A New Beginning


Sebuah awal baru, itulah kira-kira terjemahan judul yang sok enggres dari posting gue kali ini.

Di hari Minggu ini, after weeks of self-reflection, gue memutuskan untuk menulis tentang pengalaman gue setelah sepuluh bulan di Manado-Tomohon, Sulawesi Utara.

Bulan Desember 2014 kemarin, gue memutuskan untuk resign dari kantor gue di Mall Taman Anggrek Jakarta dan pulang ke kampung. At that moment, I wasn't really sure that I want to return. Pas itu yang ada di pikiran gue adalah, well, udah 6 tahun gue nggak pulkam so I better return home this Christmas sebelum gue dicap anak durhaka dan dikutuk jadi batu.

Sampai Januari 2015 ini, gue masih delapan puluh persen yakin gue bakal balik lagi ke Jakarta. I had several offers dari beberapa perusahaan lain untuk posisi desainer dengan gaji yang (jauh) lebih besar and, not to mention a teaching offer by Untar yang nongol di akhir Januari. Saat itu gue sangat senang. Gue merasa sangat dekat untuk meraih mimpi gue menjadi dosen. I'm dying to be a lecturer. I love teaching! Gue udah sampai tahap dipanggil untuk interview sebelum semester dimulai bulan Februari nanti.

And I said 'No'.

It was easy to say it tapi setelah itu gue sadar actually it was REALLY hard. Yang bikin gue menolak offer itu adalah orangtua gue. To accept that offer means gue harus balik lagi ke Jakarta dan meninggalkan orangtua gue lagi and to be honest gue nggak tahu kapan gue bisa balik lagi kesini.

I think every eldest child in a family realised that they have this obligation to look after the family no matter what it takes.
Even if it costs his / her life.

Oke, mungkin gue agak sedikit menggeneralisasi disini. The truth is, there is no such obligation. Kita kan punya yang namanya FREE WILL. Artinya lo bebas ngejalanin hidup lo semau lo dan, dalam pandangan yang lebih demokrat, you only responsible for your own life. Lo nggak wajib ngurusin orangtua lo. Banyak temen-temen gue yang berpikiran seperti ini, mereka berpendapat, well, gue harus kerja karena gue kan nanti bakal married and establish my own family. Kalo gue udah kaya, nanti juga gue bakal bisa ngurusin orangtua gue.

Kata "nanti" ini yang bikin gue worry.

Kita sebenarnya nggak tahu kapan "nanti" itu. Ada yang bilang, there's no perfect timing, NOW is the only perfect moment because we're living the present, not the future and not the past. Saat ini gue punya waktu dan keinginan yang cukuplah buat ngurusin orangtua gue. Adik gue masih kuliah dan dia cewek. Jadi, technically gue orang yang "tepat" untuk tugas ini.

It was easier to say than to do.

Tahun ini bokap gue genap 60 tahun dan nyokap gue 55. If my older sister were still alive, they would already had grandchildren. Mereka selalu bilang, they don't need assistance yet. Mom and Dad are fine, we're perfectly capable of  taking care our own self. Tapi kenyataannya gue tahu bahwa itu tidak sepenuhnya benar. Waktu gue di Jakarta, nyokap gue pernah nelpon beberapa kali di tengah malam untuk "mengabari" bahwa dia merasa sedikit "tidak enak badan". Meski dia bilang, dia nggak apa-apa, tapi gue kurang yakin. Intinya, I can't forgive myself if something bad happens to my parents and neither I or my sister were there to look after them.

Singkat cerita, gue terima tugas ini. Gue tergoda untuk menggunakan istilah "take the bullet" but there's no bullet in this case and if it was, I could dodge it. Gue nggak mau kedengaran nggak ikhlas.

Menjadi ikhlas itu sudah. Banyak sekali yang harus gue korbankan dengan tinggal disini, di Tomohon, sebuah kota kecil di kaki Gunung Lokon di Sulawesi Utara. Dari Jakarta ke Tomohon is a major change. Dengan berat hati gue harus mengikhlaskan yang namanya entertainment. The closest cinema is 30 km away with land trip. Begitu juga dengan lingkungan sosial. Sampai detik ini gue merasa risih ikutan social conventions disini. Sebagian adalah religious groups and I don't feel quite religious right now. Di Jakarta, teman-teman gue cukup banyak. Bahkan kalau mau dipikir-pikir, 60% teman-teman gue ada di Jakarta. And I have no real job yet.

Kedengarannya seolah gue kehilangan nyaris semuanya. Benar.
Tapi gue nggak kehilangan keluarga gue.

To be brutally honest, family is the only thing that keeps me going. Tanpa mereka, mungkin gue udah tenggelam dalam depresi. And I might kill myself. Losing a "life" in age 25 is a HUGE deal.

Keadaan sedikit lebih membaik belakangan ini. Maret kemarin, gue dan Jerio - one of my boy yang udah gue temenin selama satu dekade terakhir - memutuskan untuk lauched our new business venture, Dojo Creative. Basically Dojo is a creative agency. Scoop job kita kebanyakan fotografi, videografi dan multimedia desain. Kita sempat bikin kegiatan eskul filmmaking di dua sekolah dan I sad to see that it didn't go well.

Singkat cerita, usaha gue ini mulai jalan. Dalam 9 bulan terakhir gue udah balik modal 94%. Ini sedikit lebih cepat dari perkiraan gue. I was expecting breakeven in a year. Hopefully sisa 6% nya itu bisa terwujud dalam satu bulan ke depan. Ada beberapa klien yang memakai jasa kita. Project terbesar kita nilainya 16 juta sementara yang terkecil 450 ribu. Gue bersyukur atas semuanya itu.

But something is still missing.

Gue nggak tahu apa itu. Oke, tepatnya gue belum tahu. Gue masih mencari. Income Dojo masih jauh dari expektasi gue. Rata-rata dalam sebulan pendapatan gue adalah 2.5 juta. Ini cukup standar untuk ukuran Manado, tapi hanya 45% dari gaji gue sebelumnya. Lo mungkin berpikir bahwa ini masalah uang dan jujur gue menjawab, betul, salah satunya adalah uang.

Dan kepuasan batin.

Kata orang-orang, the best job memberi lo kepuasan batin (dan finansial, tentunya). Best job ini biasanya lo lakuin sesuai passion lo. Honestly speaking, foto dan video bukanlah passion gue. Sebagian besar temen gue tahu kalau gue udah "melacur" ke graphic design sejak gue masih kuliah di jurusan Film. Tapi film dan foto-lah yang justru gue lakuin sekarang. Secara finansial gue bisa bilang, yeah, it's pretty cool tapi batin gue belum puas. Apa yang bisa bikin gue puas, sampai saat ini gue belum tahu. Bahkan gue mulai ragu apakah teaching bisa memberi gue kepuasan itu.

Until this moment, everything seems wrong. Everything feels wrong. Rasanya gue kayak mencoba memasang keping puzzle yang salah di ceruk yang salah. Gue nggak tahu sampai kapan "fitting by force" ini bakal berhasil. It may works at the end. It'll be more relaxing if at least I know when it will happen.
Jadi kalau ada yang bilang kalau mid-20s itu adalah fase pencarian jati diri, gue harus bilang, yes, it's absolutely true. And you're not just looking for yourself. You're looking for EVERYTHING.


Hopefully I'll find them soon. One by one.