Album Review: One Direction - Up All Night



One Direction Up All Night Album Cover Review IndonesiaAlbum: Up All Night
Artist: One Direction
Release Date: November 2011
Genre: Pop, Dance

Ada beberapa hal penting yang bakal menjadi jaminan kalau boyband yang satu ini bisa jadi huge, seperti Backstreet Boys atau Westlife. Pertama, grup ini besutan Simon Cowell (yes, that Simon Cowell). Kedua, para anggotanya adalah kontestan The X-Factor – yang, meskipun gagal mencapai final, tapi sukses mendarat sebagai finalis di Top 3. Ketiga, they’re Irish!

Meski single pertama mereka yang berhasil menggebrak UK chart tahun lalu adalah “What Makes You Beautiful”, tapi itu bukan lagu pertama mereka yang saya dengarkan. Saya pertama kali kepincut dengan One Direction saat mendengarkan “One Thing”. Single inilah yang baru-baru ini berhasil menaklukan Billboard 200. Hal pertama yang melintas di benak saya saat itu adalah: “Backstreet Boys is coming back!” Setelah dipikir-pikir, rasanya terlalu dini menyamakan One Direction dengan Backstreet Boys.

Satu hal yang menarik dari boyband ini adalah kesamaan karakter suara dari kelima anggotanya. Sesuatu yang common pada fenomena boyband, tetapi sebetulnya merupakan senjata utama yang sangat vital. Inilah yang membuat lagu-lagu mereka terdengar kompak di telinga saya. Pembagian vokal pun dilakukan secara adil karena setiap anggota bisa saling mengisi.

Sebagai boyband, lagu-lagu mereka membawa saya bernostalgia ke era kejayaan boyband pada pertengahan tahun 90-an. Sedikit sentuhan elektronis dan lebih banyak gebukan drum dan petikan gitar – bukankah itu ciri khas boyband? Lirik-liriknya sederhana, beberapa puitis. Beat yang rapi, apik, dan tepat menjadi menu utama One Direction dalam album debut mereka ini. Lagu-lagu seperti Gotta Be You, One Thing, More Than This dan Up All Night begitu lovely sehingga susah bagi kita untuk setidaknya ikutan mengetuk-ngetuk kaki. Tidak hanya lagu-lagu upbeat, beberapa ballad seperti Taken dan Moments disisipkan sebagai variasi. Tidak terlalu cengeng, tapi cukup menyentuh. Tidak sampai disitu, usaha mereka untuk lebih adaptif dengan trend electro-pop ditunjukkan lewat Stole My Heart dan Save You Tonight. Tidak terlalu “kental” untuk membuat David Guetta berdecak, tapi sudah lebih cukup untuk standar Timbaland.

Meski demikian, bagi saya album ini belum terlalu fokus, aliran yang diusung masih terlalu “abu-abu”. Pop memang, tapi masih mengambang. Saya menghargai usaha mereka untuk mencuri hati para pecinta electro-pop, tapi mengapa harus so-that fashion driven? Cukup bersahabat bagi telinga dan bisa obat cuci mata yang ampuh (empat personil kelahiran ’93). Mereka punya “the star aura” yang berpotensi mensejajarkan mereka dengan The Jonas Brothers dan Bieber. Ditambah debut-timing yang tepat (rasanya semua orang sudah nyaris jenuh dengan musik elektronik, bukan begitu?), One Direction bisa menjadi the next “IT” thing in music industry! Finger crosses!