Film Asik: Modus Anomali


Tantangan memunculkan ide segar bagi film Indonesia terasa kian berat kala beberapa tahun terakhir gaung untuk mengedepankan kualitas daripada komersialitas seolah dibungkam dengan angka penjualan tiket film berkualitas di dalam negeri yang terjun bebas. Lemahnya apresiasi masyarakat tak mengurungkan niat Joko Anwar untuk merilis film barunya berjudul Modus Anomali yang berani muncul sebagai film kelas festival dengan citarasa komersial di tengah kemelut yang sedang dihadapi dunia perfilman tanah air. 

Modus Anomali jelas dipersiapkan untuk berkompetisi di berbagai ajang perfilman internasional, terbaca dari dialog yang sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris, setting dan plot yang tak lazim bagi film Indonesia kebanyakan, serta banyaknya penggunaan sumpah serapah dan aksi brutal tidak manusiawi yang lebih condong ke budaya Barat. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Sensor Film yang sudah dengan bijaksana tidak mensensor satupun adegan tidak terpuji dan memunculkan kategori Dewasa untuk film ini. Pernyataan Joko Anwar saat diwawancara oleh majalah Cinemags yang menyebutkan bahwa film ini tidak sepenuhnya bergenre thriller terbukti benar, karena saat menonton Modus Anomali maka anda akan bertemu unsur acak mulai dari suspense, psikologis, horror, action, bahkan gore. Tak heran, sang sutradara mengklasifikasikan genre film ini sebagai one of its own

Taktik promosi yang bagus, dengan iming-iming cerita yang berbeda dari film Indonesia kebanyakan membuat saya tergerak untuk menjadi yang terdepan dalam menonton film ini. Sebenarnya, kehausan akan film Indonesia berkualitaslah yang membuat saya tak mampu lagi membendung hasrat untuk membeli tiket di show pertama pada hari pertama pemutarannya, setelah terakhir kali keinginan untuk menonton Sang Penari yang membawa pulang piala Citra untuk kategori Film Terbaik 2011 harus sirna karena bentrok dengan urusan perkuliahan. Keinginan saya pun terpuaskan saat scene demi scene yang bergulir begitu memukau dan memanjakan mata. Sinematografi apik yang dihadirkan didukung oleh kamera beresolusi tinggi serta faktor yang sering diabaikan pada banyak film Indonesia yakni sound editing dan sound mixing digarap dengan amat brilian. Nyaris tanpa cela, teknis film ini masih membawa angin segar lainnya yakni treatment kamera dan angle yang digunakan membuat penonton merasakan sensasi nyata setiap kejadian yang dialami tokoh utama.

Modus Anomali Joko Anwar Review Film Indonesia
Rio Dewanto didapuk menjadi pemeran utama di Modus Anomali


Dari segi akting, Rio Dewanto yang meskipun masih terbilang baru di dunia perfilman mampu menyelami karakter yang ia mainkan dengan baik. Performa Rio di film ini kian memunculkan taringnya sebagai aktor watak berkualitas, yang saya yakin akan membuat bangga para terdahulu seperti Didi Petet dan Slamet Rahardjo. Rio sendiri sudah sepatutnya berbangga hati. Membawakan karakter kompleks yang dihadapkan pada situasi janggal hingga akhir film bukanlah hal yang mudah. Ia harus menunjukkan emosi kaya ekspresi tanpa menjerumuskan karakternya. Kompleksitasnya meningkat seiring dengan cerita yang makin rumit, dan sang sutradara menolak untuk menekan pedal rem hingga akhir film sehingga hampir tak tersisa ruang bagi karakter yang dimainkan Rio untuk bernapas. Tokoh ini selain menjadi motor penggerak cerita juga bertugas sebagai katalis yang harus memanfaatkan semua potensi yang dihadirkan oleh para tokoh pendukung. Kematangan seorang Rio Dewanto terlihat ketika secara piawai ia mampu mengembalikan mood cerita yang sudah menyerempet keluar jalur masuk kembali secara mulus, sekaligus ia mengambil kesempatan untuk menciptakan ruang sendiri bagi karakternya meskipun itu tidak luas. Jenius. 

Seharusnya tidak terlalu sulit untuk menikmati suguhan tegang, menantang dan menembus batas ala Joko Anwar ini. Layaknya film lain yang bertema serupa, hal terpenting yang dibutuhkan adalah konsentrasi penuh dari awal hingga akhir film. Titik kulminasi yang telah disiapkan akan ditemukan dengan mudah dan anda akan lebih nyaman dalam mengikuti ceritanya. Film ini tidak akan membawa anda ke intensitas jenuh selama anda patuh kepada persepsi tokoh utama dan ikut berpikir secara out of the box seperti sang kreator karena dengan demikian anda tidak perlu mengernyitkan dahi terlalu lama dan akhirnya keluar teater dengan mulut menganga lebar.