Film Asik: A Little Thing Called Love; Kisah cinta yang mengharukan


Awalnya gw agak ogah nonton film ini. Tapi karena banyak banget temen-temen gw yang ngomongin film ini dengan antusias (“Gilaaaa! Lo harus nonton Joe!”) dan hampir semuanya klepek-klepek (“Mario Maurer unyu abis!”), mau nggak mau gw nonton juga. Sebenernya gw sangat avoid nonton romantic movie, karena masalah sepele, gw ogah bakalan autis duduk sendiri di bioskop yang semuanya diisi sama couples yang lagi galau masalah cinta.

Setelah kurang lebih satu setengah jem, gw terbuai dengan indahnya LOVE. Pas nonton perasaan gw bener-bener campur aduk, gw ikutan ger-geran, ikutan malu-malu, ikutan sedih, ikutan deg-degan, ikutan berharap dan ikutan jatuh cinta. Dan gw yakin bukan Cuma gw yang ngerasain ini. Semua orang yang nonton juga keluar bioskop dengan dua ekspresi: penuh cinta buat para couples dan iri setengah mati buat yang single (baca: gw).

Ceritanya sih sederhana banget dan common. Seorang cewek buruk rupa naksir sama senior cowoknya yang – menurut temen-temen cewek gw – unyu abis. Okay, this might sound gayish but Mario Maurer is quite-much cool (no offense ladies!) Si cewek ini blind-folded by love dan ngelakuin segala cara buat ngedapetin cinta si cowok. Akhirnya si cewek berhasil bertransformasi dari ungly duckling jadi swan princess dan beraniin nembak si cowok yang sayangnya udah jadian sama cewek lain. Tapi ternyata si cowok juga suka sejak dulu sama si cewek. Sembilan tahun kemudian, mereka ketemu dan (kayaknya) nikah. 

Comments? Yap. So sweeeeeeettttt.... >_<;

Gw salut sama penulis naskah dan pemilik ide cerita film ini. Mereka bisa mengangkat plot yang begitu sederhana dan mengemasnya dalam packaging yang pas. Kenapa kemudian film ini laris manis ditonton orang? Simple answer: Everyone has love and ever feel love. Inilah yang menurut gw membuat orang bisa get into this movie so quick. It happens in their life, this little thing called love. Everyone feels it; love, the universal language. 

Intinya, everyone’s got the point.

Tapi bukan berarti film ini nggak ada minus-nya. Mario Maurer boleh jadi cowok terunyu sejagad tapi gw ngerasa dia kok nggak gitu pas ya mainin tokoh seorang atlit sepakbola? Mungkin karena citranya sebagai cowok cute yang lebih cocok jadi drama prince. He’s not that muscled – quite even skinny as athlete. Terus director’s shot yang biasa banget dan penggalian karakter pembantu yang kurang dalam – jadi kesannya selain si Nam sama si Shone (the couple-wannabe in this movie), menurut gw yang lain kayak sekedar numpang lewat.

Hal lain yang bikin gw cengar-cengir adalah; THIS IS A MOVIE VERSION OF MY CURRENT LOVE LIFE! Ada begitu banyak kesamaan antara love life gw sama scences di film ini – mulai dari masalah waktu sampe pegang-pegangan tangan. Gw shock sendiri pas nyadar di bagian tengahnya. Kalo mo dliat dari plotnya, love life gw sekarang ini sampe pada titik mo nembak. Mudah-mudahan gw nggak harus nunggu sampe 9 tahun buat dapet jawaban “Ya”. Well, at least I know kalo si dia juga sebenernya suka sama gw... (Awawawawawawawaw.... galau-najis-capcus mode on).

Akhirnya, harus gw akui bahwa film ini sukses secara komersil. Selain diluar faktor X; the cuteness of the main actors, ceritanya juga sederhana, touchy dan easy to understand. Film Indonesia mungkin harus belajar dari film Thailand yang satu ini. Dari segi budget gw yakin nggak gede. Daripada bikin film horor mesum mulu, kenapa nggak bikin film romantic comedy kayak gini? Gw pribadi berpendapat, film yang oke nggak harus selalu punya plot rumit kayak Inception, atau semata-mata mengandalkan cast oke aja kayak Twilight. Simple story, flawless cast, there you go... It doesn’t have to  always be remarkable. Be remembered is just fine.