#PorteOuverte : Wujud solidaritas Parisian melawan teror


#PorteOuverte-Paris-France-terror-eiffel-tower-berita-sharing
Seluruh dunia terhenyak oleh kejadian mengerikan yang terjadi di Paris, Prancis pada Jumat malam lalu. Saya sendiri pertama kali mendengar tentang berita ini melalui Twitter, dimana nyaris seluruh media massa internasional sibuk membicarakan apa yang terjadi di Paris.

Sungguh sebuah kejadian yang mengerikan! Menurut laporan, sedikitnya 150 orang meninggal dunia dan 200 lainnya terluka parah. BBC bahkan menyebut serangan ini sebagai "the deadliest" (yang paling mematikan) yang pernah terjadi di Prancis sejak Perang Dunia II. Presiden Prancis, Fran├žois Hollande pun tak segan menyatakan perang terhadap siapapun dalang di balik peristiwa teror ini.

Berbagai hashtags yang berhubungan dengan teror itu bermunculan di Twitter, seperti #PrayforParis, #WeAreNotAfraid, #Paris dan #JeSuisParis. Saya pun tak ikut ketinggalan dan turut meng-update status menggunakan salah satu hashtag itu. Selain sebagai wujud simpati saya terhadap Paris, juga sebagai ajang unjuk gigi (siapa tahu menambah follower, hehehe).

Oke, terlepas perbuatan aji mumpung yang  saya lakukan, perhatian saya jatuh pada salah satu hashtag lain yang turut menjadi worldwide trend, yaitu #PorteOuverte. Karena saya pernah satu setengah tahun belajar bahasa Prancis, kedua kata itu kurang lebih artinya Pintu Terbuka. Karena penasaran, saya meneliti hashtag itu.

#PorteOuverte-Paris-France-terror-eiffel-tower-twitter-berita-sharingApa yang saya temukan tentang #PorteOuverte membuat saya tercengang sekaligus terharu. #PorteOuverte merupakan wujud solidaritas para warga Paris terhadap para korban teror. Akibat teror malam itu, semua warga dihimbau untuk berada di dalam rumah. Mengingat waktu kejadian yang menjelang tengah malam, transportasi publik sudah tidak lagi beroperasi dan jalur keluar masuk Paris ditutup. Melihat ini, para Parisian (sebutan keren untuk warga Paris) tak sungkan membuka pintu rumah mereka untuk menyambut sesama warga Prancis lainnya yang tidak bisa pulang ke rumah untuk singgah sebentar di tempat mereka malam itu. Dengan menggunakan hashtag #PorteOuverte, para Parisian berbondong-bondong menawarkan perlindungan sementara bagi para korban yang membutuhkan tempat singgah.

#PorteOuverte-Paris-France-terror-eiffel-tower-twitter-berita-sharingJika Anda mengetikan hashtag #PorteOuverte di Twitter malam itu, Anda akan menemukan banyak Parisian yang menawarkan rumahnya sebagai shelter. Mereka menyebutkan alamat mereka dan berapa banyak orang yang bersedia mereka tampung. 

Peristiwa ini membuat saya sungguh terharu. Jika saya berada dalam situasi itu, saya PASTI akan segera mengunci diri di dalam rumah untuk memastikan saya aman dan BELUM TENTU bersedia membuka pintu rumah untuk menyambut orang-orang asing bermalam di tempat saya. Apalagi mengumbar alamat saya di lini massa macam Twitter. Memang disarankan agar tidak menyebutkan alamat #PorteOuverte secara langsung melalui tweet, tapi lewat direct message Twitter. Bayangkan saja, saya tidak mengenal orang-orang yang akan menumpang di tempat saya malam itu. Oke, sebut saya paranoid tapi bisa saja mereka adalah komplotan pelaku serangan teror itu dan tidak menutup kemungkinan rumah sayalah yang akan jadi TKP selanjutnya.

Terlepas dari segala ketakutan itu, hashtag #PorteOuverte tetap bermunculan. Berbagai media massa internasional turut membahas fenomena ini. Saya pribadi salut terhadap para Parisian yang meski sedang dilanda teror, tetap bersedia mengulurkan tangan membantu sesama padahal dengan resiko yang besar.

#PorteOuverte-Paris-France-terror-eiffel-tower-twitter-berita-sharing-facebook-notification#PorteOuverte memberikan saya satu pelajaran penting. Jika kita diserang, kita bisa saja panik dan memilih bersikap egois dengan menyelamatkan diri masing-masing ATAU bersatu dan bangkit. Para Parisian punya pilihan itu malam itu dan bukannya lari, mereka memilih BERSATU dan bahu-membahu untuk saling bantu. #PorteOuverte menjadi buktinya. Disini, media sosial juga berperan penting sebagai penyebar berita tercepat sekaligus termudah. 

Tidak hanya Twitter, malam itu Facebook mengaktifkan fitur pencarian korban. Saya yakin semuanya ini sungguh membantu Paris dalam situasi penuh teror semacam ini. Kita cenderung memanfaatkan media sosial sebagai tempat curhat dan "media ekspresi diri" padahal sebetulnya jika digunakan dengan baik, media sosial juga dapat memiliki fungsi "sosial" yang luar biasa.

Kita tidak tahu kapan peristiwa teror semacam ini akan berakhir. Saya berdoa kepada Tuhan agar perdamaian dapat segera tercipta. Terlepas dari apapun motivasinya, saya pribadi menganggap terorisme apapun bentuknya merupakan tindakan yang sungguh tidak berperikemanusiaan. Saya yakin apa yang terjadi di Paris, Prancis pada Jumat malam lalu telah menyatukan dunia sekali lagi dalam perang melawan terorisme. Jika Anda googling, Anda akan menemukan wujud simpati terhadap Paris mengalir dari seluruh dunia, dari New York hingga San Fransisco. Para pemimpin negara menyerukan tekad mereka untuk bangkit melawan terorisme.

Lantas apa yang bisa kita lakukan? Haruskah kita ikut berperang fisik secara langsung menghadapi para teroris? Saya rasa tidak perlu. Mulailah dengan hal-hal kecil. Menurut saya para Parisian telah memberi contoh yang baik. Tindakan seperti #PorteOuverte mungkin terlihat sepele, tapi jika dilakukan bersama-sama, saya yakin dapat memberi dampak positif yang besar.

Eventually, I have to say this. #PorteOuverte proves me that kindness will always stand tall even in the most unkind situation.


Paris, je t'aime!