Fashionista or Fashion-victim?


Penting nggak sih keep up sama fashion?

Mungkin kalian nyadar, kalo semua anak gaul zaman sekarang memiliki seragam wajib yang pasti dipake kemana-mana:

1. Skinny jeans
2. Kacamata gede berbingkai tebel

Kedua fashion items itu kayaknya wajib punya bagi siapa aja yang pengen dapet predikat “stylish”. Selain itu, masih ada lagi fashion items yang jadi trademark today’s youth generation: kemeja kotak-kotak, tas tangan gede or tas kanvas dan sneakers. Bukan Cuma outfits, dari segi style pun ada beberapa standard look: emo haircut or bob for girls dan curly (gimbal) yang belakangan juga ikut-ikutan nge-tren. Berbagai benda-benda yang “wajib” menjadi pelengkap style ini juga kembali bermunculan: vespa, Lomo camera with its unique effect, helm batok dan iPod – yang gw anggap sebagai “reinkarnasi” tape yang dulu sering digotong-gotong anak-anak 80’s. Blackberry is an special exception. 

Entah disadari atau tidak, tren ini, khususnya fashion, sebelumnya udah pernah ada sekitar dua puluh-tiga puluh tahun yang lalu. Pas zaman bokap nyokap kita baru lahir (The 60’s), skinny jeans bener-bener must have fashion item. Dua puluh tahun sesudahnya – saat mereka pacaran kali yak - (The 80’s), kacamata gede adalah bentuk kacamata paling umum yang dipake orang-orang. Motive, patterns, materials, everything used in today’s youth fashion is really come from the past. Retro is back!

Memahami fenomena ini, pasti banyak yang mikir, does fashion go backwards?  Bukan berarti mundur, tapi mengulang fashion style di suatu periode waktu di masa lampau. Pertanyaannya sekarang adalah: apa emang bener para fashion designers n stylist udah sebegitu kehabisan ide sehingga harus recycle ide-ide yang udah pernah muncul?

Well, if you guys keep up with the catwalks, sebenernya nggak gitu juga. Fashion yang sekarang digandrungi oleh youth all over the world ini termasuk dalam kategori pop culture (thanks to Andy Warhol) dan gw pribadi menyebutnya indie style (mungkin ada istilah lain yang lebih resmi dari itu, gw ga tau). Runaway fashion – istilah gw untuk menyebut koleksi fashion items yang selalu update– sendiri berjalan tetep maju. Inovasi-inovasi dalam runaway fashion style tetep dilakukan; salah satunya yaitu animal/ motive print dan pemakaian neon color palette. Recycle hanya dilakukan jika ada momen-momen penting saja.

Sebagai seseorang yang mengaku diri youth dan hidup di zaman penuh dilema dan kegalauan ini (BAH!), gw menyadari bahwa seseorang harus at least memiliki dan berani berpenampilan dengan salah satu fashion item tersebut supaya bisa bener-bener disebut “gaul”.  Sorry to say, gw agak kurang nggak setuju dengan stereotype kayak gitu.

Karena gw merasa kata-kata berikut keren, maka izinkan gw menaruh-nya dalam quote:
Fashion means style. Fashion is not something the models wear over the catwalks. Fashion is what you are wearing, and it should makes you look good on itMetamorphosis.

Contoh paling sederhana; kayaknya zaman sekarang nggak ada cowok yang nggak punya skinny jeans, ato dikenal dengan salah satu merek-nya yang paling top: N*die. Jins yang sempitnya bener-bener kelewatan itu sangat digandrungi – beberapa bahkan sukses menyaingi legging yang dipake cewek-cewek.

Pertanyaan gw sekarang; pantes nggak lo pake itu?

Gw sering ketemu orang-orang yang sukses memukau gw dari segi confident dan keberanian dalam ber-fashion; mereka PD pake skinny meski tubuh mereka gemuk luar biasa, ga peduli mereka kelihatan kayak segitiga kebalik kalo jalan (gede diatas, nyusut di bawah). Ato mereka yang berwajah kotak yang ikut-ikutan pake kacamata retro yang malahan tambah membuat muka mereka bersiku kayak balok-balok Tetris. Sejumlah cewek yang gw jumpai nekat make kemeja gombrong meski tubuh mereka super skinny dan alhasil malah membuat mereka kelihatan “tenggelem”.

Apa ini yang disebut fashion?

Mungkin sampe sini kalian berpikir gw adalah cowok sinis yang Cuma bisa sirik sama orang lain yang pake skinny dan kacamata retro dengan leluasa. Well, bukannya gw nggak bisa. Gw cenderung “memilih dan memilah” mana yang COCOK gw pake. Fashion also means GOOD MIX AND MATCH. Brave and innovative mix and match bisa jadi stand-out, tapi bukan berarti bagus. Contoh nyata: Lady Gaga. Dia jelas seorang fashion icon. Dia dapet predikat itu karena dia innovative dan brave creator. Tapi jelas, baju-bajunya dia nggak daily wearable. 

Please, avoid to think this way: if the models look good on those items, so I am. Sebagai gambaran, seorang model cowok itu tingginya minimal 182 cm dan beratnya MAKSIMAL 60 kg. Model cewek: 175 cm, 50 kg. Baju itu kelihatan bagus KETIKA dipake oleh ukuran tubuh seperti itu.

Bukan berarti gw discourage kita semua buat jadi katro. Well, today’s fashion was the past’s, remember? Be a true fashionista, not fashion victim. Pake baju yang sesuai. Moreover, are you look good in emo haicut or junkie-alike? Ask yourself. Ini bukan masalah PD lo aja, tapi juga orang-orang yang ngeliat lo. Dalam 24 jam sehari, gw yakin kita memandangi diri kita sendiri kurang dari 10 menit, sisanya kita DILIAT SAMA ORANG LAIN. Jangan bikin orang lain sakit mata dengan berpenampilan kayak lukisan abstrak. Stop lying yourself: I feel good wearing this new IT fashion items, but the fact is, it hurts your legs. Or it becomes your biggest obstacle in simply walking. PD yang pas dipadu sama outfit yang sesuai menghasilkan masterpiece.

So, are you (still) a fashion victim or (already) a fashionista?