2010 Most Memorable Movies


Refleksi perfilman sepanjang tahun 2010, plus prediksi Oscar tahun ini
- Ray Moniaga

 
Evolusi film semakin terasa seiring dengan berjalannya waktu. Apabila zaman tahun 50an layar perak banyak dihiasi dengan film-film bertemakan romansa, maka pada tahun 2010 dunia film mulai bergeser ke arah individu dan lingkungannya sebagai poros utama: bagaimana pergumulan batin dan konflik yang terjadi dengan sesama maupun dengan dirinya sendiri menghiasi kehidupannya. Perubahan ini bukan tanpa maksud. Kondisi saat ini yang memang sedemikian rupa adanya dianggap relevan untuk diangkat menjadi sebuah tontonan, sehingga penonton mampu merasakan dan menikmati proyeksi kehidupannya. Pada akhirnya, film bukan hanya sekedar penyegar mata belaka tetapi ada propaganda dibaliknya, entah mengoreksi kultur saat ini ataupun hanya sebagai pengingat posisi kita di era ini.


Tahun 2010 merupakan tahun yang membanggakan. Banyak film visioner dan inovatif yang dirilis, baik dari segi peran, cerita maupun teknis. Salah satunya adalah Black Swan, film arahan Aronofsky yang semakin hari semakin ramai dibicarakan karena merupakan salah satu kandidat pemborong piala Oscar di perhelatan Academy Awards bulan depan. Film yang dibintangi oleh Natalie Portman, Mila Kunis dan Wynona Ryder ini menceritakan tentang seorang ballerina bernama Nina Sayers yang terpilih sebagai The Swan Queen dalam pementasan The Swan Lake. Peran tersebut menututnya untuk menampilkan dua peran tari sekaligus: White Swan dan kembarannya yang jahat, Black Swan. Dalam kesehariannya, Nina adalah gadis yang lugu, lemah, rapuh dan kaku. Nina terobsesi terhadap kesempurnaan, sehingga setiap tariannya hanya sebatas teknik yang tepat tanpa adanya jiwa yang bebas dan lepas. Karakter Nina amat cocok dengan peran White Swan. Ia pun ditantang untuk menampilkan Black Swan secara sempurna. Tetapi kesempurnaan tidak cukup. Black Swan merupakan karakter penuh gairah, bersemangat, dan menggoda. Hal ini menuntut Nina untuk menambahkan “jiwa” dalam setiap gerakan tariannya. Seiring dengan berjalannya waktu, Nina semakin masuk ke dalam setiap peranannya. Halusinasi dan hal-hal diluar batas kemampuan pikiran manusia mulai terjadi, sejalan dengan transformasi Nina menjadi sosok Black Swan tidak hanya dalam peran tetapi juga di dunia nyata.

‘Black Swan’ Trailer link:

Psychological thriller Black Swan sukses membawa emosi penonton ke level selanjutnya yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Ceritanya tidak tergolong rumit, namun penonjolan sisi psikologis dari setiap karakter yang dimainkan secara gemilang oleh Portman maupun Kunis membuat kita merasa seperti di ping-pong: mana yang nyata, mana yang fantasi. Kompleks, memang; tetapi justru hal ini yang menjadi peluru emas dari film ini sehingga benar-benar tercancap dalam otak kita, dan pada saat film ini selesai diputar kita hanya bisa melongo dan berkata “Wow!”
Jangan tanyakan masalah peran maupun teknis. Natalie Portman sudah dijamin masuk nominasi Oscar untuk Best Actress, minimal. Kansnya untuk menang bisa mencapai 80%, tergantung siapa saja aktris yang masuk dalam kategori yang sama. Helena Bonham Carter merupakan salah satu saingan utama Portman ataupun Mila Kunis bila ia dinominasikan dalam kategori Best Supporting Actress, karena dikabarkan performa Carter dalam The King’s Speech tergolong brilian, bahkan telah berhasil memboyong sejumlah penghargaan prestisius untuk kategori akting. Secara teknis, saya sangat kagum dengan beberapa teknik pengambilan gambar Black Swan yang cerdas dan segar. Sungguh berbeda, ditambah dengan sinematografi yang baik. Black Swan memang mencapai kesempurnaan dari berbagai sudut, membuat kita sulit melupakan film ini mungkin hingga 50 tahun ke depan.
Black Swan bukan satu-satunya film yang hadir dengan cerita yang kuat dan akting menjanjikan. Inception, film arahan Christopher Nolan juga termasuk salah satu film visioner dengan tema unik dan alur tegang. Saya bukannya berpihak pada film-film thriller, meskipun saya memang penggemar berat film jenis ini, tetapi memang sekali lagi Nolan membuktikan bahwa film dengan alur “benang kusut” pun mampu mendulang pundi-pundi emas dan menjawarai tangga box office selama berminggu-minggu. Hal ini membuktikan, pola masyarakat dalam memilih tontonannya perlahan mulai berubah. Orang zaman sekarang mulai memilih film yang bagus, dalam artian memiliki cerita menarik dan berbeda, dengan dialog yang tidak bertele-tele, jelas, bahkan pintar, sekalipun itu harus membuat mereka mengernyitkan dahi dan memeras otak selama kurang lebih 2 jam di dalam bioskop. Mereka mulai menghiraukan siapa pemainnya, meskipun A-List actor tetap diperlukan sebagai magnet sebuah film. Bukan aktor bagus, tetapi film bagus. Terbukti, film Knight and Day yang sekalipun dibintangi aktor sekaliber Tom Cruise dan Cameron Diaz tetap saja drop di pasaran dan menuai cercaan kritikus. Hal serupa terjadi pada Alice in Wonderland karena meskipun Tim Burton sekali lagi mendobrak batas imajinasi pembuatan film, namun sayang tokoh utamanya yang diperankan Mia Wasikowska dibawakan dengan sangat datar. Malah yang mencuri perhatian adalah para pemeran pendukungnya yakni Helena Bonham Carter dan Johnny Depp yang sukses memerankan The Red Queen dan Mad Hatter. Ceritanya tergolong membosankan, dan anti-klimaks. Efek 3D yang ditampilkan juga berantakan, padahal penonton berharap lebih dari special effect nan cerah berwarna-warni hasil kreasi Burton dan tim. Alhasil, film ini menjadi sampah dan mengecewakan banyak orang. Perfilman saat ini jelas berbeda bila dibandingkan dengan era sebelumnya. Tahun 50an, ataupun 80-90an orang tidak terlalu ambil pusing mengenai jalan cerita. Mereka datang berduyun-duyun ke bioskop untuk melihat aktor pujaannya.

            Leonardo DiCaprio tahun ini sukses menelurkan dua film cemerlang. Selain Inception, Leo sukses dalam perannya di film Shutter Island. Film yang diangkat dari buah pena Dennis Lehane ini bercerita mengenai seorang detektif yang ditugaskan untuk menyelidiki pembunuhan dan kaburnya seorang pesakitan di sebuah rumah sakit jiwa yang terletak di suatu pulau. Hal yang sulit dilupakan dari film ini bagaimana sang pemeran utama terjerumus dalam permainannya sendiri yang ditampilkan dalam sebuah twist ending yang mencengangkan.

 
‘Shutter Island’ Trailer link:

Salah satu bukti naskah bagus memang menjadi primadona tahun 2010 adalah lewat film The Social Network. Mungkin jikalau film ini jatuh ke tangan sutradara lain selain David Fincher, film ini hanya akan menjadi film remaja biasa yang diadaptasi dari buku karangan based on true story, kisah bilyuner pencipta jejaring sosial nomor 1 saat ini, facebook.

Penikmat film bisa bernafas lega karena film ini akhirnya ditangani oleh orang yang tepat, sutradara sekelas Fincher yang sukses lewat Se7en dan Fight Club memang mampu mengubah film ini menjadi berkelas, dengan rentetan dialog yang cepat dan alur menegangkan. Penuh intrik dan penghianatan. Tanpa pemain kelas A, film ini bisa membawa pulang Oscar untuk kategori Best Picture.


Di luar film-film festival yang oleh sebagian khalayak masih dianggap sebagai tontonan berat, ada juga film-film box office yang menarik dan sulit untuk dilupakan. Datang dari genre animasi, How to Train Your Dragon serta Toy Story 3 membawa pesan cinta dan merupakan tontonan aman bagi seluruh anggota keluarga. Meskipun terasa kurang bila dibandingkan dengan animasi tahun sebelumnya, seperti Up dan Wall-E yang benar-benar menyentuh hati hingga mampu membuat penonton menitikkan air mata. Dua film animasi unggulan Oscar tahun ini mampu menghadirkan atmosfir lain di dalam gedung bioskop, dengan tren 3D yang begitu marak tahun ini film-film animasi ini sukses memanjakan mata dengan special effect yang keren, ditambah sejumlah dialog dan adegan yang lucu.

            Di penghujung tahun, saya dikejutkan dengan Tron: Legacy produksi Disney yang menampilkan special effect dunia cyber digital yang kelam dengan efek 3D begitu memuaskan. Harus diacungi jempol bahwa inilah film 3D terbaik semenjak Avatar dirilis. Porsi adegan 3D dengan kuantitas yang pas tanpa mengurangi esensi tiap adegan, dengan kualitas terbaik per adegannya membuat film ini sulit dilupakan dan menjadi salah satu film inovatif tahun 2010. Ceritanya mungkin sedikit tipikal, dengan variasi dan modifikasi disana-disini. Namun tetap film ini bisa dibilang berhasil. Akting para pemainnya pun tidak mengecewakan.

            Terakhir, satu film cult yang muncul tahun ini adalah Paranormal Activity 2. Saya akui, filmnya masih tetap seram seperti film pertamanya. Tapi mungkin gara-gara sudah tahu maksud, inti cerita dan teknik kamera yang memang tidak jauh berbeda dari film pertamanya, sekuel anyar ini rasanya sedikit ‘bocor’. 

‘Paranormal Activity 2’ Trailer link:

Terlepas dari semua itu, sukses berat buat film ini karena sekali lagi saya tidak bisa tidur selama 1 minggu! Bagaimana bisa melupakan adegan diseret dari tempat tidur dan pembersih kolam renang yang naik dengan sendirinya? Sulit dilupakan.