Dream vs. Money: Sebuah Refleksi


Tanpa terasa, tanggal 10 Desember mendatang udah setahun gue meninggalkan Jakarta dan hidup di Tomohon ini.

Ada banyak hal yang terjadi dalam setahun ini. Bisa dibilang, gue belajar beberapa pengalaman yang sangat berharga. Banyak suka dan duka yang terjadi yang pastinya nggak bakal gue alamin kalau gue tetap di Jakarta. Salah satu pelajaran penting yang gue dapat yaitu soal Dream vs. Money (Mimpi vs. Uang). Inilah yang akan gue share di post Land of Fab kali ini. Tak ada maksud menggurui or what, I'm not into preaching. Just sharing :)

Mimpi. Sebuah kata yang indah. Siapa sih manusia di dunia ini yang nggak punya mimpi? Ada yang bilang, manusia bisa bertahan 40 hari tanpa  makan, 4 hari tanpa minum, 4 menit tanpa oksigen, tetapi TIDAK BISA BERTAHAN 4 DETIK TANPA MIMPI. Sounds serious, eh?

Oke, mungkin ada segelintir yang melabeli diri tidak ambisius tapi menurut gue pasti mereka punya impian terpendam. Begitu juga gue. Ada satu impian besar gue sejak kelas 4 SD. Gue pengen abroad, alias ke luar negeri. Bukan sekedar jalan-jalan ke luar negeri, but like stay for a certain period, maybe a year or two. Alasannya? Gue PENASARAN! Yes, I'm very curious about how it feels to live abroad, far away from your home country. Inilah salah satu alasan personal gue getol belajar bahasa Inggris dari dulu. I never take any formal English course, I learn it by myself because someday I know I'll go across the border to a foreign land across the sea. Saking seringnya gue cerita soal mimpi gue ini, sebagian besar teman-teman gue tahu soal ini. Simply because I can't stop talking about it!

Waktu di SMA, gue mulai mencari-cari alasan yang tepat supaya gue bisa ke luar negeri. A logic, acceptable and understandable reason. Saat itu gue memutuskan satu-satunya alasan yang paling tepat adalah, gue pengen BELAJAR. Call me a nerd but I always have this strong urge to continously expanding my knowledge a.k.a I love to learn new things. Gue udah menceritakan soal ini ke orangtua gue dan mereka setuju.

Karena berasal dari golongan keluarga menengah ke bawah, gue sadar bahwa gue nggak bakal sanggup membayar tuition dan living cost di luar negeri. They are all beyond my financial capacity. The only solution is simply to get sponsorship funding alias beasiswa. Yep, gue udah jadi pemburu beasiswa sejak dari bangku SMA.

Thankfully, gue mendapat beberapa beasiswa dari SMA hingga kuliah. Beasiswa-beasiswa ini sangat meringankan biaya pendidikan gue dan, honestly speaking, gue nggak bakal bisa jadi desainer seperti sekarang ini tanpa beasiswa-beasiswa ini. Sewaktu kuliah juga, gue menyadari bahwa gue sangat menikmati sharing dengan orang lain. Gue pun menetapkan cita-cita gue setelah kuliah master di luar negeri, gue akan kembali ke Indonesia dan mengajar di universitas sebagai dosen.

Tapi masih ada satu hal yang mengganjal gue sampai sekarang. Gue belum mendapatkan satupun beasiswa untuk kuliah di luar negeri.

Sejak lulus kuliah dari 2012 lalu, gue udah sangat sering browsing soal beasiswa ke luar negeri. Tapi dengan berbagai alasan, niat gue untuk apply selalu tertunda-tunda. Waktu itu gue berpikir sebaiknya gue bekerja dulu karena dengan bekerja, gue bakal punya penghasilan dan bisa membantu meringankan beban orangtua gue dalam ngongkosin adik gue yang baru masuk kuliah. Jadilah gue kerja di Mall Taman Anggrek sampai akhir 2014 lalu.

Apakah mimpi gue untuk ke luar negeri musnah? No, not entirely. Mimpi itu masih ada meski berdenyut semakin lemah ditengah himpitan tanggung jawab gue dalam pekerjaan dan sebagai anak laki-laki tertua dalam keluarga. Sejak tahun lalu, gue sudah memutuskan bahwa gue akan ke Jerman karena above all considerations, Jerman merupakan pilihan yang paling pas dari segala sisi untuk pendidikan. Mengenai rencana kuliah yang lebih mendetil akan gue bahas di post yang lain.

Sesuatu mengubah pilihan hidup gue pada akhir Desember 2014 lalu. Waktu itu, tiba-tiba gue teringat akan kondisi orangtua gue. Mereka nggak lagi muda dan, mengingat bokap gue yang separo lumpuh akibat stroke, butuh assistance. Waktu itu, keinginan gue untuk berbakti pada orangtua begitu besar sampai akhirnya gue rela resign dan pulang ke Tomohon. At that moment, yang ada dipikiran gue adalah: I'll do whatever I can to get money and in the same time, taking care of my parents.

Dan disinilah gue sadar.

Dengan modal yang pas-pasan, gue memutuskan untuk membuka usaha production house kecil-kecilan bareng Jerio. Sebetulnya gue sangat tidak sreg dengan usaha ini karena photography dan videography bukanlah passion gue. Tapi waktu itu gue berpikir, I should do something to get money and I have proper education background to do this. Berbekal embel-embel lulusan Digital Cinematography, dimulailah perjalanan production house gue dan Jerio yang bernama DOJO Creative.

Kami mendapat beberapa proyek dan klien dengan bayaran yang bervariasi. Ada klien yang hanya membayar 450 ribu per proyek, ada yang sampai 16 juta. Gue bersyukur akan semua itu tapi di lubuk hati gue yang paling dalam, gue masih merasa, this is NOT THE THING I want to do for the rest of my life.

Gue menceritakan masalah ini ke nyokap. Beliau memberi gue nasihat, "Apapun pekerjaannya, intinya toh tetap mencari uang." Waktu itu gue pikir-pikir nasihat nyokap ada benarnya juga. Gue akhirnya memaksakan diri gue untuk lebih commit menjalankan DOJO. Gue berpikir, sooner or later, I'll get used to it and who knows, probably love it.

And boy how I was wrong.

Setelah hampir setahun, gue makin merasa nggak greget. Bahkan nyaris hilang sepenuhnya. Impian di dalam diri gue berontak semakin kuat, berteriak keras-keras, "Ini bukan jalan hidup lo!" Gue berdoa meminta petunjuk dari Tuhan. Sampai beberapa minggu lalu, gue menemukan artikel interview dengan seorang penulis dan travel blogger, aMrazing. Gue menganggap inilah jawaban Tuhan atas jalan hidup gue.

Di artikel itu diceritakan bagaimana sepak terjang si aMrazing hingga menjadi sekarang ini. Sosok ini cukup populer lho, gue yakin kalian pasti kenal dia. Gue agak lupa siapa nama asli orang ini, tapi gue pernah baca bukunya yang cover-nya warna kuning, nah gue lupa juga judulnya. Bukunya berisi kumpulan cerita-cerita lucu dan menurut gue lumayan seru. Di interview itu si aMrazing bercerita bahwa dulu, sebelum jadi penulis, dia pernah buka konter hape. Penghasilannya pada tahun 2009 kurang lebih 10 juta sebulan! Wow, gue pun amazed. Tapi dengan penghasilan yang lebih dari cukup itu, dia malah memutuskan untuk mengejar karir sebagai penulis, mengikuti impian dia. Yes, itu konter hape DI TUTUP. Kalian pasti berpikir dia gila - well, gue juga - but look where he ends now!

Isi artikel ini mengguncang diri gue. Gue sadar satu hal penting yang selama setahun ini gue lupakan. It's NOT all about the money. Bukan masalah nyari duitnya. Memang betul kata nyokap, apapun jenis pekerjaan yang halal memang bertujuan untuk menghasilkan uang. Tapi APA PEKERJAAN yang kita pilih, itu yang menurut gue menjadi kunci utamanya.

Gue yakin dengan penghasilan tetap 10 juta per bulan pada tahun 2009 dan single, kehidupan si aMrazing pasti sangat nyaman. Bukannya gue sotoy, tapi gue pernah mengalami hal yang serupa. Hidup gue sangat nyaman sewaktu kerja di Taman Anggrek, meski penghasilan gue cuma setengah dari penghasilan si aMrazing dulu. Tapi gue nggak bahagia. Gue masih merasa ada yang kosong. Bahkan sampai sekarang.

Akhirnya gue menemukan kekosongan apa yang dimaksud. Kekosongan itu disebabkan karena gue BELUM mencapai impian gue, bahkan dengan bodohnya gue mengorbankan impian gue karena berbagai macam alasan.

"Pertandingan yang sesungguhnya selalu terjadi antara apa yang telah Anda capai dengan apa yang mungkin Anda capai." 
- Geoffrey Gaberino, peraih medali emas Olimpiade.

Gue mengamini sepenuhnya kata-kata di atas. Betul sekali. Gue mengalami pergumulan hebat (battle) karena gue tahu gue BISA mencapai impian gue, tapi sekarang gue malah ngelakuin pekerjaan yang sama sekali gue nggak suka, dengan alasan konyol untuk mengurus orangtua gue. Bukannya gue tidak bersyukur. Gue bersyukur bahwa DOJO jalan meski masih tertatih-tatih, tapi ada sesuatu dalam diri gue yang masih hilang dan menunggu terpuaskan. Gue selalu terbentur soal masalah mengurus orangtua.

Tapi nyokap gue pernah bilang, "Keinginan terbesar setiap orangtua adalah melihat anaknya sukses. Orangtua yang baik sudah selayaknya tahu bahwa inilah salah satu tugas utama mereka sebagai orangtua. Karena pada akhirnya kesuksesan anak-anak juga menjadi kesuksesan orangtua."

Pemikiran ini terus menerus mencecar gue. Gue mulai berpikir lebih jauh. Gue bisa terus mengembangkan DOJO, menjadi pengusaha. DOJO punya potensi besar untuk berkembang di masa depan. Setelah DOJO berkembang, uang bukanlah masalah bagi gue. TAPI apakah nanti gue akan bahagia? Apakah gue akan puas?

"Jiwa kita tidak lapar akan ketenaran, kenyamanan, kekayaan, atau kekuasaan. Jiwa kita lapar akan makna, akan perasaan bahwa kita telah menemukan cara untuk menjalani hidup yang berarti..." 
- Harold Kushner - penulis

MAKNA, itu dia jawabannya. Jika terus di DOJO, gue bisa melihat diri gue di masa depan, tapi bagi gue itu semua tetaplah sia-sia karena gue tidak menginginkannya. Gue bakal kehilangan makna hidup. Menurut gue, jika motivasi seseorang untuk menjadi seorang entrepreneur hanya untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, motivasi itu dangkal sekali. Gue tahu soal ini karena gue MENYAKSIKAN SENDIRI beberapa teman gue yang udah sukses jadi entrepreneur, tapi pribadinya berubah total. Mereka memandang remeh orang lain, menilai segalanya berdasarkan materi dan bahkan rela mengorbankan live values yang notabene jauh lebih berharga demi uang.

I don't want to be like them. I don't want to loose myself. I want to be the real me in the future, instead.

Bukannya gue mengatakan menjadi entreprenur itu salah. Itu pilihan masing-masing. Hanya saja, bagi gue life is not just about money. It's about finding personal satisfaction. Gue tidak tahu apa dampak kepuasan pribadi ini tapi gue yakin jika gue mendapatkannya, uang bukanlah lagi menjadi masalah.

"Kebahagiaan, kekayaan, dan kesuksesan adalah efek samping dari penetapan tujuan. Jangan jadikan mereka tujuan." 
- John Condry, psikolog

Akhirnya gue sepenuhnya sadar bahwa mengorbankan impian gue adalah perbuatan yang sangat bodoh. Yes, I made mistake, but now I realize it and determine to fix it. Gue akan berubah. Gue memutuskan untuk memupuk kembali impian gue dan berusaha mewujudkannya sekuat tenaga, semampu yang gue bisa. Gue tidak akan menyerah karena bagi gue, DREAMS are the fuels of life. Ketika gue mencoba mengubur mimpi gue, yang gue rasakan adalah hampa. Kosong. Tidak punya tujuan, tidak punya gairah. Kehilangan semangat hidup. Gue tidak mau merasakan itu lagi.

"Mengubur mimpi berarti mengubur diri kita, karena kita tersusun dari bahan-bahan yang juga membentuk impian. Tuhan ingin agar kita meraih potensi tertinggi kita." 
- John Maxwell, motivator.

Di akhir posting gue yang luar biasa panjang ini, izinkan gue berbagi quote yang bagus sekali dari Woodrow Wilson, mantan presiden Amerika Serikat.

"Kita bertumbuh oleh impian-impian kita. Semua (orang) besar adalah pemimpi. Mereka melihat sesuatu dalam kabut lembut musim semi, atau dalam nyala api merah di malam musim dingin yang panjang. Beberapa dari kita membiarkan mimpi-mimpi besar itu mati, tetapi yang lain terus memupuk dan melindunginya; memeliharanya dalam masa-masa sukar, sampai kepada sinar matahari dan cahaya, yang selalu datang bagi mereka yang sungguh-sungguh berharap impian mereka akan menjadi nyata."


NEVER GIVE UP ON YOUR DREAMS!