancer.

1. Bisa merasa kaya mendadak. Atau miskin mendadak.
Di Agustus 2015 tahun lalu, gue dapet proyek yang nilai total bersihnya sekitar Rp14.000.000,-. Dan gue nggak perlu masuk jam 9 pagi keluar jam 5.30 sore setiap harinya. Itu pure dari kerjaan freelance. Kalau mau dibandingkan, itu gaji 2,5 bulan gue sebagai pegawai tetap (per bulannya Rp5.500.000,- dan setelah sunat sana sini, sisanya cuma sekitar Rp5.200.000, :)

Seneng? Banget. Puas? Pastinya. Berasa kaya? Apalagi. Tapi oh tapi, proyek bagong kek gitu nggak dateng tiap bulan broh. Seringnya gue dapet jauh lebih sedikit dari segitu. Pernah dalam satu bulan gue hanya mendapat Rp400.000,- Intinya nilai pendapatan sungguh nggak tetap. Tips biar lo nggak bete karena pendapatan yang naik-turun kek bianglala ini adalah mencari klien tetap. Kalau klien lo puas dengan performa lo, ingatkan dia untuk mengontak lo kembali kalau memerlukan jasa serupa dan mempromosikan elo ke kenalannya. Meski terkesan malu-maluin, tapi promosi macam ini cukup efektif lo.

2. Hubungan lo dengan Google jadi makin mesra. Sosmed juga deh.
Dimana lo bisa mencari employer yang memerlukan jasa freelance? Google jawabannya! Dan nggak cuma nge-random ketik Google search: "Butuh jasa tukang korek upil freelance."
Dulunya gue seperti itu. Hasilnya memang banyak (secara Google getoooh) tapi seringkali kurang relevan mengingat Google itu ibarat tumpukan jerami dan lo hendak berniat mencari sepotong jarum.

Setelah beberapa bulan jadi freelancer dan kurang puas dengan pendapatan, gue mulai mencari lebih dalam. Bergabung di situs-situs freelancer macam Sribulancer atau Projects.co.id adalah salah satu caranya, tapi ingat, disitu saingan lo juga banyak. Opsi lainnya adalah lewat sosial media! Ya, cobain deh iseng cari: "butuh penulis artikel" di Twitter, Facebook dan Instagram. Lo bakal terkejut dengan hasilnya. Ngubek-ngubek sosmed demi sesuap nasi jadi ritual gue ketika lagi sepi klien. Oh, gue juga merekomendasikan Kaskus karena disitu banyaaaak loh yang nyari freelancer!

3. Lo nggak punya status sosial. At all. Siap-siap dibully!
"Eh, kerjaan lo sebenarnya apaan sih?"
Pertanyaan ini udah sering banget ditanyakan sama orang-orang yang kepo pengen tahu soal hidup gue ke gue sejak gue terjun ke dunia freelance. Dan jujur gue pun bingung jawabnya. Versi kece bahasa Enggres-nya adalah: "What do you do for living?"

What do I do for living? I do A LOT. Gue terima jasa desain grafis, mulai dari logo, cover buku sampe outdoor billboard, social media marketing, foto / image editing, penulisan artikel, fotographer, video editor, sampai bikin motion graphic. Sounds a lot? Yes because they are A LOT.

Seperti yang lo liat di pie chart ini, ga ada yang namanya freelancer.

Lo nggak bakal kayak para pekerja tetap macam bankir, akuntan, sekretaris, sales, dll yang bisa dengan mudahnya menjawab pertanyaan macam itu. Adanya lo ribet ngejelasinnya, apalagi kalau lo punya marketable skill yang lebih dari satu. Bokap gue aja sampe sekarang masih bingung kerjaan gue sekarang apa, karena tiap kali ditanya jawaban gue pasti beda: "Lagi desain packaging martabak!" atau "Lagi ngilangin jerawat!" atau "Lagi nge-tweet." Dengan kata lain, lo nggak punya status sosial. Nggak usah heran kalo lo dianggap pengangguran sama orang-orang yang nggak ngerti soal dunia freelance. Kalau di-bully semacam itu, saran gue adalah: ABAIKAN. Toh lo nggak jobless. You make your own earning, with your own way. Mo itu freelance kek atau jualan PIN konveksi, selama halal why not? Kalau kata Syahrini, HEMPASKAN. Pria dewasa masa kini anti mikirin yang nggak berfaedah.

4. Ansos
Bagian ini cukup jelas. Karena lo nggak punya kolega kerja atau bahasa kerennya coworkers, lo jadi nggak punya teman. Bukannya gue bilang lo jadi nggak punya pergaulan. Temen-temen lo yang lain pasti sibuk juga dengan kerjaan 9-to-5 mereka.

anti-social, social life, bullshit, quote
Ooookaaaay....... Probably true ;)


Ini terbilang ironis karena sebagai freelancer, lo bakal punya jadwal yang sangat fleksibel. Well, tergantung klien lo juga sih, karena ada tipikal klien yang nyembah DEADLINE. Tapi intinya, lo bisa lebih mudah mengatur waktu lo buat hang-out misalnya. Mau ke bioskop jam 12 siang, why not? Tapiiiii, ketika lo ngajak temen-temen lo, mereke PASTI bakal menolak atau menawarkan opsi: ABIS NGANTOR AJA YAAAAH? Di momen-momen kayak gini lo bisa merasakan epiphany as a freelancer sekaligus mengasihani temen-temen pegawai kantoran lo yang oh-so-poor karena nggak bisa seenaknya jalan-jalan menikmati hidup.

Saran gue, go out with your friends as much as THEY can. Karena waktu lo lebih fleksibel dari mereka, jadi mau nggak mau elo-lah yang musti lebih banyak ngalah. Bagaimanapun juga, friendship perlu maintenance dan lo juga butuh temen supaya nggak stress pas ketemu deadline atau klien yang galak dan banyak maunya!

5. You'll meet all kind of people. LITERALLY ALL KIND!
Setelah 1,5 tahun bekerja sebagai freelancer, gue udah menerima cukup banyak klien dari dalam negeri hingga mancanegara (yak, silakan tepuk tangan! :D). Nah, tipikal klien ini beda-beda. Ada yang asik, ada yang cuek, ada yang enak diajak kerja sama, ada yang strict banget, ada yang banyak maunya, ada yang diam-diam menghanyutkan, pokoknya - ibarat kata iklan Tokopedia: semuanya ada!

Gue pernah punya satu klien sosial media marketing yang pengen akun Instagram-nya rame tapi dia nggak mau pakai free image (gambar gratisan), nggak mau pakai free-vector, nggak mau pakai desain yang warna-warni, NGGAK MAU PAKAI HASHTAG, dan cuma ngasih gue logo sama foto produk-nya. Terus apa yang mau gue posting? Awalnya gue kalut ketemu klien strict macam itu. Tapi seiring berjalannya waktu gue belajar untuk memahami klien-klien ini secara mereka yang bayar gue. In the end, gue survive dan mereka bayar meskipun responnya flat aja gitu. Nggak happy? Nggak apa-apa. Asal jangan sedih juga.

Jadi freelancer membuat lo lebih banyak mengenal karakter orang. Bagi gue ini adalah salah satu life lesson yang penting banget. Selain itu lo jadi bisa mengenal diri lo sendiri: gue itu orangnya seperti apa, gue enjoy kerja dengan orang yang seperti apa? Ini berguna nanti kalau lo mau bikin bisnis. Lo udah tahu lo itu klop nya sama orang yang karakternya seperti apa.

6. Tanpa pengalaman dan portofolio, jangan berpikir jadi freelance dulu
Gue ketemu beberapa junior yang baru lulus kuliah dan udah berpikiran jadi freelance. Meskipun ini balik lagi ke pilihan personal, tapi dari pengalaman gue nggak bakal merekomendasikan mereka jadi freelancer.

Dunia freelance itu keras. Saingannya banyak. In order to stand out dan punya nilai jual supaya klien mau nge-hire elo, lo harus punya: PORTOFOLIO dan JAM TERBANG. Beruntunglah gue karena punya pengalaman kerja selama 2 tahun di Mall Taman Anggrek dan punya portofolio klien yang lumayan macam Nissan, Comforta hingga Hotel Mulia Bali.

Terus apakah portofolio dan pengalaman itu cukup? Nggak juga. Dari pengalaman gue, portofolio yang baik itu mampu menonjolkan kelebihan elo sekaligus menutupi kekurangan lo. Ngomong agak lebay dikit di portofolio oke-oke aja, selama masih bisa dipertanggungjawabkan. Kalau portofolio lo nggak meyakinkan ya sama aja. Kemaslah portofolio lo sebaik mungkin, kalau nggak bisa dihias sana-sini, setidaknya tampilkan portofolio yang tampak profesional.

Gimana cara dapat portofolio dan pengalaman yang menjual? Kalau lo seorang fresh graduate pilihan terbaik menurut gue adalah KERJA. Ya, kerja dulu. Jadi pegawai kantoran. Bukan berarti lo nggak bisa terjun langsung jadi freelancer. Lagi-lagi dari pengalaman, gue belajar bahwa ketika lulus skill dan knowledge gue itu masih sangat mentah, belum industry-ready. Satu-satunya cara biar siap adalah dengan kerja dulu. Bagi gue, idealnya 2-3 tahun kerja udah cukup kok. Mau lebih silakan, balik lagi ke pilihan masing-masing J Kalau lo nekad mau langsung nge-freelance, saran gue adalah banyak berdoa dan kuatin mental. Nothing is impossible J

7. Open-minded. Expand new horizon
Kendala budaya nggak gue temuin dari klien-klien lokal karena masih memiliki kesamaan latar-belakang. Tapi lain lagi ceritanya kalau ketemu klien asing. Selain karena perbedaan bahasa, gue juga menyadari bahwa basic budaya kita dan mereka itu berbeda.

Contohnya tahun lalu, gue ketemu seorang klien dari Polandia yang punya usaha catering di Semarang. Nah, memasuki bulan puasa, dia mau bikin promo buka puasa di sosial media. Di hari pertama Ramadhan, gue menyarankan dia untuk bikin ucapan selamat menunaikan ibadah puasa lebih dulu, baru selanjutnya disusul promo menu buka puasanya. Eh, si klien kurang setuju. Nah, setelah dibahas, gue baru nyadar bahwa klien gue ini masih asing dengan konsep puasa yang sebetulnya sudah cukup lumrah di Indonesia. Alhasil dia berterima kasih ke gue karena udah diingatin dan selanjutnya lebih "nurut" dengan masukan gue.

Bekerja sebagai freelancer bukan hanya memungkinkan gue bertemu rupa-rupa orang, tapi juga dengan beragam budaya dan cara pikir yang berbeda. Ini jadi pelajaran penting juga bagi gue karena mengajarkan gue untuk selalu bersikap open-minded. Jika bertemu klien yang belum memiliki kesamaan persepsi, saran gue adalah membicarakannya dengan si klien. Meski makan waktu, tapi inilah solusi yang paling nyaman.

It's is a fucking serious business!
It's is a fucking serious business!

Jadi, apa kesimpulan dari artikel kali ini yang panjangnya luar biasa kelewatan? Kesimpulannya adalah, jadi freelancer itu nggak seindah cerita-cerita kebanyakan orang. Gue pribadi termasuk orang yang rada cengeng sebelum terjun ke dunia ini dan gue akui bekerja sebagai freelancer sangat membentuk mental gue.

Lo nggak cocok jadi freelancer kalau:
·         Nggak mau repot, pengen segala sesuatu yang instan
·         Moody, nggak sabar, mental kerupuk, takut mencoba hal baru
·         Nggak punya portofolio dan jam terbang yang mumpuni
·         Belum bisa berdisiplin diri soal: time management, work attitute, dan money management


Kalau udah bisa menguasai poin-poin di atas, niscaya kita bisa sama-sama bergabung di dunia freelance. Good luck!