IDOL RECAP: From "The One" to "None"

- by Ray Moniaga




Banyak kemajuan dan juga kemunduran dari empat episode audisi terakhir. To be honest, ini bikin saya goyah: should I be optimistic or pessimistic about the show? Let’s start with good news. Perkembangan pesat datang dari panel juri. They’re split! Bukan secara harafiah, tetapi komentar dan vote mereka sudah tidak unison lagi. At least ada satu juri yang bilang No, meskipun belum ada yang hanya satu bilang Yes (ditunggu). Intinya, mereka tidak membeo atau kelihatan bodoh dan cuek di meja juri. Komentar JLo mulai bervariasi dan hidup, Steven Tyler makin kelihatan aslinya dengan komentar yang terkadang blak-blakan, kotor dan inappropriate without being rude. Ada yang lain dengan Randy Jackson season ini. Saya perhatikan dia lebih percaya diri dan berani meng-cut peserta secara cepat. Artinya, kalau dia tidak suka maka akan langsung di stop dan cercaan menanti setelahnya, berbeda dengan dua juri baru yang masih sangat sopan dan menghargai peserta bernyanyi sampai selesai meskipun mereka (dan penonton) sudah tidak tahan dengan ‘siksaan batin’ tersebut.

 
Juri sudah banyak perkembangan, tetapi bukan berarti mereka sudah sempurna. Dua episode terakhir, yakni audisi LA dan Austin benar-benar bobrok. Juri banyak meloloskan peserta dengan kemampuan rata-rata, yang saya yakin akan mereka sesali di kemudian hari (tepatnya saat Live Shows dan kemudian yang terjadi adalah rating drop mendadak). Beberapa bahkan jauh dibawah rata-rata dan banyak yang tidak punya personality which means suaranya sudah standar plus pasaran pula. Saya tidak menyalahkan kemampuan juri sepenuhnya, karena bisa jadi talent di kota audisi terkait memang tidak banyak and those are the best they can get. Di Austin, masih untung ada satu peserta yang memukau saya dan dia datang terakhir. Casey Abrams, awalnya terlihat main-main dengan tampang 98% mirip Seth Rogen namun saat audisi ternyata bukan main! Nyanyi “I Don’t Need No Doctor”, suaranya yang bluesy bisa bikin orang terhenyak. That’s the highlight of this week, karena LA benar-benar sucks. The worst audition ever, even worse than New Jersey. No talent. 

Berbanding terbalik dengan minggu ini, minggu lalu yakni audisi Milwaukee dan Nashville saya yakin para juri telah menemukan banyak promising talent, diantaranya seorang gadis 15 tahun yang disebut juri sebagai ‘The One’. Menurut saya dia belum pantas disebut demikian. It’s way too soon! Suaranya memang oke, tapi apa itu cukup untuk jadi the next American Idol? Saya terkesan dengan Chris Medina saat audisi di Milwaukee. Sad story, tunangannya kecelakaan dua bulan sebelum pernikahan. Tetapi dia tidak hanya menjual sad story seperti yang banyak terjadi di season 9 but also he showed techniques and control. Orangnya menarik dan cocok buat rekaman.

Ada tren baru season ini: couple audition. Audisi dua-duaan bagi pasangan sejoli, kakak-adik, partner, besties bahkan -ex couple! Tidak bisa dipungkiri, banyak yang bagus apalagi saat mereka nyanyi duet. Namun ada juga duo yang saat dipisah dan diminta untuk menyanyi solo, suara mereka tidak spesial. So far, semua duo or let’s say, ‘audisi bareng’ karena pada akhirnya mereka akan tetap going solo, keduanya diloloskan oleh juri ke tahap selanjutnya.

American Idol akan selalu menjadi another freak show. Mudah-mudahan kali ini mereka tidak berlebihan. Too much on everything malah akan membuat penonton semakin muak dan bosan. Jujur sebenarnya penonton masih berharap banyak. Buktinya, animo di masyarakat masih tinggi. Idol masih terus diperbincangkan setiap minggunya. Don’t let us down.  Don’t waste our time.