‘Idol’ Season 10 Premiere: There’s No Such “New Era” On Idol



One of the hottest show on television is back! With the new panel of judges, will it still be H.O.T?

Idol Recap
‘Idol’ Season 10 Premiere: There’s No Such “New Era” On Idol
-Ray Moniaga

Unbelievable! Meskipun ditinggal pergi ‘Mr. Nasty’ si Simon Cowell, American Idol tetap ngotot lanjut ke season 10 yang menurut saya cukup punya nyali untuk melanjutkan, setelah season sebelumnya acara ini menjadi sangat membosankan bahkan tak seorangpun termasuk saya rela menonton finalnya karena kita menganggapnya sebagai “korupsi waktu”. Setelah sempat chaos karena kehilangan juri (plus produser) akhirnya pihak Fox kembali mengandalkan Nigel Lythgoe untuk memproduseri acara ini, mungkin dengan harapan bahwa Nigel bisa mengembalikan Idol ke masa-masa jayanya (Season 4-8). Di panel juri, setelah diwarnai perdebatan, rumor, intrik yang berkepanjangan akhirnya panel juri diisi oleh Steven Tyler (frontman Aerosmith), Jennifer Lopez dan ‘my dawg’ Randy Jackson. Jujur saya kaget ketika Fox mengumumkan panel juri yang baru. Oke mereka superstar, tapi apakah mereka mampu mem-“spot” talent-talent yang ada selihai Simon Cowell atau Paula Abdul yang sukses memprediksi juara American Idol 6 kali berturut-turut? Saya salut dan support tujuan Steven Tyler ketika beliau menyampaikannya pada awal acara,”Saya berharap bisa menemukan the next Janis Joplin for this generation”. COOL!!! JLo, what’s your aim? Kurang kerjaan jadi akhirnya ikutan buat jadi juri Idol?


 
Season premiere dibuka dengan clip yang sedikit lebay. Let’s say, overwhelmed; karena tahun ini Idol mengaudisi 125.000 peserta. Paling banyak sepanjang sejarah Idol. Mungkin karena mereka pengen ketemu Steven Tyler dan JLo. Plus tagline yang dengan berat hati harus saya benarkan “This is not the story (about the judges)…It’s yours (story)!” Orang tetap akan excited for the new judges dan ini tetap akan menjadi perbincangan week after week on Idol show. Miris. Tapi memang dua juri baru ini paling menarik perhatian, bahkan sebelum audisi dimulai. Tak sedikit peserta yang starstruck (klepek-klepek) ketika ketemu mereka. Steven Tyler tampil sebagai juri yang kocak, flirty dan cinta musik, tidak seperti Cowell yang killer, bikin aura suram (karena pake kaos hitam terus, plus pokerface), dan benci country music (I hate U, Simon!). JLo, menurut saya terlalu manis dalam menjuri. Bahkan pada awal-awal dia takut bilang “No”! WTF?! Kamu dibayar untuk itu! Dan seandainya saya produser, jangan berani minta macam-macam di backstage if you don’t work on your attitude! Meskipun demikian, JLo kayaknya sudah dibentak tim kreatif saat jeda sehingga pada momen-momen selanjutnya akhirnya dia berani menolak peserta.

            New Jersey menjadi kota pertama yang diaudisi. Early recap, no one impress me in this audition. Audisi dibuka dengan penyanyi opera cross-over, Rachel Zevita. Dia pernah ikut audisi season 6 tapi di-cut saat Hollywood Week. Mungkin tahun ini dia bisa lebih baik, tapi menurut saya dia hanya bisa sampai Group Week. Peserta lain yang sempat saya notice adalah Robbie Rosen, calon-calon ‘season 10 darling’ karena punya karakter sweetheart, muka cute dan suaranya mirip-mirip David Archuleta. New Jersey meloloskan 51 peserta ke tahap selanjutnya, tapi diantara 51 orang ini ada saja orang-orang freak, crazy, quirky and weird yang lolos. Contohnya Tiffany Rios, yang pada awalnya tampil membawakan lagu ciptaannya sendiri with an ending “America needs me for high ratings on TV”. Saya tidak habis pikir. She’s crazy, dengan bintang-bintang emas besar bling-bling yang ditempel di boobs nya. Setelah dia menyanyikan lagu kedua, “The Power Of Love” baru saya sadar kenapa juri mempertimbangkan dia untuk lolos. She has a big voice! Performance gila, big voice, kayaknya menjual untuk TV. Tapi untuk rekaman, no. Satu lagi cewek hebring, Ashley Sullivan. Ngakunya fans berat Britney Spears, sampe bawa foto Brit di kantongnya, dan suka ngoceh kalo gugup. Quirky personality, bagus buat TV. How about singing? Not bad. Juri, dan saya, setuju kalo Ashley lebih cocok di broadway atau musikal, tapi dia ngotot bisa jadi “Showtune popstar” kayak Liza Minneli dan sepertinya juri terpengaruh dengan pernyataannya. So, good job. Welcome to ‘Holly-weird’ ?! Selanjutnya, datang jauh-jauh dari North Carolina yakni Victoria Huggins yang terus bersikukuh “Umur saya 16 ¾ tahun”. Oke. Dari penampilan, logat, suara, cewek ini memang benar-benar lucu menggemaskan. Masalah nyanyi, not impressive. Standar, mediocre, cocok buat Disney. Tapi Disney ada di California, jadi memang itu tujuannya: lolos ke Hollywood. Mungkin Idol bisa jadi batu loncatan buat Victoria Huggins. 

            Best audition for New Jersey, pilihan saya jatuh kepada Devyn Rush. Cewek yang punya karakter vokal jazzy soul ini sehari-hari bekerja sebagai waiter di Ellen’s Diner di New York. Saya mengingatnya karena dia sempat mempromosikan best food and drinks di resto tersebut sebelum masuk ke ruang audisi. Tampil membawakan jazz tunes milik Billie Holiday,”God Bless The Child”, saya rasa dia cocok untuk rekaman dan suitable bahkan dibutuhkan oleh dunia musik saat ini. Seperti yang dikatakan JLo, ada ‘star’ di dalam suaranya. Intinya ketika dia bernyanyi, Devyn punya star quality. The X factor, katanya Simon Cowell. But still, Devyn harus bekerja memperbaiki penampilannya karena dengan kaus oblong, skinny jeans dan big hair like that, she doesn’t look like a star. Hopefully dia bisa tembus sampe 12 besar sehingga bisa di make over oleh stylist Idol.

            Nonton Idol rasanya tidak lengkap tanpa audisi lucu. Dua audisi lucu di New Jersey yang bikin saya ngakak setengah mati, pertama Achille Lovle, cewek imigran asal Pantai Gading yang membawakan lagu Madonna “Dress You Up”. Lagu Madonna yang super nge-dance tersebut dijadikan seperti lagu Afrika dan saya merasa primitif, plus sensasi African tribal ketika dia menyanyikannya. Tidak ada satu not pun yang tepat, malahan terdengar seperti satu not aneh yang dinyanyikan berulang kali dengan suara yang tebal khas Afrika. Kedua, peserta imigran (lagi) asal Jepang yakni Yogi Asano aka Yogi “Pop”, fans berat Michael Jackson yang “tidak konsisten”: nge-fans Jacko sejak umur 3 tahun, 2 tahun, atau dari dalam kandungan (mustahil)? Mana yang benar? Yogi “Pop” tampil membawakan lagu “Party in The USA” plus gerakan dance Michael Jackson yang aneh. 

            Setelah New Jersey, audisi berpindah ke down south New Orleans, Louisiana. Disini saya terkesan dengan beberapa kontestan. Saya jatuh hati dengan sweet little voice Jacee Badeaux yang masih berusia 15 tahun, country-pop Paris Tassin, pop-rock Brett Loewenstern yang memiliki warna suara unik ketika dia berbicara, dan latino hunk with a powerful voice Jovany Barreto yang tampil membawakan lagu favorit saya,”Contigo En La Distancia”. Best audition saya jatuh kepada Jordan Dorsey yang secara musikalitas amat menarik ketika membawakan “Over The Rainbow” dengan gayanya sendiri. Audisi lucu, the one and only Gabriel Franks, peserta mirip Mick Jagger (apalagi mulutnya) yang nyanyi “Bad Romance” sambil mencak-mencak gak karuan. Secara talent, New Orleans menunjukkan bakat yang lebih bervariasi. Namun saya masih kecewa dengan panel juri yang kadangkala masih terlihat kaku, kurang lepas dan minim komentar, atau komentar yang itu-itu saja. Apabila pihak Fox dan produser datang mengiming-imingi saya secara pribadi dengan tagline “It’s a new era on idol”, mungkin saya akan bilang itu omong kosong. Kalimat ini bahkan sounds crap di televisi! Setidaknya untuk saat ini, mereka belum meyakinkan saya, dan itu jelas mempengaruhi cara pandang ketika menonton American Idol. Semua tergantung para juri, karena mau tidak mau mereka harus mempengaruhi pemirsa dengan komentar dan gaya mereka. Pilihan ada di tangan kita, so convince us.