The Leaving of The Nobody

I spontaneously decided to write this one thing - once again, spontaneously, because... OK, ok, STOP!
Knock it off, Joe!
No more English!
Bicara bahasa Indonesia!
Speak Indonesia....

Gue mutusin nulis notes gue kali ini karena ada beberapa kejadian yang terjadi belakangan ini yang menurut gw really touchy.
(Looks like I simply can't bare not to use any English, so this one wouldbe billigual)

Seberapa sering sih kejadian-kejadian sederhana terjadi dalam hidup kita, yang sebenernya kelihatan sepele, but actually really meaningful?

Ehm... Oke, gini deh....Siapa dari kalian yang belom pernah naek bajay?

Alat transportasi ini bisa dibilang udah jadi icon-nya Jakarta,sama seperti Bugatti jadi icon-nya Prancis dan Ford jadi pralambang Amrik.
Gue sendiri so far tau-nya Bajaj itu aslinya adalah merk produk otomatif yang entah gimana ceritanya bisa jadi nama alat tranportasi bantet beroda 3 itu.

So pasti tau kan gimana hebohnya naek bajay; mesin yang gradak-gruduk (super-very-extremely-not-Rolls-Royche), sempit-sempitan di jok blakang (apalagi kalo yang naek bodi-nya juga ga kalah heboh), sampe sopir-nya yangkayak anak Sentul (suka ngebut.red).
Lengkaplah sudah keceriaan kita berbajay ria....

Sebagai Jakarta citizen (bah!) gue juga suka naek bajay (anak bajay cuy!) karena praktis dan menyenangkan, apalagi kalo sendiri (meski agak mahal).

Nah, in this notes gue bakal banyak ngomongin bajay.

Alkisah di deket rumah oma gue di daerah Harmoni Jakarta Pusat ada sebuah warung kecil yang suka jadi tempat nongkrong para bajayers. Rumah oma gue di gang, dimana di jalan depannya itu udah full perkantoran. Maklum lah ya... namanya juga Jakarta Pusat. Kalo di Amrik kayak Manhattan lah... (another bah!)
Saking sering-nya gue wara-wiri di jalan itu (bukan sebagai hansip, petugas keamanan,petugas sampah atau sebagai tukang sayur. Tapi sebagai mahasiswa ceria dengan masa depan yang gilang gemilang) gue kenal-lah sama abang-abang bajay yang sering nongkrong disitu. Apalagi kalo gue memerlukan jasa mereka; (baca: disaat-saat gue manja) misalnya kayak mo ke Roxy, Jembatan Lima, Harmoni, Gereja (yang satu ini bisa gue capaihanya dengan menyeberang jalan sebetulnya), Grogol, Gajah Mada, Pasar Baru, Glodok, Senen or even yang paling sadis sekalipun, Blok M - Bintaro... (becanda)

Kalo pagi, gue mo berangkat kuliah, gue sering ketemu sama para abang bajay itu,say hi ke mereka ato sekedar melintas sambil tersenyum tebar pesona (meski kayaknya para abang bajay itu ga pernah terpesona sama aura bintang gue).
Intinya enak lah kenal sama mereka. Bahkan kalo naek, gue sering dikasih harga kaskus gan!
Ga perlu sewot dulu cuma gara2 nawar bajay.
Bukan cuma gue, keluarga gue juga banyak yang memanfaatkan jasa para abang bajay ini.

Ada satu abang bajay yang jadi favorit gue. Sampe detik ini dan sampe akhir zaman kayaknya gue ga bakal tau nama abang ini.
Gue manggilnya simply Bang Gendut aja. Nyokap gue manggil dia Pak Gendut. Alasannya karena Bang Gendut - just like what I called him - is pretty "subur" dibandingkan abang-abang bajay lainnya dan selalu make kaos biru. Gue jarang ngeliat Bang Gendut make kaos lain selain kaos warna biru-ungu yang sering dia pake.

Sore ini, sekitar jem 7, salah satu sepupu gue ngasih tau gue dan seisi rumah sebuah berita mengejutkan.

"Bang Gendut meninggal!"

Gue sontak teriak. "Masa? Serius lo?!"

"Iya!" kata sepupu gue yakin. "Baru aja. Pas lagi tidur, dibangunin udah gabangun lagi..."

Disitu gue bener-bener speechless.
Bahkan sampe sekarang, until the very moment I typed this notes, I still petrified.

Gak mungkin! Bang Gendut gak mungkin meninggal!
Tadi pagi gue masih ketemu sama dia!
Tadi siang gue masih ngeliat dia tidur di deket gerobak bakmie di ujung gang!
Bang Gendut gak mungkin meninggal!!!

Setelah cross-check sana sini akhirnya gue dengan berat hati mengakui; betul, Bang Gendut udah dipanggil sama Tuhan pas dia lagi tidur.

Gue jelas shock. Bahkan seluruh keluarga gue shock. Orang-orang di gang juga shock. Kita semua kenal sama Bang Gendut soalnya.
Dan juga Bang Gendut blom gitu-gitu tua. Gue memang ga pernah nanya berapa umurnya, tapi menurut gue mungkin sekitar pertengahan 40-an lah...

Gue segera naek ke atas, nyari hape dan nelpon nyokap (yang saat ini lagi di Menado),tanpa memikirkan pulsa gue yang udah cekak.
"Mi, Bang Gendut meninggal...."

"Siapa?!"

"Bang Gendut. Pak Gendut. Bajay..."

Reaksi nyokap gue udah pasti bisa ditebak.

Gue ngabisin tiga puluh menit waktu sebelum nulis notes ini, mengenang sekaligus mendoakan Bang Gendut.
Gue inget saat-saat dimana dia nganterin gue kemana-mana. Bang Gendut ini orang-nya baik banget. Dia tetep mau nganterin gue meski gue sering nawar dengan harga yang kelewatan (15 rebu jadi 7 rebu only). Pernah, dia mau gue ajak muter-muter karena gue bingung pertama kali ke WTC Mangga Dua - ongkos tetep ga dinaekin. Ato saat macet di belakang Gajah Mada - demi membantu gue mewujudkan obsesi kompulsif gue terhadap Gramedia - Bang Gendut tetep calm down. Bang Gendut juga ga pernah ribet kalo diajak nawar harga. Meski gue suka motong tarif ongkos gila-gilaan ala Glodok, seenak pantat pula, Bang Gendut ga pernah nolak.
He always welcome me in his bajay.

Saat udah bisa berkomentar, kalimat pertama yang keluar dari mulut tante gue adalah:
"Meninggal-nya bagus. Pas lagi tidur. Bang Gendut emang orang baik..."

Gue mengamini kata-kata tante gue itu.

Saat doa, gue masih speechless.
Tapi gue denger suara Tuhan yang menenangkan,"He's in the Good Hands, Joe. I take care of him now...

Kehidupan para abang bajay itu, menurut gue memang semi-homeless.
Mereka ga ada tempat bernaung selain bajay mereka sendiri.
Waktu Piala Dunia, gue suka lewat disitu dan ngeliat mereka nggelar nonton bareng versimereka sendiri; beberapa tikar plus tivi kecil kepunyaan di mbak penjaga warung.
Kadang mereka tidur rame-rame di emperan ruko yang udah tutup.
Mereka mandi dari air keran di salah satu toko, ngumpet di balik warung.
Pas bulan puasa begini, mereka menggelar sajadah dan sholat Maghrib di emperan, di sampingbajay-bajay milik mereka.

Bang Gendut masih terlibat dalam semua hal yang gue sebutin itu, sampai tadi sore.

Beberapa hari ini Bang Gendut memang jarang narik. Dua hari ini gue ngeliat Bang Gendut suka tidur di siang bolong. Gue pikir Bang Gendut kecapean karena narik di bulan puasa.Tapi mungkin - sekali lagi, ini cuma spekulasi - mungkin Bang Gendut sebetulnya kemaren2 itu lagi sakit parah, makanya dia cuma tidur-tiduran...

Disini gue ngeliat How Great Thou Art, how lovely God is...

Di tengah kesedihan ini, gue takjub sekaligus tersentuh tentang betapa ajaib-nya Tuhan mengatur yang namanya destiny.

Kalo ada kata-kata bijak yang bilang; "We define our own destiny..." Sorry to say, I'm affraid that's quite irrelevant. Life, certainly yes, but destiny, no, not yet.(Selain kepergian Bang Gendut, gue juga mengalami kehilangan seorang teman di Menado sanayang umur-nya baru seumuran adik gue, namanya Sintha. Dia meninggal sebulan lalu gara2 DB. Meninggal-nya juga dadakan gitu but that's another story, Mark that, it also really happened)

Tuhan bisa ngambil kita kapan saja, dimana saja, dalam situasi apapun.

Kalo temen gue Sintha, keluarga-nya mungkin udah bisa, istilahnya, be prepared for the worst to happen,tapi untuk Bang Gendut, he left while asleep. Disini gue bener-bener tersentuh. Bang Gendut nggak punya siapa-siapa disini. Semua keluarga-nya di Jawa. Yang ada hanyalahtemen-temen dia sesama supir bajay.Bang Gendut mungkin aja menderita penyakit parah, misalnya jantung.Dia bisa aja meninggal di emergency room rumah sakit, dengan puluhan kabel dipasang di tubuhnya,dan dokter serta paramedis yang sibuk merawat-nya dan mempertahankan hidupnya.


But God didn't choose that way.

Bang Gendut pergi ketika dia tidur. Just that simple.

Tuhan itu.... kejam?
Kenapa Tuhan ga membiarkan Bang Gendut dibawa ke RS, siapa tahu penyakit-nya masih bisa disembuhin. kalo gitu kan Bang Gendut masih bisa hidup sampe sekarang...

Begitu juga dengan Sintha. Dia meninggal saat baru seminggu kerja di Banjarmasin. Yg lebih miris lagi, sebelum berangkat, Sintha ngomong mau ngebantuin nyokap gue jualan. Tapi ga jadi karena dia harus kerja ke Banjarmasin.

Tuhan itu bukan kejam. Dia adil dan penyayang.

Kenapa Bang Gendut ga meninggal di RS, dengan kondisi terawat baik?Karena Bang Gendut orang ga punya. Tuhan tahu kehidupan Bang Gendut sulit di Jakarta ini.Makanya Dia ngga mau ngerepotin Bang Gendut lagi dengan segala urusan pembayarantetek bengek rumah sakit, yang pasti biaya-nya ga sedikit.Dia memilih memanggil pulang Bang Gendut lewat cara yang paling sederhana; tidur.Di saat Bang Gendut sedang berada dalam keadaan damai dan tentram, dia dipanggil pulang.

Bang Gendut juga ga usah capek-capek narik buat ngumpulin duit untuk naik haji. Lebaran kali ini gue yakin adalah lebaran terindah buat Bang Gendut. Gue inget tahun lalu gue nanya ke dia, "Bang, Lebaran ini ga mudik?" Dan dia cuma bisa menggeleng sambil tersenyum kecil, "Ga ada duit-nya, bos...."
Sekarang Bang Gendut bisa langsung lebaran sama Allah di surga.

Begitu juga dengan Sintha.Sebagai orang yang tinggal di desa, seumur hidup Sintha jarang bepergian, apalagi keluar daerah.
Menurut istilah nyokap gue, Tuhan "menyenangkan" Sintha terlebih dulu; dia bisa ngerasain gimana naik pesawat dan pergi ke daerah lain. Gue yakin Sintha bener-bener menikmati pengalaman itu.
Dia kerja di sebuahkeluarga kaya.
Saat dia sakit dan dirawat di RS, majikan Sintha yang nanggung semua biayanya.
Lagi-lagi karena Tuhan tahu, seandainya Sintha kena DB pas di Menado, things wud be much even worse.
Keluarganya yang miskin pasti ga bakal mampu bawa dia ke RS, dia bakal menderita karena sakitnya.
Bahkan saat Sintha dipulangkan, semua ongkos ditanggung sang majikan.
Keluarga Sintha juga dapet tunjangan 2 juta rupiah dari majikan Sintha.

Bahkan dengan kepergiannya sekalipun, Sintha masih dapat mendatangkan hal baikuntuk keluarganya.

Perfect plans, God.

Ada yang pernah bilang ke gue; kita bakal tahu seberapa berarti kita buat orang-orang disekitarsaat kita meninggal. Jika yang melayat banyak, berarti kita berarti, dicintai dan dianggap.

Gimana dengan Bang Gendut yang sendirian disini?
Gue ga tau apa banyak yang bakal dateng ke pemakaman Bang Gendut, tapi gue menyaksikan bagaimana dia meninggal disini, sendirian, tiduran di atas gerobak bakmi pula.
Sama sekali ga ada prestige-nya.

Disini gue bilang,
even in the worst situation, be thankful.
Even if you got nothing left for you,you still have God, Someone that will always love you timelessly.





Sometimes, it is so hard for us to see, to understand, why people we loved leave us. But even at the hardest part, there's always something good on it.

The darkest of night is right before dawn. 
That's all I've got to say....

Selamat jalan Bang Gendut dan Sintha....
Dari seorang penumpang,dan seorang teman...