Thank you for the rain

Akibat pengaruh El Nino yang melanda Indonesia dalam tiga bulan belakangan ini, terjadi musim kemarau panjang di sebagian besar wilayah negeri ini. Gue sendiri sebetulnya kurang paham apakah El Nino ini ada hubungannya dengan bencana kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan yang memicu bencana kabut asap yang sungguh memprihatinkan itu. Tapi selain bencana kabut asap, satu hal yang sudah pasti ditimbulkan oleh si El Nino ini adalah keringnya sumber-sumber air.

Berita kekeringan ini sudah sering bermunculan di kolom-kolom berita dan setiap saluran televisi nasional. Pada awal Agustus lalu, gue menyaksikan sendiri penderitaan orang-orang di Jawa dan Nusa Tenggara akibat bencana kekeringan. Waktu itu gue masih bersikap acuh. I thought, well, ini memang lagi musim kemarau. Wajar saja terjadi kekeringan.

Until that disaster hit my hometown too.

Bencana Kekeringan di Indonesia
Tidak ada air! Source image: www.rmol.co
Sepertinya bencana kekeringan ini memang nggak pandang bulu. Entah bisa dibilang karma atas sikap cuek gue yang tidak pada tempatnya atau memang Tuhan itu MahaAdil, kurang lebih seminggu setelah gue menyaksikan berita kekeringan itu, gue mulai mendengar bisik-bisik cemas dari para tetangga soal sumur mereka yang mulai "turun". Turun disini artinya bukan turun berok tapi ketinggian air sumur yang mulai menurun. Kalau di Jakarta, kita senang setiap kali mendengar kabar "ketinggian air (di pintu air) menurun" karena itu artinya nggak bakal banjir. Tapi kata "turun" ini rupanya akan menjadi mimpi buruk di kampung halaman gue lima belas minggu kemudian.

Selanjutnya, bak tabrakan beruntun, semakin banyak orang-orang yang mengeluh soal turunnya debit air di sumur-sumur mereka. Waktu itu gue masih belum sepenuhnya notice (emang dasar kurang sensitif). Gue masih berpikir, yah nanti juga hujan turun dan wash out all these whining too.

Yang bikin gue sadar bahwa it was a real disaster ketika di suatu pagi, gue membuka keran untuk mandi. Disitu gue melongo. Nggak ada air sedikitpun.

Waktu itu gue berpikir mungkin mesin pompa air kita yang bermasalah. Gue melaporkan masalah ini ke pihak berwajib (a.k.a. nyokap). Sang pihak berwajib pun segera mem-follow up peristiwa ini. Muncullah audit sumur dadakan. Dari hasil audit, ketahuanlah bahwa yes ladies and gentlemen, we were officially running out of water!

Saat itu yang bisa dilakukan hanyalah menurunkan si mesin pompa semakin dalam. Dalam minggu-minggu berikutnya, ketika ketinggian air berangsur-angsur menurun, mesin pompa itu turun semakin dalam ke pusat bumi (oke lebay) hingga akhirnya menyentuh dasar sumur. Dua minggu setelah peristiwa audit tersebut, mesin pompa kita menyedot bukan lagi air, tapi lumpur dari dasar sumur. Disitu kita semua sadar bahwa, bahkan pada kedalaman enam belas meter di bawah tanah sekalipun, TIDAK ADA AIR.

Sebetulnya tinggal masalah waktu sampai sumur gue ikutan kering. Beberapa tetangga yang apes punya sumur lebih cetek udah lebih dulu kekeringan. Yang jadi ironi dari peristiwa ini adalah, Tomohon berada di kaki sebuah gunung. Gunung Lokon namanya. Kita berada di daerah dataran tinggi. Kebayang nggak sih yang di kaki gunung aja kekeringan, gimana yang di dataran rendah coba?

Bahkan bukan hanya berdampak pada manusia, tanaman-tanaman liar pun mati. Sawah-sawah mengering. Sungai dan kolam ikut surut. Akibatnya harga bahan pangan meroket. Di pasar tradisional, satu ikat batang bawang dibanderol Rp25.000,-! Satu liter buncis ditebus dengan harga Rp50.000,-!

Gunung Lokon Sulawesi Utara terbakar
Gunung Lokon terbakar. Source image: cybersulut.com
Peristiwa kekeringan inipun diperparah dengan kebakaran hutan. Sebagian besar hutan di daerah pegunungan di Sulawesi Utara mengalami kebakaran hebat. Gue ingat dalam seminggu, jalan di depan rumah gue nggak pernah sepi dari raungan sirena mobil pemadam kebakaran. Foto-foto bencana kebakaran hutan ini bermunculan di social media. Media lokal giat memberitakan bencana ini. Seruan untuk berdoa dan bertobat pun lantang digaungkan. Muncul hashtag #PrayforSulut.

Tak hanya sampai disitu, kekeringan itu lalu berimbas pada berkurangnya pasokan listrik dari PLTA Tanggari. Sebagian besar pasokan listrik di Sulut masih bergantung pada PLTA yang fungsinya ini sepenuhnya bergantung dari debit sungai. Akibat kekeringan, debit sungai menurun mengakibatkan kurangnya pasokan listrik. Alhasil, pemadaman bergilir pun dimulai. Tak tanggung-tanggung, dalam sehari pemadaman listrik bisa berlangsung sampai dua belas jam!

It sounds like I lived in hell. That's true.

Nggak ada air, nggak ada listrik. Bahan pangan harganya kelewatan. Arus listrik yang meye-meye ini pun mengakibatkan rusaknya beberapa peralatan elektronik rumah tangga.

Saat itu gue teringat betapa enaknya hidup gue di Jakarta dulu. Gue nggak pernah mensyukuri lengkapnya fasilitas penunjang hidup di Jakarta. Makanan dari harga Rp10.000,- porsi lengkap sampai sejuta semangkok pun ada. Tapi dulu gue selalu komplen soal polusi, kemacetan, banjir dan tindak kriminal di ibukota. I was rarely thankful for water and electricity in Jakarta which are less likely to be out of stock.

Sekarang setelah gue pikir-pikir, air dan listrik adalah kebutuhan primer hidup. I would better live with pollution and traffic jam rather than WITHOUT water and electricity.

Ketiadaan air dan listrik ini membuat kehidupan kita semua terganggu. Gue nggak bisa kerja. Para pegawai kantoran pun mengalami hal ini. Setiap minggu gue harus pusing mengemis air di tetangga-tetangga yang sumurnya belum kering. Mereka pun nggak mau ngasih banyak-banyak. Disitu gue merasakan betapa berharganya satu galon air. Jangankan mandi, untuk cebok saja repot. Belum lagi harus bengong dua belas jam dalam sehari. Rasanya sungguh sangat tidak menyenangkan, saudara-saudara!

Seolah belum cukup parah, nyokap gue harus terbang ke Jakarta buat acara wisuda adik gue. Alhasil, lengkaplah sudah kehidupan gue. No water, no electricity, no food, and motherless. Setiap hari gue harus memikirkan cara mengumpulkan air, lalu bebenah rumah, ke pasar, dan masak. Mungkin kedengarannya gue komplain tapi honestly speaking it was HARD. Setelah gue pikir-pikir, gue bersyukur melewati masa sulit itu. At least now I'm still in one piece.

Sekarang, bencana kekeringan ini sudah mulai mendekati akhir. Dua hari kemarin hujan mulai turun. Hari pertama terjadi gerimis waktu subuh. Hanya sedikit orang yang menyadari turunnya hujan karena kita semua masih pada tidur. It was quite a surprise to see the wet roads in the morning when I opened the door. Disusul kemarin, hujan lebat turun selama kurang lebih lima belas menit.

Gue nggak pernah merasa sebahagia ini melihat hujan setelah nyaris seratus dua puluh hari tanpa hujan.

Saat hujan turun, pikiran pertama yang muncul di benak gue adalah rasa syukur. Gue bersyukur kepada Tuhan bahwa akhirnya hujan turun. Bukan syukur sekedar syukur, tapi betul-betul RASA SYUKUR. GRATITUDE. Dan bahagia. Gue teringat kembali, seperti inilah rasanya hujan. Gue betul-betul menikmati hujan itu. Suaranya. Aromanya. I loved everything about it. Rasanya gue mau loncat keluar dan main hujan-hujanan andai saja gue nggak lagi kena flu.

Akhirnya gue menyadari satu hal. Kita tidak pernah bersyukur karena hujan. Selama ini kita menganggap hujan sebagai suatu proses alam yang pasti bakal terjadi, no matter what. Kita selalu berpikir, toh nanti juga hujan turun. Bahkan tak jarang pula, kita mengutuk hujan. Kita mengutuknya kerena bikin sepatu dan celana kita basah saat ke kantor. Karena membasahi ponsel kita. Karena bikin banjir. Karena bikin kita nggak bisa keluar rumah. Tapi masa seratus dua puluh hari tanpa hujan menyadarkan gue bahwa kita PERLU hujan. Hidup menjadi lima kali lipat lebih sulit hanya karena tidak ada hujan. Dampaknya betul-betul luar biasa.

I also see the rain as God's form of love to His creations. Sebelumnya gue nggak pernah membayangkan bagaimana tanaman dan hewan-hewan liar diberi minum. Kita manusia seharusnya bersyukur karena diberi kemampuan untuk MENCARI minum seandainya tidak ada. Kita protes kalau hujan turun, karena kita menganggapnya "merugikan" kita. Tapi tidak pernahkan kita berpikir, bahwa ketika hujan, Tuhan sebetulnya sedang memberi minum kepada ciptaan-Nya yang lain?

Singing in The Rain - Gene Kelly Movie
Aktor Gene Kelly dalam "Singing in The Rain". Source image: gaiaonline.com
Gue pun teringat akan film musikal lawas "Singin' in The Rain". Jika para aktornya bisa menikmati turunnya hujan, bahkan bernyanyi di bawah guyurannya, mengapa kita tidak? 


Now, every time the rain falls into the Earth, I look up to the sky with my brightest smile and whisper a little prayer, "Thank you for the rain."