BEYONCE, BRITNEY DAN HAGEMONI MUSIK

Sebenarnya sulit bila harus mempertemukan Britney dan Beyonce dalam sebuah ajang pertarungan, mengingat keduanya datang dari genre musik yang berbeda, generasi pencapaian yang berbeda serta memiliki fan base masing-masing. Akan tetapi dalam memperebutkan takhta atau posisi tertinggi dalam dunia musik, kita tidak pernah mengenal genre, generasi ataupun fans. Apa yang diperebutkan adalah global dan semua penyanyi dari semua genre dan generasi dapat ikut serta dalam arena.

Satu hal lain yang menjadi kendala adalah biasanya persaingan sengit timbul secara lokal, artinya hanya terjadi dalam satu genre yang sama. Sudah tidak terdengar asing bila Britney Spears bersaing ketat dengan Christina Aguilera atau Jessica Simpson, dan Beyonce bersaing ketat dengan Rihanna. Hal lain adalah persaingan terjadi dalam satu generasi. Rasanya sangat sulit dan berat bila Beyonce harus bersaing dengan Mary J. Blige, atau Britney versus Madonna (yang terjadi adalah Britney featuring Madonna dalam beberapa kesempatan). Jadi, apa maksud dari “Persaingan Musik secara Global ?”

Grammy Award adalah ajang penghargaan musik tertinggi dimana salah satu nominasinya diikuti oleh semua penyanyi dari berbagai genre dan generasi, yakni “Record of The Year”. Disini dibuktikan musikalitas seorang artis dalam menciptakan sebuah rekaman yang benar-benar berbobot namun tetap memiliki nilai jual. Ajang Grammy Award tak pernah memperdulikan aspek komersialitas; mereka menitik-beratkan aspek musikalitas dalam memberikan penghargaan. Tak pelak kadangkala nominasi-nominasinya terdiri dari musisi-musisi dan artis “tak bernama” karena kurang dikenal oleh umum namun memiliki musikalitas yang gemilang.
Meskipun demikian, tak berarti semua penyanyi nominasi Grammy tak mempunyai nama besar. Beyonce adalah salah satu dari mereka yang telah menorehkan namanya dalam berbagai penghargaan,termasuk Grammy,dan juga tak lupa pada tangga lagu Billboard sebagai barometer musik komersial.



Beyonce Knowles memulai karir sebagai anggota grup vokal “Destiny’s Child”. Ayahnya, Matthew Knowles membidangi grup gadis-gadis cilik ini hingga rela meninggalkan 6 pekerjaannya untuk konsentrasi kepada grup. Mereka memulai debut pada tahun 1996 dengan single “ No, No, No “. Dibawah naungan Columbia Records, Destiny’s Child seketika melejit dan menjadi populer. Pada masa-masa terakhir grup ini, para personilnya memutuskan untuk bersolo karir. Beyonce kemudian dengan segera menjadi superstar setelah merilis album debutnya, “Dangerously In Love”. Menyusul kemudian “B’day” yang mencetak angka penjualan fantastis di seluruh dunia. Album ketiga bertajuk “I Am… Sasha Fierce” makin mengukuhkan Beyonce sebagai Top Selling Female Artist.

Apa yang membuat Beyonce begitu spesial ? Dari segi musik Beyonce memang tak perlu diragukan lagi. Ia bagaikan “motor pencetak hits yang memiliki onderdil sempurna”, dimana kemampuannya dalam menciptakan,memproduksi dan membawakan karyanya patut diacungi jempol. Bakat ini mulai terlihat sejak masih tergabung dalam Destiny’s Child. Dalam setiap lagunya Beyonce selalu memberikan hook, yakni bagian lagu yang begitu khas dan merupakan ciri identifikasi utama lagu tersebut, berfungsi sebagai alat pelekat kepada pendengar sehingga kita dengan mudah dapat mengingat lagu tersebut. Kebanyakan lagu tidak memiliki hook, namun Beyonce selalu menempatkan hook dalam lagunya bahkan terkadang terdapat lebih dari satu hook dalam sebuah lagu. Pertanyaan penting: mengapa kita teringat akan Beyonce ketika lagu “Crazy In Love”, “Irreplaceable” atau “Single Ladies” diputar ? Alasan pertama, karena hook yang diberikan Beyonce sukses melekat di pikiran kita, dan kedua, karena kepiawaian Beyonce dalam membawakannya.

Beyonce membawakan lagu-lagunya dengan sangat memperhatikan faktor emosional. Seperti ciri penyanyi R&B lainnya, emosi merupakan jiwa dari setiap lagu. Emosi adalah nafas dan hidup lagu, dimana lagu menemukan maknanya dan mampu menyalurkan pesannya secara emosional kepada pendengar lewat kondisi emosional yang diciptakan oleh si penyanyi; yang membuat perbedaan adalah teknik dan warna suara tersendiri yang dimiliki oleh setiap penyanyi. Hal pertama, yakni teknik vokal, telah dikuasai benar oleh Beyonce. Penyanyi seperti Beyonce adalah satu dari sekian dengan teknik vokal yang tinggi. Saya mengacungi jempol akan teknik pernafasan dan powering yang dimiliki Beyonce ketika tampil di atas panggung. Sungguh sulit mengatur pernafasan sambil membawakan koreografi dan menyanyi ! Ditambah lagi mengontrol kekuatan suara dan emosi sehingga lagu yang dibawakan tetap terjaga dari segi alur: naik-turunnya sebuah lagu serta emosi lagu secara keseluruhan. Hal ini berkaitan erat dengan makna dan pesan yang akan disampaikan. Beyonce memiliki segalanya, dan kunci keistimewaannya terletak disitu.

Bagaimana dengan kehidupan pribadi yang sering menjadi bahan perbincangan publik dan bulan-bulanan media massa ? Beyonce adalah seorang artis profesional yang mampu menjaga hal-hal pribadinya sehingga tidak menjadi santapan media massa. Publikasi juga sering menjadi alat pendorong popularitas, namun Beyonce dengan sikap profesionalnya sebagai seorang artis tidak menggunakan cara ini demi mendongkrak popularitasnya. Beyonce tahu, dia sudah punya cukup nama dan cukup usaha untuk menambatkan namanya di hati dan pikiran setiap penggemar,paling tidak dengan cara yang lebih terpuji dan positif, dan publikasi perihal sesuatu yang sifatnya pribadi tidak diperlukan lagi; meskipun kadangkala kehidupan pribadi Beyonce terekspos oleh media. Apalagi perihal kehidupan asmaranya dengan rapper kondang Jay-Z. Hal penting yang dapat dipetik dari perilaku Beyonce adalah “bersikap profesional dan jangan biarkan media menggerogoti kehidupan pribadi anda!”

Apa kabarnya dengan pop princess, Miss Britney Spears ? Sepertinya tak ada hal lain yang mampu diingat mengenai Britney kecuali tingkah lakunya yang makin tidak karuan (kami benci Britney botak !). Belakangan kehidupan Britney Spears seperti roller coaster yang sedang menukik turun dari ketinggian 150 kaki: jatuh dan terhempas. Akan tetapi usahanya untuk kembali eksis patut kita acungi jempol karena hit single “Womanizer” mampu menjadi #1 hit dari Britney setelah 10 tahun yang lalu dia melakukan hal yang sama (mencetak #1 hit, red.). Apakah Britney mencoba aksi reborn ?

Mari kita kembali ke tahun 1997 yang penuh hingar-bingar kultur pop dan musik kultur ini mampu merambah hingga ke pelosok. Gadis remaja berusia 17 tahun dari Kentwood, Louisiana tiba-tiba menghentak jagat raya dengan “vokal yang segar, muda dan penuh semangat” dalam lagu “ Baby..One More Time”. Semua orang masih ingat bagaimana Britney tampil sebagai anak sekolahan berseragam seksi yang tidak mempunyai niat belajar sedikit pun (sikap kebanyakan kalangan muda) dan saat bel berbunyi keluar dari ruang kelas dan menari di koridor. Sungguh tipikal seorang Britney! Tentu saja awal karirnya yang sedemikian cemerlang menghantarkan Britney ke puncak popularitas dengan cepat, secepat roller coaster. Ia tidak menyadari bahwa rel di depannya berbentuk turunan tajam dan di luar dugaan.

Popularitasnya terus naik, sembari Britney meluncurkan album-albumya. Puncaknya, single “Toxic” berhasil meraih Grammy untuk “Best Dance Song”. Sebelumnya Britney telah dinominasikan sebagai “Best New Artist” pada awal karirnya namun sungguh sayang Christina Aguilera yang masuk dalam nominasi yang sama dengan “Genie In A Bottle” berhasil menyerempet dan membawa pulang gramophone emas. Selepas “Toxic” Britney pun mulai menukik turun seiring rel roller coaster yang ditumpanginya. Kehidupan pribadinya yang kacau dengan K-Fed (Kevin Federline) dalam reality show “The Chaotic Life” benar-benar merupakan pukulan dahsyat bagi karir Britney. Sepertinya saya tak perlu mengungkapkan lebih banyak mengenai kehidupan Britney yang serba kacau karena pemberitaan media sudah cukup untuk beban yang harus dipikulnya. Britney Spears, 27 tahun, telah mengalami semua hal dalam hidup, dalam usianya yang belum menginjak 30!


Sebagai debut gadis remaja berusia 17 tahun, Britney membawakan lagu-lagu pop manis dengan jiwa mudanya yang bersemangat dan penuh warna. Seiring berjalannya waktu, musik Britney mulai mengalami transformasi. Lagu-lagu pop innocent yang pernah dibawakannya diganti dengan music dance yang lebih dewasa, dengan melodi dan lirik yang “dewasa”. Saat merilis album “Britney”, musik pop tetap diusungnya namun dengan sentuhan dance dan disco dan elektrik disana-sini. Ditambah pula image yang dibawakannya mencerminkan Britney sebagai gadis yang telah tumbuh namun belum dewasa, seperti pada lagunya “I’m Not A Girl, Not Yet A Woman”. Britney masih dalam tahap peralihan yang luar biasa. Ketika album keempatnya, “In The Zone” dirilis, Britney memang telah menunjukkan kematangannya baik sebagai seorang penyanyi maupun dalam hal musik. Apa yang dibawakannya terlihat sangat mantap dan proses transformasinya berjalan sempurna. Tak diragukan lagi album ini mencetak kesuksesan baik secara musik maupun komersial.

Pembawaannya di atas panggung yang berani dan enerjik menimbulkan citra tersendiri bagi diri Britney. Citranya telah berubah pesat setelah dia merilis album ketiganya, “Britney”. Dengan lagu “I’m A Slave 4 U” Britney membuka cakrawala baru dalam peta musik dimana kultur pop ditanggalkan dan sebagai gantinya musik dance penuh gairah dan kematangan menjadi senjata untuk mencetak hits. Usaha ini terbukti ampuh dimana pada akhirnya banyak bermunculan penyanyi cewek dengan tema musik serupa, bahkan Jessica Simpson akhirnya mengikuti arus trend musik ini !

Sayangnya, mencapai puncak kesuksesan pada usia yang masih sangat muda membuat Britney tidak siap secara mental. Dalam biografinya, “Britney: An Unauthorized Biography” diungkapkan bahwa Britney tidak siap dengan segala pencapaiannya, bahwa debutnya mampu mengantarnya ke puncak popularitas dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini membuat kehidupan pribadinya di kemudian hari menjadi porak poranda, tidak karuan dan jauh dari citra seorang diva sejati.

Sekarang mari kita membandingkan antara keduanya: Beyonce dan Britney. Keduanya sama-sama tenar dan menjadi ikon berbagai produk. Bahkan mereka menciptakan produk sendiri dengan label mereka juga. Keduanya bermain film dan sukses. Beyonce dan Britney sama-sama menciptakan angka penjualan album yang fantastis, menggelar konser-konser akbar tersukses, dan merajai tangga lagu Billboard dan dunia selama berminggu-minggu. Keduanya mampu tampil enerjik dan menggoda diatas panggung, dan keduanya suka menari ! Semua orang pasti setuju apabila Britney dan Beyonce sebenarnya telah, dan pernah, mencapai puncak kesuksesan dalam musik. 

Keduanya telah mencetak #1 hits dan telah memperoleh Grammy: apalagi yang dibutuhkan ? Sangat sederhana dan singkat, yakni profesionalitas. Ya, sikap profesional dalam menangani karir, mengatur keselarasan antara kehidupan pribadi dengan kehidupan di bawah lampu sorot, membawa diri, sikap keartisan, dan melayani publik. Apa yang membuat Beyonce jauh dari segala pemberitaan miring namun tetap dapat mencetak hits? Mengapa Britney begitu sensasional dan berkali-kali masuk dalam Yahoo Top Search? 

Jawabannya adalah profesionalisme masing-masing mereka. Namun seperti apa profesionalisme keartisan sesungguhnya ? Apakah seperti yang dimiliki Beyonce yang lihai mengatur jarak antara profesi dan pribadi; atau Britney yang masih mampu tampil sempurna meskipun dalam hatinya ia menangis ? Jenis yang dibutuhkan adalah keduanya, karena pada dasarnya profesionalisme keartisan bukan tergantung apa yang diperbuat melainkan cara kita membuatnya. Mungkin saja Britney masih bisa tampil sempurna, namun berkali-kali ia tertangkap kamera sedang menangis dan meratapi nasib sambil duduk di trotoar dan memeluk Chihuahua. Berkali-kali pula ia tertangkap melakukan tindakan senonoh, dan berkali-kali pula Britney diberitakan media sedang menjalani rehabilitasi atau masuk penjara. Bukan seperti ini yang dimaksud. Atau mungkin Beyonce, yang meskipun mampu mengatur jarak dengan publik akan tetapi dalam setiap aksinya ia melakukan hal yang di luar batas (seperti band-band rock tahun 70an yang gemar melakukan aksi panggung gila-gilaan dengan melempar air seni ke arah penonton), atau memukul, mengejar dan mengumpat wartawan atau paparazzi (Sienna Miller dan Michael Jackson ahlinya)? 

Bukan juga seperti itu. Buktinya Beyonce tak pernah melakukan hal-hal seperti yang telah disebutkan, karena ia tahu persis bagaimana profesionalisme harus diterapkan. Britney, meskipun mampu dan memiliki kapabilitas dalam menjalankannya, namun pada akhirnya luntur karena tak kuasa menahan tekanan. Perlu dipahami, Britney “memperoleh semuanya” ketika ia masih sangat muda, dan telah “menjalankan semuanya” pada saat yang tidak seharusnya. Bisa dikatakan, karbitan.