Jakarta Book Fair, Periplus 30-70% sale atau Kinokuniya Mid-year Sale?


Setiap menjelang liburan sekolah, Jakarta pasti digempur berbagai macam sale yang berhubungan dengan buku. Tidak hanya bazaar buku, beragam even dari Wedding Exhibition sampai PRJ digelar untuk menyemarakan HUT Jakarta yang memang berdekatan dengan liburan sekolah.

Kali ini, saya tergiur dengan tiga bazaar buku besar yang sedang berlangsung di Jakarta. Sebagai seorang book-worm sejati, ini bagai tiga surga tumplek-blek jadi satu. Hmm, meski dompet kurang menunjang, toh saya tetap bela-belain untuk datang ke acara itu.

 Pertama ada Jakarta Book Fair. Pameran buku terbesar kedua di Jakarta ini dibuka tanggal 23 Juni lalu. Kebetulan saya datang saat acara pembukaan. Daaan, sesuai yang saya bayangkan, ini memang surga bagi pecinta buku! Meski baru sampai ke Istora Senayan menjelang maghrib, semangat saya langsung meroket begitu masuk ke ruang pameran. Bayangkan saja, ada manuskrip bertuliskan tangan entah dari abad berapa yang turut dipamerkan di acara ini! Dari buku dan majalah jadul dengan kertas yang sudah menguning sampai bestseller terbaru yang mejeng dengan gagah di atas rak show-off, semua ada disini!  Dan pastinya dengan harga yang menggiurkan! 

Selama ngider-ngider, saya harus mencengkeram si dompet kuat-kuat, supaya dia nggak sering-sering mangap. Tidak hanya buku, berbagai majalah, komik dan buku-buku impor juga ada disini. Stand Etnobook misalnya, saya terbengong-bengong melihat buku desain (yang terkenal super mahal) diobral kayak kerupuk: harga normal 987rb, disini dilepas 150rb-an saja! “The Movie Book”, buku impor yang aslinya 200rb-an (Amazon.com) disini kena diskon habis-habisan jadi 50rb saja! Disini akhirnya saya membeli selusin majalah Concept  edisi lama (10ribu saja per item!) yang sudah tidak terbit lagi untuk melengkapi koleksi. Adik saya mencomot 2 buku resep yang bagus seharga total 10ribu. Sayangnya sebagian buku baru disini hanya kena diskon 20% sehingga harganya masih agak mahal seperti di Toko Buku (Gramedia juga lagi menggelar diskon 20% dan promo beli 3 novel gratis 1). Jadi apa bedanya? Saya pun pulang sambil menenteng dua belas buku dengan pengeluaran hanya 90ribu saja. Hmm, rasanya cukup puas meski dalam hati agak menyesal kenapa harus cekak di saat yang salah seperti ini.

Lanjut!

Hari Kamis kemarin, seorang teman memberitahu saya soal sale Kinokuniya dan Periplus di Fx. Dari cerita Marlon yang begitu persuasif, ybs membawa pulang setengah lusin novel seharga total 100rb saja! Berhubung sangat consumer-minded, saya pun tergiur untuk icip-icip lagi. Manalagi katanya sale itu bakal selesai tanggal satu nanti. Wah, waktunya mepet nih! Selesai ngampus saya langsung tancap gas kesana …

Saat menyambangi Fx, tekad saya sudah bulat untuk tidak “gelap mata”. Sebagai antisipasi, saya hanya bawa 300rb saja. Let’s see… seberapa banyak yang bisa dibawa pulang dengan 300 ribu?

Kinokuniya menggelar sale di area basement, dan letaknya pun agak ngumpet di pojokan sehingga saya harus tanya-tanya satpam dulu untuk mencapainya. Dari kejauhan sudah kelihatan susunan buku-buku art yang mencuri hati. Oke… tahan dulu! Saya mulai sibuk bongkar sana bongkar sini meski dipelototi oleh mbak-mbak SPG-nya. Mungkin saya dicurigai klepto kali ya. Judul-judul yang ada disitu ternyata tidak begitu menarik karena didominasi novel-novel wanita (Danielle Steele, serial Gossip Girl) dan anak. Dari segi harga, ooow, ternyata masih MAHAL! Rata-rata berkisar 50ribu ke atas. Saya hampir pergi, tapi tertantang cerita Marlon yang katanya dapat novel impor seabrek harga grosiran disitu. Hmm… dimanakah gerangan buku-buku itu?

Akhirnya setelah menelusuri sampai ke pojok, saya menemukan buku-buku yang memang “sale”. Novel-novel impor dipukul rata 20-ribu, tebal tipis besar kecil. Tidak hanya novel, sejumlah buku bisnis, manajamen dan astrologi turut dilabeli kisaran harga sama. MANTAP! Sayangnya, saya tidak familiar dengan penulis-penulis disitu. Begitu pun judulnya, semua terasa asing. Sinopsisnya pun tidak ada yang cukup greget buat saya. Saya putar haluan mengecek majalah. Tapi sebagian besar hanya ada Elle, Vogue atau Cosmopolitan yang digelar 25rb per item. Huh, minat saya langsung nge-drop! Akhirnya saya pergi dari situ setelah membeli satu novel: “Elixir” oleh Davis Bunn, itu pun karena risih diikuti terus sama sang mbak-mbak SPG. (Mungkin ybs bingung melihat saya wara-wiri tanpa memegang satu buku pun!)

Dari basement, saya naik ke lantai 1 dan langsung ketemu dengaaaan… sale Periplus! Wah… wah… Semangat saya naik sedikit. Mungkin disini saya bisa menemukan buku-buku bagus harga miring. Hohoho!
Saat melihat harga di beberapa novel impor (I Am Number Four, Game of Throne dan seri lanjutan The Immortal Nicholas Flamel) saya bertanya-tanya apa betul ini sale. Soalnya, harganya sama dengan diskon normal alias nggak murah-murah amat! Novel seharga 120rb turun jadi 80rb. Lho, kok malah lebih mahal dari Kinokuniya ya? Minat saya langsung amblas. Yah, memang dasar orang Indonesia tulen. Maunya yang murah, bagus dan banyak. Kata teman saya, kalau bisa 2000 rupiah dapat serauk! Hehehe….

Saat muter-muter lebih jauh, saya menyadari kalau diskon yang diberikan tidak sebesar yang saya harapkan. Eh, pas saya siap-siap cabut dari situ, salah satu mas-mas SPB-nya nyamperin saya dan ngomong:
“Ini harga-harganya belum dipotong diskon lho mas…”
Awalnya saya pikir dia menunjuk buku tak berlabel yang sedang saya pegang. “Yang ini mas?”
“Bukan,” kata si SPB. “Tapi semuanya.”
Nah lo! Batin saya. Jangan-jangan saya salah venue. “Lho, di labelnya dibilang, ‘harga 130rb, kini 80rb’”.
“Bukan mas. Itu belum dipotong diskon. Nanti masih kena diskon 30-70% lagi…”
WOOHOO! Jadilah hari ini semangat saya ciut ngembang kayak balon. “Oh gitu,” saya angguk-angguk. “Kalau begitu yang ini (mengulurkan salah satu buku resep Gordon Ramsay) harganya berapa dipotong diskon?”
Si SPB cuma ngeliat buku itu dan ngomong. “Nggak tahu. Mas silakan tanya di kasir saja.”
Otomatis saya menoleh ke antrian panjang orang-orang dengan segambreng buku di pelukan. Ting! Mendadak saya sadar. Oalah… ternyata mereka mau ngecek harga buku, bukan mau antri bayar! Pantesan, tadi saya kira kok sale yang ini diserbu banget ya. Ternyata bukan saya satu-satunya yang bokek disini.

Atas informasi si SPB saya pun membawa 5 buku resep dan graphic design ke kasir untuk di cek harganya. Kena diskon tapi tidak seheboh harapan saya. Novel berlabel 130rb hanya dop jadi 90rb. Mana diskon 70%-nya? Menyebalkan! Mental “Indonesia” saya kambuh lagi. Dan satu lagi, ternyata proses ini juga bikin keder.

Setelah buku-buku saya di sensor, si kasir langsung tanya ke saya, “Ada lagi mas?”
“Iya, itu saja.”
“Totalnya 375ribu. Oi dul, ambilin plastik yang gede satu!”
WHAAAAT???? Wow, wow, wow… STOP! Tadi kan saya cuma berniat mengecek harga, tapi kenapa malah ditotal? Dengan kagok saya menjelaskan ke si mas kasir kalau saya cuma mau tau harganya saja. Saya buru-buru pindah ke rak paling ujung dan pura-pura tertarik ke buku tentang menjahit. Tak berapa lama, saya mendengar seorang ibu-ibu ber-Singlish ria, kayaknya ikutan “komplen” ke si kasir karena bernasib sama dengan saya. Hmm, saya segera memutuskan tak mau lama-lama disitu. Bisa-bisa tambah keder nanti. Saya hanya membeli tiga buku resep mini seharga 28rb. Proses pembayaran pun saya tuntaskan secepatnya tanpa berlama-lama ngobrol dengan para kasir. Oh ya, bagi para pecinta kuliner, disini banyak buku resep bagus seperti kumpulan resep-resep Gordon Ramsay, masakan Asia, Eropa serta bacaan interaktif untuk anak.

Akhirnya saya menyimpulkan, mungkin kali ini saya belum beruntung. Yah, mengingat dompet juga sedang cekak, jadi pilihannya tidak banyak. Makanya sekarang saya nabung untuk book-sale berikutnya: Indonesia Book Sale akhir tahun nanti yang dengar-dengar diskonnya lebih dahsyat lagi. Hmm, semoga nanti saya bisa dapat banyak buku hanya dengan 100ribu saja! We’ll see!