Orang Jakarta vs Orang Manado: Fakta Tersembunyi

Hari ini gue berniat untuk sharing sebuah pengalaman berkesan yang gue alamin kemarin. Sebenarnya gue udah berniat untuk sharing sejak kemarin lewat Facebook saking gregetan, tapi karena kepanjangan dan gue cuma ngetik lewat HP, alhasil niat tersebut dibatalkan karena gue udah keburu capek duluan :P

Ceritanya kemarin itu gue mampir ke kota Manado buat nonton STAR WARS. Gue tinggal di Tomohon, sebuah kota kecil di kaki gunung yang berjarak sekitar 40 km dari Manado. Untuk mencapai Manado dari Tomohon, kita perlu naik bus, melewati jalan sempit yang meliuk-liuk selama kurang lebih empat puluh menit. Buat yang belum terbiasa mungkin perjalanan ini bisa jadi menyiksa, tapi itu opsi perjalanan tercepat untuk sampai ke Manado.

Bus Manado Tomohon
Contoh bus yang dipakai untuk perjalanan Tomohon - Manado.
Kalau di Jakarta, bus-nya kurang lebih mirip Metromini.
Sumber gambar: tribunmanado.com


Dalam perjalanan pulang kembali ke Tomohon, gue kembali menumpangi bus. Jika perjalanan dari Tomohon menuju Manado adalah menuruni gunung, maka perjalanan pulang adalah sebaliknya alias menanjak. Sebelum naik, gue sebenarnya agak sedikit nggak yakin dengan keadaan bus yang akan membawa gue pulang. Bus itu sepertinya udah tua dan tampaknya kurang "fit" sehingga gue khawatir akan terjadi apa-apa, terlebih mengingat waktu itu udah sekitar pukul tujuh malam. Tetapi ketika mesin bus dinyalakan, derumannya kedengaran "prima", jadi gue berpikir bahwa kecemasan gue itu nggak beralasan sama sekali.

Sepuluh menit perjalanan, di daerah Winangun, bus itu mogok. Yap, mesinnya mati total. Yang bikin ngeri adalah, bus itu mogok di tengah jalan yang sedang menanjak. Sang sopir nggak bisa melepas rem. Posisinya waktu itu bener-bener repot. Kalau bus itu meluncur turun, bisa membahayakan pengguna jalan yang lainnya termasuk kita para penumpang bus itu sendiri.

Atas himbauan sang kondektur, gue bersama dua orang bapak-bapak berinisiatif mendorong itu bus ke pinggir jalan. Waktu itu gue berpikir para penumpang lain, terutama yang LAKI-LAKI bakal ikut membantu mendorong bus, tapi ternyata gue SALAH. Selain gue dan dua orang bapak-bapak itu, nggak ada satupun penumpang yang bergeming. Bahkan saking cueknya, seorang ibu-ibu sampai harus berteriak "Eh, yang laki-laki baku tulung kwa!" (Hei yang laki-laki, tolongin dong!) Tapi kata-kata si ibu nggak direspon. Para penumpang lain malah pura-pura sibuk main HP atau mendengarkan lagu lewat headphone.

Waktu itu bus dalam keadaan penuh, ada sekitar 25 penumpang. Empat orang, mendorong bus mogok yang terisi penuh di sebuah tanjakan di tengah lalu lintas yang padat BUKANLAH PEKERJAAN YANG GAMPANG. Gue takjub sekaligus kecewa dengan kecuekan penumpang yang lain, yang menurut gue lebih mementingkan kenyamanan pribadi.  Singkat cerita, empat "tukang dorong" ini berhasil membawa bus ke tepian jalan yang aman.

Sambil menunggu mesin bus diperbaiki, gue mengobrol dengan dua orang bapak-bapak sesama "tukang dorong". Gue merasa miris ketika tahu bahwa salah satu bapak-bapak itu ternyata orang Jawa, yang satunya lagi orang Tomohon yang sedang pulang kampung dari Jakarta. Istri si bapak-bapak dari Jakarta inilah yang tadi mencoba "menggugah" penumpang yang lain tapi sayangnya nggak digubris.

Gue pernah mengalami kejadian yang sama di Jakarta. Waktu itu Patas 157 yang gue tumpangin mogok di sekitaran Trisakti, Grogol. Waktu itu gue dalam perjalanan menuju kantor di Taman Anggrek. Kejadiannya agak mirip dengan peristiwa kemarin, dimana bus mogok di tengah lalulintas yang ramai.

Yang berkesan bagi gue adalah, waktu itu para penumpang berinisiatif untuk turun. Sebagian besar bahkan dengan sukarela membantu mendorong bus ke tempat yang aman. Waktu itu keadaan bus nggak penuh terisi, mungkin hanya ada sekitar 30 penumpang (Patas 157 termasuk bus besar dengan kapasitas sekitar 90 penumpang). Nggak ada yang sampai harus berteriak menyuruh para penumpang turun, apalagi membantu mendorong bus. Semua dilakukan dengan inisiatif penuh.

Gue nggak nemu gambar Patas 157, tapi buat kalian yang belum pernah liat,
bus itu kira-ira seukuran dengan Patas AC, cuma dia nggak pake AC.
Sumber gambar: flickr.com


Waktu itu gue sebetulnya merasa geli karena harus ngedorong bus mogok dalam perjalanan ke kantor. Tapi di saat yang sama, gue menyadari bahwa bus gede yang gue dorong itu kok ternyata nggak seberat perkiraan gue yah. Setelah gue pikir-pikir lagi, penyebabnya karena para penumpang berinisiatif turun dan sebagian besar ikut bahu-membahu mendorong bus, nggak cuma EMPAT ORANG, sementara 20 lainnya enak-enakan duduk di dalam sambil main HP dan pura-pura ngga tahu.

Kejadian kemarin malam membuat gue merasa kecewa sekaligus marah. Hal itu terjadi di Manado, sebuah daerah yang sering sekali berbangga diri dengan semangat "MAPALUS", semangat tolong menolong. Yang terjadi adalah, hanya 4 orang yang bersedia menolong, itupun sebagian BUKAN penduduk lokal. Gue sharing cerita ini bukan mau gembar-gembor soal perbuatan gue atau meminta recognition sebagai seorang pahlawan. Gue cuma kecewa.

Kalau lo tanya gue apakah orang Jakarta itu egois, mau menang sendiri, nggak punya semangat tolong menolong, gue akan pikir-pikir lagi. Karena pengalaman pribadi gue membuktikan yang SEBALIKNYA. Sikap egois dan nggak punya semangat tolong menolong itu malah gue jumpai disini, di daerah, tepatnya di Manado, BUKAN di Jakarta. Terlepas dari kejadian-kejadian lainnya, gue merasa pengalaman gue ini cukup layak dijadikan acuan.

Mapalus Semangat Gotong Royong di Minahasa
Mapalus: Semangat tolong menolong yang sangat dibanggakan
oleh masyarakat Minahasa, yang sayangnya tidak gue jumpai
dalam pengalaman mendorong bus kemarin.
Mudah-mudahan ini bukan jadi sekedar moto saja.
Sumber gambar: samratulangi-airport.com


Untuk cowok-cowok Manado lainnya yang asik duduk-duduk cantik sementara 4 orang lainnya kerja keras ngedorong bus mogok yang JUGA kalian tumpangi, gue cuma mau bilang: SHAME ON YOU. Cuma gara-gara lo cakep, kulit lo putih, badan lo bagus, bukan berarti lo pantas merasa diri lo lebih penting dari orang lain sehingga lo punya privillege buat nyantai sementara yang lain kerja. Remember, looks FADE. That kind of attitude will lead you nowhere, this world will not WAIT FOR YOU while you just sitting around, playing with your smartphones.

Demikian posting gue hari ini. Gue tidak berniat judging atau apapun itu. Gue hanya ingin berbagi pengalaman pribadi. Semoga bisa bermanfaat!


Keep rocking, fabulous and maintaining positive attitude :)