Pengan datang tapi nggak diundang...

Kali ini gue bakal bercerita tentang suatu peristiwa kondangan.
Oke, dari judulnya kalian mungkin menduga-duga gue bakal ngomongin
kondangan mantan yang mana gue kepengen datang tapi nggak diundang.
Hmm, sayangnya sampai saat ini gue masih jomblo ting ting yang belum
pernah merasakan (nikmatnya) pacaran so, yang tadi sotoy, selamat, lo salah.
Hehehe...

Jadi ceritanya bulan Agustus kemarin salah seorang temen gue, sebut saja Jes,
nanya ke gue soal foto dokumentasi. Gue, Jos, ketemu si Jes ini waktu di SMP,
sempat terpisah pas SMA dan akhirnya dipersatukan kembali di bangku kuliah.
(Oke lebay). Kalo dibilang temen deket sih nggak, tapi menurut gue (yes, dua kata
barusan di-italic) kita temenan cukup akrab. Apalagi pas zaman kuliah. Kita satu
kelompok ospek bareng dan karena sama-sama berasal dari daerah, gue merasa
nyaman ngobrol sama dia pake bahasa daerah (ngana kita torang lalampa rica-rica).
Kita juga punya mimpi yang sama, yaitu sama-sama pengen abroad. Gue pengen study
di luar negeri (yang sampe sekarang tak kunjung tersampaikan) sementara dia pengen
jalan-jalan ke Eropa dan by the God's grace, nikah sama salah satu bule-bule itu.

Di kampus kita beda fakultas. Tapi kita masih sering ketemuan karena sama-sama
gabung di "geng" anak-anak dari Manado. Singkat cerita, gue diwisuda duluan sementara
Jes harus extend satu semester lagi karena skripsinya bermasalah. Pas gue mulai kerja
gue mulai jarang kontak sama Jes. Kita baru kontak lagi kira-kira setahun kemudian.
Pas itu Jes udah keterima kerja di salah satu creative agency di Jakarta.

Pas ketemuan itu, kita ngobrol panjang lebar. Jes ternyata udah berhasil abroad dua kali,
pertama ke Aussie terus kedua ke Spain. Mendengar cerita dia, 
gue cukup senang sekaligus jelesAkhirnya mimpi temen gue kesampaian. 
Di pertemuan kita yang kedua, Jes ngenalin gue
sama seorang bulek cowok, sebut saja Bambang.
Singkat cerita, Jes ketemu sama si Bambang ini di Spain and one thing led to another,
mereka pacaran. Yang lebih bikin gue surprised, ternyata si Bambang udah gebet pengen
ngajak Jes kawin nikah secara dia lebih tua beberapa tahun dari Jes.

Terus, karena satu dua alasan, baliklah gue ke Manado pas Desember 2014 kemarin.
Gue masih kontak-kontakan sama Jes. Dia cerita kalau mereka bakal married bulan
Agustus tahun ini. Di obrolan yang berikutnya, Jes nanya ke gue soal foto dokumentasi.
Dia tahu kalau gue buka usaha fotografi.

Layaknya teman lama, Jes minta harga cincay ke gue.
Ya udahlah, gue kasihlah dia harga XX juta. Yang  mana harga segitu itu 
SETENGAH harga pasaran foto dokumentasi wedding di Manado.
Tapi setelah tahu kalo ternyata wedding-nya si Jes sama si Bambang
ini tanggal 19 Agustus, sadarlah gue bahwa kemungkinan besar gue nggak bisa
dateng karena adik gue bakal di wisuda di Jakarta.
Tapi gue meyakinkan Jes bahwa, no problemo, partner sama pegawai gue bisa
handle acara dia kok. So basically everything was completely under control.

Masalah mulai ketika Jes minta DISKON lagi.
Alasannya adalah, dia lagi on budget dan it was not a big wedding.
Dia sama si Bambang nggak gelontorin dana sebanyak APBN dalam menggelar
pesta pernikahan sebagaimana yang dimaksud.
Gue bilang ke dia, well, gue udah kasih diskon amat sangat banyak lho.
Gue nggak bisa potong fee lagi karena gue bayar pegawai dan perlu transport
ke venue acara yang letaknya di kabupaten lain (jauhnya macam Jakarta-Bogor gitulah).

Jes mulai kedengaran ragu-ragu. Lalu dia minta sampel contoh foto gue.
Disini gue mulai melihat kalau dia ragu. Si Jes beralasan, si BAMBANG lah yang
pengen melihat contoh-contoh karya gue. Gue kasih tahu ke dia, kalo foto dokumentasi
itu ya layaknya lo foto-fotoin acara orang biasa, cuma bedanya nanti ada
foto bersama di panggung sama di gereja aja. Nggak ada yang gitu-gitu spesial,
namanya juga foto dokumentasi. Beda sama foto prewedding. Si Jes bilang
kalau dia nggak pake prewedding. Sampai disini, keraguan dia untuk
menggunakan jasa gue udah semakin kentara.

Akhirnya gue bilang ke dia, "Jes, kalo lo ragu, ya nggak apa-apa.
Cari yang lain aja, di Manado fotografer tuh banyak. Cuma gue nggak
yakin kalau lo bisa dapet harga yang seperti gue tawarkan."
Ini memang bener. Gue kan punya banyak link temen2 sesama fotografer,
jadi taulah gue berapa rate foto dokumentasi wedding disini.

Dan disitulah obrolan kita berakhir. Jes  nggak merespon, gue pun nggak
bertanya-tanya lagi karena gue anggap dia nggak tertarik.
Gue juga nggak ngasih tahu dia kalau wisuda adik gue diundur sampai Oktober
karena ya itu, gue anggap kan dia nggak bakal pake jasa gue.

Gue tinggal menunggu undangan.

Lalu tiba-tiba selewat tanggal 19, gue menemukan foto-foto nikahan Jes
di timeline Facebook gue, hasil postingan seorang temen gue.

Disitu kagetlah gue.
Wedding-nya Jes ternyata dibikin di salah satu resort yang cukup wah
di Manado, Sutan Raja. Fee di resort ini lumayan mahal. Setau gue
starter pack untuk wedding itu mulai dari 100rb/orang, minimal 300 orang.
Harga segitu untuk standar Manado termasuk lumayan.
Dan seinget gue, Sutan Raja juga menyediakan jasa fotografer internal.
Kalau udah ambil wedding package disitu, harga fotografer internal-nya
juga pasti bakal kena diskon.
Maka yang jadi pertanyaan gue, ngapain si Jes nanya-nanya ke gue waktu itu?

Gue bertambah kaget setelah tahu kalau beberapa teman gue dari
Jakarta jauh-jauh terbang kesini untuk hadir di acara Jes.
Menurut sumber-sumber gue yang terpercaya, mereka diundang.
Ini yang bikin gue rada sakit hati. Yang dari jauh aja diundang tapi
Jes sama sekali nggak ngundang gue,
ataupun sekedar basa-basi buat datang ke wedding-nya.
Ternyata hal ini juga diamini oleh beberapa temen-temen Jes disini
yang juga nggak diundang.

Gue nggak tahu apa alasan Jes nggak ngudang gue,
dan gue nggak mau menduga-duga. 
Takutnya gue nuduh yang enggak-enggak.
Tapi satu hal, gue kecewa.

Gue kecewa karena selama ini gue menganggap Jes adalah teman gue.
Gue tidak kecewa karena dia nggak jadi pakai jasa gue.
Bahkan setelah gue pikir-pikir, Desember 2014 lalu sebelum gue pulang,
Jes udah sempat nyeletuk soal rencana pernikahan.
Saat itu gue iseng ngomong, "Nanti gue fotoin deh," dan gue inget
jawaban dia adalah: "Nggak usah Jo, nanti lo jadi tamu aja."

Kenyataannya adalah gue nggak jadi tamu sama sekali.
Gue pengen dateng, tapi gue sadar, gue nggak diundang.
Gue bisa aja dateng tiba-tiba, tapi gue nggak mau dianggap sebagai
tamu nggak diundang.

Pengalaman ini menyadarkan gue satu hal:
Terkadang kita menganggap seseorang sebagai teman kita,
tapi ternyata dia tidak menganggap kita demikian.
Rasanya sakit memang, TAPI disitu pun gue inget bahwa
meski demikian, ada TEMAN-TEMAN yang menganggap gue
beneran TEMAN mereka.
Dan gue bersyukur buat teman-teman gue itu.
Even you too, Jes. I'm happy for you.


Happy wedding, my friend.