Film Asik: Harry Potter and The Deathly Hallows Part 2


I was about physically cry. A lot. Like a baby. Totally. Duh.

Ini adalah film yang paling gw tunggu tahun ini. The final movie of one of the greatest franchise FOREVER! Setelah perjuangan panjang nge-tweet kesana-kemari dengan harshtag #IndonesiaWantsHarryPotter , akhirnya mimpi itu kesampaian juga. Thank you Potter fellas around the globe. Now Indonesia could watch Harry Potter!

Apa yang bisa gw bilang? Special effect yang keren, nuansa yang jelas lebih dark, mature dan a bit bloody than the previous movies – plus acting dari para casts nya yang total! Sebagai Potter fan yang udah baca bukunya, gw 75% puas. Yah, dibandingin film-film sebelumnya, harus gw akui, this one is the closest version on the book.

Gw sebenarnya suka sebel sama orang-orang yang Cuma nonton, tapi ngga baca bukunya. Sorry, I don’t think they’re really a Potter fan. Harry Potter books are ten thounsands greater than the movies. Mereka Cuma nangkep yang disajikan di layar sementara kita yang udah baca bukunya, pasti nyadar kalo ada missing parts ato something wicked. Setiap kali nonton HP, gw harus ngomong agak keras kalo ada penonton lain yang mulai nyeletuk, (misalnya kayak di film terakhir ini): “Itu Voldemort ngambil tongkat siapa sih?” ato “Keluarga Weasley siapa yang mati?” or worse, nyangka filmnya udah abis pas Harry di-avada kedavra sama Voldy di Forbidden Forest. Gw sama ade gw harus teriak teriak: “Belom. Belom abis. Film-nya belom abis,” pas penonton lain udah kecewa dan mo pulang sambil menggerutu: “Yah, Harry-nya mati!” Beberapa ada yang udah beneran pulang sebelum epilog. Padahal itu bagian yang lumayan ditunggu (to check on Ron’s belly, the cute Albus Severus Potter and awkward look of 35 y.o. Ginny Potter).

Oke, balik ngomongin filmnya.

Dari segi cerita, gw salut sama Steve Cloves yang somehow udah simplify bagian mencari Hocrux di Hogwarts, apalagi pas bagian interview with the gray lady. It wasn’t that simple, we all know. Voldemort hide the Ravenclaw diadem somewhere in Albania – that’s what the book tells us. Tapi ngga mengganggu. Gw senyum-senyum sendiri atas perubahan kecil ini yang thankfully simpler to understand than the books version.

Dari segi teknis, film ini almost flawless. No comments.

Sepertinya sandungan di setiap Potter movie adalah dari segi plot-nya... Beberapa bagian still left unexplained, seperti kenapa tiba-tiba Mrs. Weasley gabung sama McGonagall, Slughorn n Flitwick di bagian melindungi kastil? Ato peran Hagrid yang sangat-sangat minim – mengingat Hagrid adalah karakter favorit dan cukup penting sejak awal dan cukup dominan muncul di HP 1. Beberapa kissing part terasa agak berlebihan, misalnya pas Hermione berhasil menghancurkan Hufflepuff cup di kamar rahasia (I was like: Oh please!). Yang paling mengecewakan menurut gw, yaitu ending dimana Harry menghancurkan tongkat sihir Elder – yang totally diffrerent with the book version. It’s like stated that Harry doesn’t wanna be with his wand anymore, but with Draco’s. Padahal sebenarnya adalah, Harry ngepake tongkat sihir Elder buat nge-reparo tongkat dia yang patah.

Ending Harry Potter ini menyisakan 25% ketidakpuasan di hati gw – meski beberapa bagian favorit gw bener-bener divisualisasi secara dahsyat. (Mrs.Weasly duel-to-die part with Bellatrix was another super tight cats fight!). Begitu juga bagian dramatis kematian Voldemort. Dan bagian mengharukan dimana para guru Hogwarts berusaha melindungi kastil.

Meski begitu, gw berharap 25% sisa kekecewaan ini bakal dipenuhi lagi di film Potter berikutnya. What? Yes, the next Potter film – or I should say; remake. Ini belakangan jadi hobi baru Hollywood. Meskipun jarang ada franchise legendaris yang di-remake (Spider-man?) gw tetap berharap dan menanti the other version of Harry Potter franchise. Maybe on that movies, the triplets Daniel, Emma and Rupert would role as Hogwarts teachers. Who knows?

Draco dormiens nunquam titilandus!