Damn It's Hot! R & B QUEEN Vs. POP QUEEN


Di akhir tahun 2008 lalu, pada bulan November hingga Desember, dunia musik internasional kembali disegarkan dengan munculnya album-album dari sejumlah penyanyi yang dapat dikatakan telah menjadi Diva. Dua diantara mereka yaitu album solo ketiga Beyoncé; “I Am... Sasha Fierce”, dan album ketujuh Britney Spears; “Circus”.

Dua-duanya menjadi fenomena yang cukup mengejutkan. Di album ini Beyoncé mengumumkan kemunculan alter-egonya, “Sasha Fierce”, dimana “I Am... Sasha Fierce” memberikan dua CD sekaligus dalam kemasannya, yaitu CD pertama oleh Beyoncé sedangkan CD kedua untuk sang Sasha Fierce. Britney Spears juga tak ketinggalan. “Circus” dirilis pada tanggal 2 Desember 2008, tepat pada ulang tahun Britney yang kedua puluh tujuh. Album ketujuh Britney ini disebut-sebut sebagai album “kebangkitan” sang penyanyi, setelah sebelumnya hampir vakum selama tiga tahun. Album keenamnya “Blackout” (dirilis tahun 2007) cukup mendapat sambutan, meski tidak terlalu fenomenal.


Beyonce - Calon Diva Dunia di Masa DepanBeyoncé sendiri telah sukses menempatkan dirinya sebagai diva, sehingga julukan R & B Queen melekat pada dirinya. Beyoncé merilis karier menyanyinya semenjak tahun 1999. Bermula dari singing group fenomenal Destiny’s Child, karier Beyoncé terus meningkat meski Destiny’s Child bubar pada tahun 2005 dan para personilnya memutuskan untuk bersolo karier. Album solo pertama Beyoncé, “Dangerously in Love” yang dirilis tahun 2003 lalu mendapatkan 4 platinum, terjual sebanyak 317.000 kopi di minggu pertama dan terjual sebanyak 4,2 juta kopi di seluruh Amerika. Sejumlah single seperti “Crazy in Love”, dan “Naughty Girl” sukses menembus Billboard 200 dan Billboard Hot 100.

Album solo keduanya, “B’Day” yang dirilis tahun 2006, sukses menduduki peringkat 1 Billboard 200, dan terjual 514.000 kopi di minggu pertama. Single “Irreplacable” segera menjadi hits dan mendudukki puncak Billboard Hot 100 selama 10 minggu. Meski sejumlah pengamat musik, termasuk redaktur majalah Rolling Stones mengatakan B’Day, tidak “sesukses” Destiny’s Child, tapi itu cukup mengukuhkan Beyoncé sebagai R & B Queen.

“I Am... Sasha Fierce” mendapat sambutan yang luar biasa. Keduanya single “Single Ladies (Put A Ring On It)” dan “If I Were A Boy” langsung bertengger di lima besar Billboard Hot 100. “Single Ladies (Put A Ring On It), sukses merajai Billboard Hot 100 dalam dua minggu, mendepak turun Rihanna feat. T.I. “Livin’ A Dream” ke peringkat dua (Sumber: www.billboard.com). Single “If I Were A Boy” menjadi hits sebagai lagu yang “menyentuh”. Album Beyoncé ini juga menelurkan 6 nominasi NAACP Image Awards diantaranya Outstanding Song (“Single Ladies (Put A Ring On It”) dan Outstanding Music Video (“If I Were A Boy”).

Segala kesuksesan Beyoncé membuat hampir seluruh dunia mengenalnya. Kalaupun tidak mengenal Beyoncé, paling tidak kita sudah pernah mendengar lagu-lagunya. Saya sendri pernah bertemu sejumlah orang yang tidak tahu siapa itu Beyoncé, tapi ketika saya nyanyikan sepotong reff “Irreplacable”, mereka langsung menyahut, “Ooooh.... Beyoncé yang itu!”

Beyoncé sukses menjadi simbol wanita Afro-Amerika yang berhasil “survive”, termasuk salah satu penyanyi R & B yang eksis jika dibandingkan dengan penyanyi-penyanyi lain yang hanya “nongol” dengan satu album, puas ketika bertengger di Billboard, kemudian lenyap. Dalam konser farewell Destiny’s Child di Atlanta tahun 2005 silam, semangat untuk terus eksis dan berkarya tergambar jelas lewat kata-kata Beyoncé, dkk. Itu memang dibuktikan. Personil Destiny’s Child lainnya, Kelly Rowland (sepupu Beyoncé), menelurkan album “Ms. Kelly” (2007), beberapa single-nya seperti “Work” dan “Gotsta’Go (Radio Edit)” (featuring Da Brat), sempat menjajakki Billboard dan menjadi hits. Personil lainnya, Michelle Williams, cukup sukses dengan aliran Gospel-nya di Amerika, meski di Indonesia gaungnya tidak terlalu terdengar.

Lantas bagaimana dengan Britney Spears? Si Diva ini sempat mendapat predikat “mantan Diva”, diakibatkan karena hidupnya yang carut marut dan “gak jelas”. Menurut saya, keputusan Britney untuk menikah dengan Kevin Federline secara tidak langsung “memutuskan” karier menyanyinya. Dan memang itulah yang terjadi. Britney vakum selama tiga tahun, hampir empat tahun. Semua fans setianya (termasuk saya), bertanya-tanya kemana si Diva ini. Hidupnya jauh dari panggung dan spotlight. Sungguh masa-masa yang suram bagi Britney.

Mari kita tengok perjalanan si Diva ini. Album debutnya “... Baby One More Time”, dirilis pada tahun 1998, langsung bertengger di puncak Billboard Hot 100, selama 2 minggu, mendudukki posisi puncak di Billboard 200, ddan dapat 14 platinum. Album berikutnya, “Oops... I Did It Again” yang dirilis tahun 2000, kembali debut di posisi puncak, terjual 1,3 juta kopi di minggu pertama, mendapatkan rating 3,5 bintang dari 5 oleh majalah Rolling Stones. “Oops... I Did It Again” sendiri menjadi lagu yang paling sering diputar dalam sehari di radio-radio. Album ketiga “Britney”, dirilis pada tahun 2001, tidak sesukses album sebelumnya, tapi kembali debut di posisi puncak. Terjual hampir 750.000 kopi di minggu pertama. Album ini mendapatkan rating 4,5 bintang dari 5 oleh Allmusic. Pada November 2004, album kelimanya (kadang disebut sebagai kumpulan hitsnya), “Greatest Hits: My Prerogative” membuat Britney menjadi salah satu artis paling “menjual” di dunia. “Blackout” di tahun 2007, debut di peringkat 2 Billboard 200, dan pada bulan Juni 2008, telah diunduh sebanyak 3,1 juta kali. Album ini mendapat rating 3,5 bintang dari 5 baik oleh Rolling Stones maupun Allmusic. Album ini membuat Britney dinobatkan sebagai satu-satunya artis wanita yang sukses membuat lima album berturut-turut bertengger pada posisi satu dan dua saat pertama kali dirilis.

Berbeda dengan Beyoncé, orang-orang pada umumnya mengenal Britney, termasuk orang-orang yang “awam” dalam urusan musik seperti ini. Dari hasil “observasi” di lapangan, sejumlah orang masih bisa mengenali hits-hits Britney, seperti “Toxic” atau “Oops... I Did It Again”. Penyebabnya, menurut saya, bukan karena pada era itu (Britney dan Beyoncé debut hanya berselang waktu setahun). Britney lebih “ngetop” dari Beyoncé. Britney tenar sebagai penyanyi pop solo, idola remaja saat itu. Sementara Beyoncé, “terselubung” dalam Destiny’s Child, sehingga orang lebih mengenal grup itu sendiri ketimbang personilnya. Saya berpendapat keduanya tenar, tapi pada bidang yang berbeda. Saat itu, Britney sangat “pop”, sementara Beyoncé masih “nurut” di R & B nya, selain saat itu keduanya masih “daun muda” dalam industri musik.

Sejumlah pendapat mengatakan kalau ketenaran Britney (yang menurut mereka) saat itu, mengatasi Beyoncé diakibatkan karena rasisme. Saya tidak mau berkomentar mengenai hal ini.
Britney Spears
Masalah keluarganya, perceraian dengan mantan suaminya serta perebutan hak asuh anak juga
sempat membuat popularitas Britney “melorot”. Sebenarnya, Britney masih bisa eksis kalau dia mau. Single “Someday (I Will Understand)” yang dirilis pada saat Britney mengandung anak pertamanya mendapat sambutan baik. Begitu juga dengan “Greatest Hits: My Prerogative” yang sukses besar. Tingkahnya yang pernah menyerang paparazzi, membuat Britney “mendapat citra buruk di mata para pemburu berita”. Britney pernah kepergok menangis di pinggir trotoar Los Angeles, di pagi-pagi buta, sambil memeluk seekor anjing dengan busana super minim. Ketika ia kehilangan hak asuh anak, dan dirawat di panti rehabilitasi selama kurang lebih 4 bulan, Britney betul-betul tenggelam.

Hingga akhirnya pada tahun 2007 lalu, gaung Britney mulai kembali terdengar. “Blackout” betul-betul “nonjok”, sehingga kembali mengkukuhkan kedudukan Britney di posisi puncak Billboard. Single “Pieces of Me” sendiri telah mendapat platinum di Amerika. Album ini juga mendapatkan “Album of The Year” di MTV Europe Music Award 2008. Album ini memang menjadi “opening act” yang mengesankan dari kebangkitan Britney. Komentar serta dukungan terus mengalir buatnya, meski Britney masih harus mengurusi sejumlah permasalahan dengan pengadilan.

Lalu yang terakhir sekaligus yang fenomenal, “Circus”. Para fans Britney menyebutnya “Album Kebangkitan sang Mantan Diva”. Sebutan “Britney returns” atau “Britney is back” pun disebut-sebut. Dalam satu edisi Good Morning America, Britney yang saat itu mejadi guest star, mendapat standing ovation atas usahanya. Sejumlah kalangan yang terlanjur melabeli Britney “chaos” pun sepertinya harus kembali mempertimbangkan pemikiran mereka. Memang, si Miss Spears ini pernah mengalami masa-masa chaos, tapi upayanya di “Circus” membuat saya pribadi terharu. Saya mendapat informasi mengenai jadwal rilis “Circus” dari salah seorang teman saya yang merupakan fans fanatik Britney, dan begitu di rilis di Indonesia, langsung membelinya karena “kangen”. Dan memang julukan “Britney is back”, menurut saya, pantas diberikan pada Britney. Akhirnya Britney kembali. “Circus” mengingatkan saya akan album-album awal Britney, “Baby One More Time” dan “Oops... I Dit It Again”, dimana waktu itu ia masih “polos”.

“Circus” segera mendapat sambutan masyarakat. “Circus” langsung mendepak T.I “Live Your Life” di posisi pincak. Minggu pertamanya di Billboard 200, “Circus” terjual 505.000 kopi. Ini membuat Britney menjadi satu-satunya artis dengan 4 album debut dengan lebih dari 500.000 kopi penjualan sepanjang sejarah Nielsen SoundScan. Setelah 4 minggu di Billboard, “Circus” terjual sebanyak 1,1 juta kopi. Hits “Womanizer” sukses mendudukki peringkat tiga Billboard Hot 100, debut pada posisi 3. Di UK, “Circus” debut pada posisi 4. Penampilan Britney di UK, dalam satu episode “The X Factor” (Acara talent search yang menghasilkan Leona Lewis dan Shayne Ward), ditonton sebanyak 12, 8 juta orang, menjadi episode yang paling banyak di tonton. 

Dibandingkan dengan “I Am... Sasha Fierce” yang mencapai angka 1,6 juta kopi penjualan setelah bertengger 6 minggu di Billboard – itupun dengan fluktuasi peringkat – sepertinya antusiasme dunia lebih jatuh kepada Britney. Di UK, Sasha Fierce debut pada posisi 10, peringkat terendah dari semua album Beyoncé di Inggris, meski kemudian mendapatkan platinum oleh BPI (provider UK Albums Chart). Secara keseluruhan penjualan album Britney yang diatas Beyoncé (termasuk ketika bergabung dengan Destiny’s Child) mengindikasikan antusiasme dunia terhadap si Miss Toxic ini.

Dalam hal akting, Beyoncé unggul jauh diatas Britney. Sang R & B Queen ini sukses memerankan sejumlah film, hingga akhirnya dinominasikan untuk Golden Globe Awards. Beyoncé mengukuhkan eksistensinya sebagai salah satu “artis serba bisa”, dengan memerankan tokoh di sejumlah film, sebut saja “The Pink Panther” dan “Dreamgirls” (2006), serta “Cadillac Records” (2008). Lewat “Dreamgirls”, Beyoncé mendapat 2 nominasi Golden Globe 2007, untuk Best Original Song (“Listen”) dan nominasi ketiga didapatkannya lewat “Cadillac Records”. Kemunculan Britney di “Crossroads” (2002), malahan membuatnya mendapat Razzie Awards untuk aktingnya yang buruk. Sepertinya akting memang bukan “core” Britney. Ia hanya mendapat peran cameo di sejumlah serial TV di Amerika.

Selanjutnya, mari kita tengok masalah Grammy. Tahun 2004, Beyoncé menyabet 5 penghargaan Grammy Awards sekaligus untuk “Dangerously In Love 2”. Di Grammy Awards 2007, Beyoncé kembali menyabet 5 kategori, termasuk “Best Contemporary R & B Album” untuk B’Day. Sedangkan Britney, disepanjang kariernya, hanya mendapatkan 1 Grammy untuk kategori Best Dance Recording di Grammy Awards 2002. Apakah ini berarti sesuatu? Untuk ajang sebergengsi Grammy, kenyataan bahwa artis sekaliber Britney baru sekali menyabet penghargaan ketimbang Beyoncé yang sudah “mengkoleksi” pialanya, adalah sesuatu yang ironis. Grammy Awards melihat sisi musikalitas sang penyanyi, tanpa peduli seberapa tenarnya ia. Dengan demikian, secara gamblang dapat disimpulkan kalau musikalitas Beyoncé lebih daripada Britney.

Kesimpulan yang dapat diambil yaitu: Britney Spears unggul dalam hal ketenaran dan penjualan album dibandingkan Beyoncé Knowles. Sedangkan untuk masalah musikalitas, Beyoncé Knowles lebih “diakui” daripada Britney Spears. Hal ini bukan semata-mata nge-“judge” kalau musikalitas Britney “kacangan” dibandingkan dengan Beyoncé. Sekali lagi perlu diingat kalau musik adalah bagian dari seni. Seni itu adalah sesuatu yang sangat subyektif. Apa itu keindahan? Saya bisa saja mengatakan Monalisa adalah lukisan yang jelek – meski itu artinya saya harus berhadapan dengan entah berapa juta orang yang berang mendengar opini itu – tapi itu tetaplah opini. Semacam sharing, yang bukan untuk diperdebatkan, tapi hanya sebagai “just to know” saja. Lagu-lagu Britney bisa “bernilai tinggi” bagi sejumlah orang yang berpendapat demikian. Itu toh selera masing-masing.

Begitu juga masalah ketenaran dan popularitas. Mungkin saat ini, Britney masih lebih tenar ketimbang Beyoncé, tapi itu bukanlah sesuatu yang mutlak. Ini juga (mungkin) karena Britney lebih dulu “shown-up” ketimbang Beyoncé, sehingga wajar saja orang lebih dulu mengenalnya. Mau masalah siapa yang lebih tenar, itu urusan belakangan. Yang penting kedua Diva ini sukses menunjukkan diri mereka pada dunia. Akhirnya mereka dikenal, begitu istilahnya. Inilah point terpenting bagi saya. Dengan bakat yang begitu marvellous, bukankah sayang kalau hanya dipendam begitu saja? Kedua Diva ini menjadi contoh yang baik dalam hal mengembangkan bakat dan kemampuan.

Mengenai citra diri, Britney memang sudah terlanjur “pernah dilabelli ‘kacau’”, sedangkan Beyoncé bisa dikatakan memilikki citra diri yang cukup positif (meski ada juga yang menjadikan Beyoncé sebagai simbol seks). Menurut saya, ini kembali ke pribadi. Setiap orang bisa mendapatkan masalah seperti Britney, atau bahkan lebih berat daripada itu. Yang terpenting adalah, bukan seberapa lama kita tenggelam dalam masalah itu, tapi apa yang kita lakukan untuk keluar dari masalah dan mencoba bangkit! Dalam kasus ini, Britney sukses menjadi contoh yang baik. Ia berhasil bangkit, dan sekarang dalam proses “memutihkan” citra dirinya.

Review ini saya buat bukan untuk menjelek-jelekkan entah Britney Spears maupun Beyoncé. Saya adalah fans setia keduanya. Ini dibuat hanya sebagai Kaleidoscope saja. Kenyataan bahwa kedua Diva ini, yang dilihat orang memilikki hampir segalanya, toh masih saja memilikki kekurangan. Tapi mereka berhasil menutupi kekurangan mereka dengan bakat yang mereka milikki. Itulah yang terutama.