Film Asik: The Intouchables [France]


 The Intouchables
 Release date: 2 November 2011
 Genre: Drama comedy
 Starring: Francois Cluzet, Omar Sy
 Director: Francois Cluzet


Rasanya aneh bagi saya, seorang praktisi film yang belum menelurkan satu film layar lebar pun untuk me-review Intouchables, film berating 8,4 di IMDB dan menyikat habis nyaris seluruh nominasi Cesar Awards 2012. Hal yang harus diingat bila membicarakan Intouchables adalah, pertama, ini film Prancis. Kedua, disutradarai Francois Cluzet, si langganan nominee Cesar. Ketiga, film ini diangkat dari kisah nyata. Cliché, ya… saya tahu kok.

Film ini mengetengahkan hubungan dua tokoh utama yang memiliki karakter saling tolak belakang. Phillipe (Cluzet), seorang aristokrat bergelimang harta yang lumpuh dari leher ke bawah, mencari orang yang tepat untuk menjadi pengganti tangan kakinya. Pada saat “audisi”, tanpa sengaja Philippe menemukan Driss (Omar), seorang pria kulit hitam eks-napi yang sebetulnya tidak bersedia mengisi pekerjaan itu.

Disinilah plot berkembang. Seperti yang sudah bisa ditebak, film ini mengeksplorasi total hubungan keduanya; bagaimana Driss mencoba menjadi pengasuh yang baik bagi Philippe sehingga dia tidak dikembalikan ke Dinas Sosial dan bagaimana Philippe mencoba beradaptasi dengan rekan barunya yang ugal-ugalan. Beberapa subplot muncul untuk sedikit mengimprovisasi cerita, humor yang dapat diterima secara umum tersebar dengan tepat di setiap potongan scence dan sejumput drama dicemplungkan sebagai penutup.

Di luar visualisasinya yang mencengangkan (khas produksi Eropa), saya heran mengapa film ini mendapat apresiasi begitu besar. Bagi saya, cerita yang dibangun terlalu dangkal, subplot yang diselipkan datar, latar belakang masih abu-abu serta drama yang dipakai sudah pasaran. Sampai akhir film saya bertanya-tanya bagaimana hubungan awal Driss dan keluarganya. Disitu hanya diceritakan bagaimana keluarga Driss menolaknya setelah dia bebas dari penjara karena dia menganggur. Tidak ada efek keluarga hancur berkeping-keping yang pastinya bakal sukses menyayat hati. Begitu juga dengan Philippe. Akting Cluzet terlalu “normal” untuk ukuran penderita quadriplegic – tidak ada tanda-tanda stres pasca-kecelakaan yang harusnya sedikit ditunjukan. Untuk ukuran kekakuan tubuh, well, saya rasa sukses. Dari segi teknis, tidak ada variasi angle, perspektif yang digunakan pun standar nan menjemukan. Kekuatan visualnya, sekali lagi, yaitu keindahan setting Prancis itu semata. Tidak lebih.

Jika dibandingkan dengan Le scaphandre et le papillon [The Diving Bell and The Butterfly – 2007) yang memiliki latar belakang cerita hampir mirip, Intouchables masih terlalu naïf. Sebetulnya setiap kisah nyata yang menginspirasi film ini merupakan amunisi yang ampuh (ingat bagaimana La vie en rose membombardir Oscar?), hanya saja potensi ini kurang digali dengan sempurna. Malah cenderung membosankan jika ditonton oleh penonton yang kurang peduli.