KALEIDOSCOPE: MENGAPA SAYA BUKAN TOM CRUISE?

Sejumlah alasan mengapa saya bahagia bukan dilahirkan sebagai seorang Tom Cruise.

Saya yakin sekali pertanyaan ini bukan hanya saya yang menanyakannya, tetapi juga Anda. Mungkin Anda sekarang berkata, “Nggak kok, aku nggak pernah nanya seperti itu!” Saya yakin Anda pasti pernah bertanya – atau minimal berpikir-lah – seperti itu. Oke, sekarang siapa selebriti favorite Anda? Angelina Jolie? Johnny Deep? Dewi Perssik? Silakan ganti pertanyaan-nya menjadi, “Mengapa saya bukan (... – pilih sendiri idola Anda)?” Nah, dengan demikian, toh Anda pernah menanyakan pertanyaan seperti itu.

Ketika saya menanyakan pertanyaan “Maukah Anda seperti selebriti-selebriti Hollywood?” kepada sejumlah orang, spontan mereka mengatai saya gila tanpa menjawab terlebih dahulu. Jawaban yang saya dapat adalah “Gila lo! Pasti mau-lah!” Jelas. Saya juga mau. Siapa sih yang nggak mau seperti mereka? Dikenal oleh seluruh dunia, punya uang yang cukup banyak untuk tujuh keturunan dikali tujuh, punya paras yang cakep dan tubuh yang sempurna, bisa membeli hampir semua hal yang mereka ingini. Nggak perlu capek nunggu angkot di pinggiran jalan karena pasti dijemput pakai limusin. Atau nggak naik jet pribadi. Nggak perlu ngantri masuk bioskop atau bandara, karena pasti sudah disediakan Red Carpet. Nggak perlu berdesak-desakkan untuk belanja, karena toko manapun pasti rela “dikosongkan untuk sementara waktu” kalau saya berkunjung. Nggak perlu capek-capek ke pasar buat masak, karena tinggal angkat telepon, pasti menu restoran bintang lima pasti segera siap. Nggak perlu nunggu departemen store ngasih diskon buat beli outfit vintage yang selama ini kita idam-idamkan, karena desainer-desainer kelas dunia pasti mau mendesaikan baju yang pastinya branded buat kita. Nggak perlu bingung cari tempat liburan yang murah meriah, karena bisa beli pulau sendiri dan disulap menjadi tempat superlux. Nggak perlu bingung dan grogi mikirin cara membuat cewek/cowok yang kita taksir menyukai kita, karena mereka pasti jatuh ke pelukan kita juga.

Semua hal tersebut, jelas sangat “menyilaukan” mata. Jujur sebagai manusia, saya juga menginginkan semua hal itu. Tapi saya punya sejumlah alasan mengapa saya bahagia tidak menjadi salah satu dari selebriti Hollywood itu.

Pertama, saya bahagia tidak seperti Tom Cruise karena saya tidak perlu terlalu memusingkan bagaimana saya harus tampil. Saya tidak perlu baju-baju bermerek yang harganya cukup buat kredit mobil hanya untuk ke kampus. Cukup pakai baju yang sopan dan rapi. Toh saya tidak diikuti paparazzi. Toh saya tidak dibuntuti kamera tersembunyi kemana pun saya pergi. Bahkan jika saya pakai baju robek sekalipun, saya nggak bakal jadi headline majalah Rolling Stones atau Seventeen. Saya nggak perlu repot ngurusin muka setiap detik, takut kena debu kalau naik motor, takut ini-itu dan lain sebagainya kalau berada di luar ruangan. Meski wajah saya berlumuran lumpur sekalipun, saya nggak bakal di ekspos sampai ke Star Magazine. Saya nggak perlu pakai payung bahkan hanya untuk ke parkiran seperti Michael Jackson, karena takut “kena radiasi matahari”... Tapi bukan berarti saya tidak perlu merawat diri. Saya bersyukur dikasih tubuh seperti ini – tubuh yang tidak seperti Tom Cruise ini – karena biar bagaimanapun, Tuhan sudah sangat baik mau “meminjamkan” saya “media” untuk eksis di dunia. Minimal, saya dikenal, begitu...


Kedua, saya bahagia karena tidak sekaya Tom Cruise. Alasannya sederhana saja. Jelas nggak ada yang mau menculik saya kalau lagi nunggu angkot di pinggir trotoar. Mau minta tebusan berapa juta dollar? Penculik pun mikir dua kali untuk menculik saya. (Meski sebenarnya saya agak ragu mengenai hal ini untuk kasus di Indonesia). Saya bahagia karena tidak terlalu pusing memikirkan aset ketika dollar naik, turun, naik-turun, atau statis sekalipun. Tidak terlalu ketakutan memegang dompet, takut kartu kreditnya yang selusin jatuh selembar dan dicuri orang. Nggak perlu pusing mikir, mau di simpan di bank mana uang saya ini. Cukup masuk bank saja. Takut dicopet dan sejenisnya juga. Toh saya nggak bawa uang berjuta-juta hanya untuk belanja. Paling cukup untuk ongkos saja, sisanya saya simpan di tempat rahasia yang hanya saya sendiri dan Tuhan yang tahu. Saya bahagia karena uang saya tidak sebanyak Tom Cruise, karena dengan demikian, saya hanya membayar pajak dengan jumlah yang kecil, bukan dengan jumlah yang “membelalakkan mata”, sehingga saya harus menghindari pajak dan gagal menjadi warga negara yang baik. Yang penting saya berkecukupan, dalam artian punya uang dalam jumlah yang cukup untuk tetap mempertahankan ke-eksistensian saya di planet ini. Itu saja kok....


Ketiga, saya bahagia karena tidak harus memerankan film dengan baik seperti Tom Cruise. Kalaupun saya mendapat kesempatan itu, toh tak ada yang bakal mempermasalahkan akting saya karena saya kan “pendatang baru”. Tidak seperti si Tom Cruise. Sedikit akting jelek saja, maka bisa pasti langsung dicecar media dan kritikus film. Dengan demikian, saya tidak perlu terbebani harus “perfect” dalam menjalani profesi saya. Yang perlu saya lakukan hanyalah berusaha menunjukkan yang terbaik. Bukan berarti pula saya tidak perlu mengusahakan best-performance. Yang penting saya enjoy apa yang saya lakukan, dengan demikian hasilnya pun pasti akan baik.

Keempat, saya bahagia tidak menjadi Tom Cruise, karena dengan demikian saya bisa belajar yang namanya privacy. Ini salah satu hal yang tidak enak menjadi selebriti, dimana hampir segala kegiatan bisa diliput media kapan saja, dimana saja, bahkan tanpa kita ketahui sekalipun. Saya bisa hidup tenang tanpa perlu harus khawatir kalau saya melakukan ini, nanti bakal menjadi bahan gosip di media. Pada sejumlah infotainment di Indonesia, misalnya, bahkan hal baik-baik yang dilakukan oleh seorang selebriti bisa menjadi gunjingan tidak sedap. Saya bisa menjalani kehidupan pribadi saya. Saya bisa bergaul dan berteman dengan siapa saja, tanpa perlu takut akan ada bisik-bisik tidak enak di belakang saya. Contohnya, saya bisa berpacaran dengan orang yang saya sukai, tanpa perlu was-was dengan kehadiran selusin mic dan kamera di depan saya yang mempertanyakan mengapa saya menyukai si ini atau si itu. “Damai” itu penting lho... Ini yang (mungkin) tidak dimilikki si Tom Cruise dalam kasusnya sebagai selebriti dunia.

Kelima, saya bahagia tidak dilahirkan sebagai seorang Tom Cruise, karena dengan diri saya yang sekarang ini, saya bisa melihat sisi lain kehidupan. Saya tidak tinggal dalam istana mewah dan kehidupan glamor Baverly Hills, sehingga bagi saya, dunia tidak hanya seruang lingkup Hollywood saja. Saya masih bisa ke pasar tradisional, atau menyusuri jalan-jalan kota dengan angkot – bukannya dengan helikopter – dan menjumpai orang-orang yang kurang beruntung dari saya. Saya masih bisa menjumpai mereka, dengan demikian, saya akan merasa sangat bersyukur atas apa yang saya terima sejauh ini. Ini akan menimbulkan efek “bersyukur” yang luar biasa. Saya akan sadar bahwa kehidupan saya sudah sangat berkelimpahan jika dibandingkan dengan orang-orang yang bisa saya jumpai di pinggiran jalan.

Keenam, saya bahagia tidak dilahirkan sebagai seorang Tom Cruise, karena jika saya menjadi dirinya, maka saya tidak akan tinggal di Indonesia ini, dengan orang-orang yang menyenangkan di sekitar saya. Saya tidak akan tinggal di tengah-tengah keluarga yang sangat menyayangi saya, teman-teman dan pembimbing yang selalu menemani dan mendukung saya. Saya sangat bahagia untuk hal ini. Bayangan jika dilahirkan sebagai seorang Tom Cruise kadang membuat saya agak ngeri juga – saya tidak akan pernah bertemu orang-orang luar biasa yang telah ditempatkan Tuhan di sekeliling saya sekarang. Ini merupakan salah satu hal yang sama sekali tak tergantikan.


Sebenarnya, saya cuma ingin bilang, kita sebaiknya bersyukur atas apa yang kita terima sekarang ini. Kalaupun kondisi kita sekarang ini amat-sangat-terlalu buruk untuk disyukuri, lihat sisi positifnya. Carilah sisi positifnya. Pasti ada kok. Kalau tidak ketemu, mungin Anda tidak mencarinya dengan betul-betul. Kondisi sekarang ini menempatkan kita pada posisi di tengah, antara “langit yang penuh bintang” dan “tanah yang lembab dan banyak ilalangnya”. Sekarang, kemana kita akan mengarahkan pandangan? Ke atas kah? Pastilah kita akan selalu merasa kurang, kita akan selalu protes, kok hidup saya kayak gini, nggak kayak gitu.... Maka seruan “Tuhan itu nggak adil” sudah pasti akan terucap. Beda halnya kalau kita menundukkan kepala. Minimal, seruan yang terlontar adalah; “Wah, untung gue nggak kayak gitu!” Dengan demikian kita bisa lebih bersyukur lagi.

Tetapi, bukan berarti menjalani kehidupan seperti Tom Cruise adalah sebuah kesalahan. Saya hanya ingin menunjukkan kalau kehidupan super-sempurna ala selebriti Hollywood pun ada kelemahannya. Lantas, apa kita harus “nurut” saja dengan kondisi sekarang ini? Tentu tidak. Kita harus stand-up dalam kondisi apapun, dan mengusahakan “better tomorrow”. Bercita-cita menjadi seperti Tom Cruise, sah-sah saja. Mengidamkan hal yang lebih baik bukanlah sesuatu yang jahat atau buruk. Hanya saja, keinginan itu jangan sampai membutakan mata kita sehingga kita merasa kurang terhadap kondisi kita seperti sekarang ini dan mulai mengasihani diri sendiri. Saya sendiri bercita-cita menjadi seorang selebriti. Tidak terlalu buruk juga, bukan?